Dari jelantah ke avtur: Inisiatif warga ini bisa jadi solusi krisis energi

Sebelumnya tak terpikir oleh Djoko Budi Setiawan, minyak jelantah bisa jadi penolong dalam masalah krisis avtur. Sejak Oktober 2025, Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kelurahan Pulo, Jakarta Utara, ini menginisiasi pengumpulan minyak jelantah untuk dijual ke pengepul. Inisiatif tersebut kemudian dia tularkan ke koperasi lainnya.

Advertisements

Saat memulai program itu, Djoko menjelaskan, tujuannya sederhana yaitu agar minyak jelantah tidak dibuang sembarangan dan mencemari lingkungan. “Waktu itu situasinya tidak terjadi seperti sekarang di Timur Tengah, awalnya tidak kepikiran sampai situ (berguna untuk campuran avtur),” kata dia kepada Katadata, beberapa waktu lalu. 

Setiap bulan, koperasi pimpinan Djoko bisa mengumpulkan lebih dari 350 liter minyak jelantah dari 44 RT. Koperasi membeli minyak jelantah dari warga dengan harga Rp6.000 per liter, kemudian dijual ke pengepul dengan harga Rp9.000 per liter. Selisihnya merupakan keuntungan bagi koperasi.

Djoko mengatakan terus berusaha mempromosikan program ini kepada pengurus koperasi Merah Putih lainnya. Saat ini, sudah ada sekitar 60 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Jakarta dan Bekasi yang membuka ‘bisnis’ pengumpulan minyak jelantah. “Sebulan, kurang lebih kami berpartisipasi mengurangi pencemaran di lingkungan dengan mengumpulkan 4-5 ton (sekitar 4.000-5.000 liter) minyak jelantah,” ucap dia.

Advertisements

Baca juga:

  • Krisis Avtur Eropa: Pasokan dari Amerika dan Bioavtur Jadi Solusi Utama
  • Harga Avtur Melonjak 300%, Maskapai-maskapai Nigeria akan Hentikan Penerbangan
  • Avtur Bergejolak, Jalan Panjang Bioavtur Jelantah Jadi Penolong

Djoko menyebut pencapaian ini baru langkah awal. Sebab, total terdapat 267 kelurahan di Jakarta saja. Jika sebagian besar atau bahkan semuanya bisa ikut mengadopsi program ini, maka pengumpulan minyak jelantah akan lebih masif dan pencemaran lingkungan bisa dicegah secara lebih luas. 

Potensi Jutaan Kiloliter Minyak Jelantah Setahun

Berdasarkan analisis lembaga penelitian independen di bidang sawit, Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS), dengan konsumsi minyak goreng nasional yang mencapai 8,3 juta kiloliter per tahun, Indonesia sejatinya bisa mengumpulkan minyak jelantah sebanyak 3-4 juta kiloliter. 

Minyak bekas menggoreng ini dapat diolah menjadi bahan baku bioavtur atau bahan bakar pesawat berkelanjutan alias sustainable aviation fuel (SAF). Minyak bekas telah diakui menghasilkan emisi rendah sehingga memenuhi standar dalam Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA). 

Mengacu pada standar ASTM D7566 dan D1655 serta panduan International Civil Aviation Organization (ICAO) dan International Air Transport Association (IATA), SAF bisa diproduksi lewat pencampuran avtur dengan bahan berkelanjutan termasuk minyak jelantah sebanyak 50 persen. Komposisi ini dinilai paling aman karena menyerupai avtur murni dan tidak membutuhkan modifikasi mesin. 

Namun, Kajian IPSOSS bertajuk “Perumusan Kebijakan Tata Kelola dan Tata Niaga Minyak Jelantah dalam Mendukung Program Renewable Energy di Indonesia” mengungkapkan terdapat kendala tata kelola dan tata niaga di dalam negeri.

Kendala yang dimaksud antara lain minimnya regulasi nasional yang mendukung, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan infrastruktur pengumpulan, serta ketergantungan pada pasar ekspor. Jadi, masih banyak minyak jelantah yang dikirim ke luar negeri, padahal potensial diolah dulu menjadi produk bernilai tambah di dalam negeri. 

Kajian tersebut juga menyebut soal banyaknya masyarakat yang belum mengetahui program pengumpulan minyak jelantah. Titik pengumpulan pun belum menjangkau masyarakat secara luas. 

Sejauh ini, terdapat beberapa inisiatif proyek pengumpulan minyak jelantah, termasuk dengan memanfaatkan aplikasi digital. Sedangkan subholding Pertamina di bidang hilir perminyakan, PT Pertamina Patra Niaga, yang juga produsen SAF, dilaporkan telah membuka puluhan titik pengumpulan minyak jelantah atau Ucollect box yang tersebar di Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan, Depok, Bandung, Semarang, Surabaya, Gresik, Bali, Palembang, dan Yogyakarta.

Pertamina membeli minyak jelantah dari masyarakat dengan harga kisaran Rp5.000 per liter. Berdasarkan laporan per 31 Desember 2025, terkumpul 154.408 liter dari 5.225 masyarakat yang berpartisipasi mengumpulkan minyak jelantah di Ucollect. 

Saran Lembaga Penelitian untuk Optimalkan Pengumpulan Minyak Jelantah

IPOSS menyarankan agar adanya regulasi khusus yang menetapkan klasifikasi dan standar teknis untuk minyak jelantah. Kemudian, penguatan koordinasi antarlevel pemerintah untuk memperluas infrastruktur pengumpulannya. Selain itu, insentif bagi rumah tangga yang berpartisipasi hingga pendanaan untuk pelaku usaha terkait. 

Sedangkan lembaga penelitian independen di bidang keberlanjutan, Traction Energy Asia, menyarankan skema pengumpulan minyak jelantah dari rumah tangga dan pelaku usaha oleh organisasi masyarakat dan jaringan pengepul, untuk nantinya disetor ke kilang Pertamina. Skema ini disarankan berada di bawah koordinasi dan pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).

Berdasarkan kajian yang dirilis pada 2024, Traction Energy Asia melaporkan potensi besar minyak jelantah dari sektor hotel, restoran dan kafe (horeka), serta industri pengolahan makanan. Potensinya mencapai lebih dari 900 ribu kiloliter per tahun. 

Advertisements