Dari hulu berbenah mengelola sampah, harapan tumbuh dari rumah

Raut wajah Mawarni tampak penuh semangat saat menceritakan gerakan pemilahan sampah yang kini hidup di lingkungannya. Bagi banyak orang, sampah mungkin dianggap sebagai akhir dari sebuah kegunaan. Namun, di RT 5 RW 09 Cakung Barat, Jakarta Timur, pandangan tersebut mulai bergeser. Sampah kini dikelola dengan cara yang jauh lebih produktif.

Advertisements

Ibu rumah tangga ini mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, warga mulai membiasakan diri untuk memilah sampah langsung dari rumah. Berawal dari kebiasaan sederhana tersebut, sistem penanganan sampah di wilayahnya perlahan mulai berbenah secara menyeluruh. Bagi Mawarni dan para ibu di RW 09, sampah bukan lagi sekadar sisa yang harus segera dibuang ke tempat penampungan.

Apa yang dahulu dianggap sebagai masalah, kini mulai dipilah berdasarkan potensinya. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dikumpulkan secara kolektif untuk kemudian disetorkan. “Sekarang botol, kardus, dan kertas banyak yang dibawa ke bank sampah. Semua sudah dipilah dari rumah,” ujar Mawarni pada Minggu (5/4).

Bank Sampah: Solusi dari Hulu Rumah Tangga

Advertisements

Bank sampah menjadi simpul utama dari perubahan perilaku ini. Inisiatif yang digerakkan oleh warga RW 09 tersebut merupakan upaya nyata untuk mengatasi persoalan sampah langsung dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Jika sebelumnya seluruh sampah berakhir begitu saja di tempat pembuangan, kini sebagian besar singgah terlebih dahulu di meja timbang untuk didaur ulang.

Program yang berjalan sejak pertengahan 2023 ini semakin kuat berkat kolaborasi dengan Yayasan Wings Peduli. Melalui pendampingan tersebut, sistem bank sampah menjadi lebih terstruktur, mulai dari proses edukasi, pencatatan administrasi, hingga mekanisme penjualan ke pengepul. Mawarni sendiri mengambil peran penting sebagai juru timbang dalam inisiatif ini.

Mekanismenya cukup sederhana namun efektif: sampah yang telah dipilah akan ditimbang dan dicatat. Hasil penjualannya kemudian dikonversi menjadi tabungan bagi warga yang bisa diambil di kemudian hari. Saat ini, Bank Sampah RW 09 telah memiliki sekitar 65 nasabah rutin yang berasal dari sembilan RT, dengan jadwal pengumpulan dilakukan dua kali dalam sepekan.

Mawarni mengakui bahwa perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Pada awalnya, warga harus diberikan pemahaman mendalam mengenai jenis sampah yang bernilai jual dan yang tidak. Pelatihan intensif menjadi pintu masuk utama untuk mengubah pola pikir masyarakat hingga mereka terbiasa melakukan pemilahan secara mandiri.

Dalam setiap sesi pengumpulan, volume sampah yang masuk bisa mencapai 25 kilogram, yang didominasi oleh material plastik dan kardus. Meski nilai tabungan yang dihasilkan terkadang hanya sekitar Rp 10 ribu per setoran, bagi warga, nominal tersebut sudah cukup menjadi stimulus untuk menjaga konsistensi kebiasaan baik ini.

Kampanye darurat sampah di Kendari (ANTARA FOTO/Andry Denisah/foc.)

Kewajiban Memilah dan Ancaman Krisis Sampah Jakarta

Ketua RW 09, Dam Suhanda, menilai perubahan perilaku warga sebagai elemen kunci dalam solusi jangka panjang. Baginya, inti dari program bank sampah bukan sekadar soal keuntungan ekonomi, melainkan pembentukan budaya baru di masyarakat. Apalagi, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini tengah memperketat mekanisme pengelolaan sampah di ibu kota.

Mulai Agustus 2026, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dijadwalkan hanya akan menerima sampah residu, yaitu jenis sampah yang benar-benar tidak dapat didaur ulang lagi. Dengan kebijakan ini, memilah sampah dari rumah bukan lagi sebuah pilihan sukarela, melainkan sebuah keharusan bagi setiap warga.

“Sampah memang harus dipilah. Dengan adanya bank sampah, masyarakat diharapkan sudah terbiasa, dan sistem ini harus terus diperkuat,” tegas Dam. Ia menambahkan bahwa selama ini masalah sampah sering kali dianggap selesai saat sudah diangkut oleh truk, tanpa memikirkan muara akhirnya yang kian kritis.

