Bursa Efek Indonesia (BEI) akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Juni 2026, sebuah momen krusial yang akan menetapkan jajaran direksi baru untuk periode 2026–2030. Menjelang agenda penting ini, spekulasi mengenai kandidat potensial semakin menghangat. Sejumlah nama besar dari berbagai segmen industri pasar modal, bahkan hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kini santer diperbincangkan sebagai calon pengisi posisi direksi utama BEI. Berdasarkan laporan Katadata.co.id, setidaknya sudah ada lima paket nama kandidat direksi yang mengemuka.
Menanggapi dinamika ini, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, mengungkapkan linimasa penting terkait proses seleksi. Ia menyebutkan batas akhir pengajuan kandidat untuk direksi Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) adalah 27 April. Sementara itu, untuk posisi direksi BEI, batas akhir pengajuan paket calon oleh Anggota Bursa (AB) ditetapkan pada 4 Mei 2026. Hasan Fawzi menambahkan bahwa struktur direksi BEI akan diisi oleh tujuh individu dengan beragam kompetensi. Setiap posisi dalam jajaran direksi membutuhkan keahlian khusus yang sangat relevan dengan fungsi operasional bursa.
“Tentu ada posisi yang berfokus pada perdagangan, sehingga membutuhkan ahli di bidang mekanisme dan penyelenggaraan perdagangan,” jelas Hasan Fawzi, dikutip Sabtu (18/4), menggambarkan spektrum keahlian yang dicari. Seiring dengan dibukanya masa pendaftaran, beberapa nama mulai mengemuka dan menarik perhatian publik. Di antara kandidat-kandidat tersebut, terdapat Mantan Direktur Investasi BPJS Ketenagakerjaan, Edwin Ridwan. Ada pula Laksono Widodo, yang sebelumnya menjabat Direktur Utama PT BRI Danareksa Sekuritas, serta Fifi Virgantria, Plt. Direktur Utama perusahaan yang sama.
Perebutan kursi pimpinan tertinggi BEI ini juga melibatkan Jeffrey Hendrik, yang saat ini menjabat Penjabat Sementara (PJS) BEI menggantikan Iman Rachman. Kandidat lainnya yang tak kalah menonjol adalah Iding Pardi, yang merupakan Direktur Utama Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), serta Oki Ramadhana, Presiden Direktur Mandiri Sekuritas. Profil-profil ini merefleksikan beragam pengalaman kepemimpinan di sektor keuangan.
Yang menarik, daftar calon direksi ini juga menyertakan satu nama unik yang berasal dari luar lingkaran bursa konvensional, yaitu Wuddy Warsono dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia. Berdasarkan data LinkedIn-nya, Wuddy Warsono saat ini memegang posisi sebagai senior advisor di holding investasi Danantara sejak Juli 2025. Ia diketahui bertugas di bawah arahan Chief Investment Officer (CIO) atau Pelaksana di Bidang Investasi, Pandu Patria Sjahrir.
Baca juga:
- Harga 3 Jenis BBM Pertamina Naik Mulai Hari Ini, Ini Rincian Lengkapnya
- Ribuan Buruh akan Demo di DPR saat Mayday, Tagih Enam Janji Pemerintah
- Data Pengembang Game Diduga Bocor Imbas IGRS, Pakar IT Sarankan Dikelola Ahli
Deret nama yang masuk dalam kandidat direksi BEI
Paket Edwin:
Edwin Ridwan
Feb Sumandar
Gurasa Siagian
Suryadi
Freddy Hendradjaja
Aji Sudarmaji
Yohanes Arts Abimanyu
Paket Laksono:
Laksono Widodo
Fifi Virgantria
Heru Handayanto
John Tambunan
Donny Arsal
Lidia M. Panjaitan
Saidu Solihin
Paket Jeffrey:
Jeffrey Hendrik
Irvan Susandy
R. Haidir Musa
Irwan Abdalloh
R.M. Irwan
Abdul Munim
Atep Salyadi Dariah Saputra
Paket Iding:
Iding Pardi
Zaki Mubarak
Yulianto Aji Sadono
Umi Kulsum
Ahmad Subagja
Yohannes Liauw
Andre Tjahjamuljo
Paket Oki:
Oki Ramadhana
Wuddy Warsono
Stephanus Turangan
Bernardus Sumarno
Poltak Hotradero
Syafrudin
Yoga Mulya
Mengenai paket-paket calon direksi yang beredar, Hasan Fawzi sebelumnya menegaskan bahwa proposal tersebut belum secara resmi diajukan kepada OJK. Ia menjelaskan bahwa proses pencalonan selanjutnya akan mempertimbangkan proporsi aktivitas Anggota Bursa (AB) dibandingkan dengan emiten di pasar modal hingga akhir Maret 2026. “Kami akan memberikan guidance berdasarkan angka statistik satu tahun ke belakang per akhir Maret, yang akan menjadi acuan bagi perusahaan efek dalam mengajukan paket calon,” jelas Hasan kepada wartawan di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, pada Rabu (25/3).
Lebih lanjut, Hasan juga mengumumkan batas akhir pengajuan paket calon direksi BEI oleh Anggota Bursa (AB) jatuh pada 4 Mei 2026. Ia menekankan pentingnya setiap AB yang mengusulkan kandidat untuk melakukan telaah mendalam terhadap paket yang diajukan sebelum diserahkan. Setelah itu, OJK akan membentuk panitia seleksi (pansel) khusus untuk memproses pencalonan direksi BEI. Hasan juga memberikan jaminan bahwa proses demutualisasi bursa yang sedang berlangsung tidak akan mengganggu tahapan seleksi direksi ini. “Pada saat demutualisasi nanti berjalan, kami tentu akan melakukan penyelarasan yang diperlukan,” pungkas Hasan.