Bos Agrinas ungkap alasan harga barang di Koperasi Merah Putih lebih murah

PT Agrinas Pangan Nusantara menegaskan kehadiran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) bukan untuk bersaing dengan sektor ritel modern, melainkan untuk mewujudkan harga yang lebih adil atau fair price bagi masyarakat desa. Inisiatif ini dirancang untuk menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih berpihak kepada produsen dan konsumen di tingkat lokal.

Advertisements

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa skema Koperasi Merah Putih sengaja dirancang dengan memangkas rantai distribusi. Dengan demikian, biaya dapat ditekan secara signifikan dan peran perantara yang kerap menjadi penyebab kenaikan harga dapat dihilangkan. “Dengan kehadiran koperasi, akan terjadi fair price. Distribusi itu langsung dari pabrik ke koperasi, tidak lewat middleman,” ujar Joao saat ditemui di kantornya yang berlokasi di Jakarta Selatan.

Lebih lanjut, model distribusi inovatif ini juga membuka akses langsung bagi produk desa untuk masuk ke pasar tanpa harus melalui jalur distribusi yang panjang dan rumit. Hal ini tentu memberikan peluang besar bagi produsen di desa untuk memperoleh harga jual yang jauh lebih baik, meningkatkan kesejahteraan mereka. Keberadaan koperasi, menurut Joao, justru melengkapi ekosistem perdagangan yang sudah ada, bukan sebagai kompetitor langsung bagi ritel modern. Ia meyakini, setiap pelaku usaha, termasuk jaringan ritel besar, pada dasarnya memiliki perhitungan bisnis dan analisis kelayakan yang matang sebelum memutuskan untuk melakukan ekspansi. “Kalau ritel modern mau investasi, mereka pasti sudah punya analisa, feasibility study, sudah dihitung,” tambahnya. Namun demikian, Joao mengakui bahwa beberapa aspek teknis dalam implementasi program, termasuk mekanisme penggajian bagi pengelola koperasi, masih memerlukan pembahasan yang lebih rinci.

Di sisi lain, pemerintah juga secara proaktif tengah menyusun ulang peta perdagangan ritel di wilayah perdesaan. Upaya ini bertujuan untuk memperkuat peran koperasi sebagai tulang punggung ekonomi desa. Menteri Koperasi Ferry Juliantono, sebelumnya bahkan telah mengimbau jaringan ritel modern, seperti PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) dan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), agar tidak menambah gerai baru di kawasan pedesaan.

Advertisements

Imbauan tegas tersebut dikeluarkan dengan tujuan memberikan ruang yang lebih luas bagi koperasi desa agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi pusat distribusi utama barang kebutuhan pokok di tingkat lokal. “Setop bikin ritel modern di desa, biarkan di desa itu koperasi desa yang jualan,” kata Ferry, dalam sebuah wawancara yang diunggah di kanal YouTube IDN Times. Ia menyoroti perbedaan mendasar antara ritel modern dan koperasi, terutama dalam aspek distribusi keuntungan. Ritel modern cenderung mengalirkan profit kepada pemegang saham, sementara koperasi memungkinkan perputaran ekonomi dan keuntungan tetap berada di desa, sehingga lebih bermanfaat bagi komunitas setempat. Meskipun demikian, pemerintah tetap membuka ruang untuk kolaborasi. Produk-produk yang belum dapat dipenuhi sepenuhnya oleh koperasi, masih dapat dipasok oleh jaringan ritel modern, menjaga ketersediaan barang bagi masyarakat.

Advertisements