Di saat warga mulai bergerak di tingkat lokal, persoalan sampah di tingkat kota justru semakin mengkhawatirkan. TPST Bantargebang kini berada dalam tekanan volume yang luar biasa. Tumpukan sampah yang menggunung bukan hanya masalah estetika, tetapi juga menyimpan ancaman lingkungan yang sangat serius.

Jakarta Darurat Sampah (Katadata)

Laporan riset dari Emmett Institute di University of California Los Angeles (UCLA), yang menggunakan data satelit Carbon Mapper dan stasiun ruang angkasa NASA, menempatkan Bantargebang sebagai lokasi dengan semburan gas metana terbesar kedua di dunia. Pada 2025, emisi metana dari lokasi ini diperkirakan akan menembus angka 6,3 metrik ton per jam.

Gas metana yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik ini merupakan salah satu pemicu utama pemanasan global. Dalam konsentrasi tinggi, gas ini juga sangat berisiko menyebabkan kebakaran hingga ledakan di area timbunan sampah. Skala emisi dari satu gunung sampah ini bahkan dapat menyamai jejak karbon dari sebuah kota kecil atau jutaan kendaraan bermotor.

Citra Emisi TPST Bantargebang (Carbon Mapper)

Indonesia dalam Status Darurat Sampah Nasional

Secara nasional, situasi sampah Indonesia telah memasuki fase yang sangat genting. Dari 514 kabupaten dan kota, sebanyak 336 daerah kini berstatus Darurat Sampah berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup pada Oktober 2025. Lebih dari separuh wilayah di Indonesia menghadapi krisis yang sama: tempat pembuangan yang kelebihan beban dan sistem pengelolaan yang tertinggal jauh.

Kementerian Lingkungan Hidup mencatat bahwa capaian pengelolaan sampah nasional hingga awal 2025 belum menyentuh angka 25%, masih jauh dari target RPJMN yang ditetapkan sebesar 52%. Dengan total timbulan sampah nasional mencapai 141 ribu ton per hari, hanya sekitar 36 ribu ton yang terkelola dengan baik. Sisanya, sekitar 75%, masih berakhir di lingkungan tanpa pengolahan yang memadai.

INFOGRAFIK: Indonesia Darurat Sampah (Katadata/ Amosella)

Pendekatan pengelolaan sampah yang selama ini terlalu fokus di sisi hilir dinilai sudah tidak mencukupi. Fadli Rahman, Lead of Waste to Energy dari Badan Pengelola Investasi Daya Anantara Nusantara (Danantara), menyatakan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi listrik (WtE) hanya mampu menyelesaikan sekitar 30% dari total masalah sampah di Indonesia.

Fadli menekankan bahwa cara paling efektif adalah dengan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengolah dan memilah sampah sejak dari sumbernya. “Jika tidak ada yang bergerak, maka masalah sampah akan menyebar dan semakin sulit untuk ditanggulangi,” ungkapnya dalam sebuah diskusi terbatas di akhir Maret.

Di tengah tantangan besar tersebut, langkah nyata yang dilakukan oleh warga seperti Mawarni memberikan harapan baru. Program bank sampah yang didukung oleh Wings Peduli melalui kampanye #PilahDariSekarang terbukti memberikan dampak positif. Data periode 2024–2025 mencatat program ini berhasil mengelola 6,4 ton sampah anorganik dan terus menambah jumlah nasabah baru.

Sheila Kansil, perwakilan dari Wings Peduli, menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan inisiatif ini agar menjadi gerakan yang berkelanjutan. Bagi warga di RW 09 Cakung Barat, perubahan ini telah memberikan dampak nyata. Dari rumah-rumah sederhana, harapan untuk lingkungan yang lebih bersih mulai dirajut melalui tangan-tangan warga yang peduli.

Ringkasan

Warga RT 5 RW 09 Cakung Barat, Jakarta Timur, telah berhasil menerapkan sistem pemilahan sampah rumah tangga yang produktif melalui inisiatif bank sampah. Melalui kolaborasi dengan Yayasan Wings Peduli, sampah anorganik yang dipilah dikumpulkan, ditimbang, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi bagi 65 nasabah rutin. Langkah ini menjadi solusi krusial di tingkat hulu untuk mengubah perilaku masyarakat sekaligus mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pengelolaan sampah residu di TPST Bantargebang mulai tahun 2026.

Gerakan ini menjadi sangat relevan mengingat Indonesia saat ini sedang menghadapi darurat sampah nasional dengan lebih dari 330 daerah yang mengalami krisis serupa. Mengingat beban TPST Bantargebang yang ekstrem serta tingginya emisi gas metana, pengelolaan sampah dari sumbernya kini dianggap sebagai kewajiban mutlak, bukan lagi pilihan sukarela. Inisiatif berbasis komunitas seperti di RW 09 terbukti efektif dalam menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir dan memberikan kontribusi nyata dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Advertisements