
JAKARTA — Memasuki Mei 2026, idiom klasik pasar saham sell in May and go away kembali menjadi perbincangan hangat. Di tengah rapuhnya sentimen global maupun domestik, pola musiman ini membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Secara historis, sell in May and go away merupakan strategi musiman yang menyarankan investor untuk melakukan aksi jual sebagian portofolio pada bulan Mei, dan kembali mengakumulasi aset pada akhir tahun. Pola ini berakar dari tren di berbagai bursa global, di mana kinerja pasar pada periode Mei hingga Oktober cenderung lebih lesu dibandingkan periode November hingga April. Fenomena ini kerap dikaitkan dengan penurunan aktivitas perdagangan, libur musim panas di negara maju, serta kecenderungan arus keluar dana asing.
Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, menilai bahwa sentimen ini terasa lebih relevan tahun ini mengingat tingginya tekanan eksternal dan pasar yang masih terjebak dalam fase konsolidasi. Menurutnya, pergerakan IHSG saat ini masih terbatas dengan penguatan yang bersifat teknikal, belum mencerminkan tren kenaikan yang solid.
“IHSG berpotensi menguji level psikologis di sekitar 7.000. Dalam skenario risk-off yang lebih kuat, indeks bahkan bisa bergerak di rentang 6.800 hingga 7.300 jika arus keluar dana asing dan ketidakpastian global berlanjut,” ujarnya, Rabu (6/5/2026). Ia menambahkan bahwa sentimen pasar yang rapuh membuat volatilitas jangka pendek tetap tinggi, terutama dengan adanya isu MSCI yang memicu outflow, serta tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi global.
Senada dengan hal tersebut, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa fenomena sell in May tahun ini tidak hanya dipicu oleh faktor musiman, tetapi juga diperberat oleh kondisi makroekonomi. Tekanan tahun ini merupakan kombinasi dari penguatan dolar AS, eskalasi geopolitik, hingga fluktuasi harga minyak dunia.
“Jika tekanan eksternal terus berlanjut, IHSG berpotensi terkoreksi ke area 6.700–6.800. Namun, jika kondisi mulai stabil, potensi penurunan akan relatif terbatas,” jelas Wafi. Meski demikian, ia mencatat adanya sejumlah katalis positif yang bisa menopang pasar, seperti peluang penurunan suku bunga global, valuasi IHSG yang semakin menarik setelah koreksi sejak awal tahun, serta potensi kembalinya aliran dana asing.
Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas, Rully, menyoroti bahwa secara year-to-date IHSG menjadi salah satu indeks dengan kinerja terburuk, dengan koreksi mencapai 19,6%. Padahal, pada periode 2025 hingga awal 2026, IHSG sempat mencatatkan reli signifikan hingga menembus rekor tertinggi di level 9.134, yang didorong oleh euforia saham konglomerasi dan ekspektasi terkait indeks MSCI.
Melihat kondisi terkini, Rully menilai pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pasca koreksi dalam. “Level IHSG saat ini sudah turun cukup jauh dari puncaknya, sehingga indikasi konsolidasi sudah mulai terlihat,” tambahnya. Meskipun arah pasar sangat bergantung pada dinamika global, ia optimistis IHSG masih memiliki peluang untuk kembali ke atas level 9.000 hingga akhir tahun.
Sebagai kesimpulan, para analis sepakat bahwa sell in May tidak berarti investor harus keluar sepenuhnya dari pasar. Pendekatan yang lebih bijak adalah melalui strategi tactical derisking atau pengurangan risiko secara selektif. Investor disarankan untuk tetap mencermati peluang melalui strategi buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat yang menawarkan dividen tinggi, seperti di sektor perbankan besar. Dengan disiplin yang ketat, peluang keuntungan tetap terbuka bagi investor yang cermat di tengah volatilitas pasar.
______
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Ringkasan
Fenomena sell in May and go away kembali membayangi pergerakan IHSG akibat kombinasi tekanan sentimen global, fluktuasi nilai tukar rupiah, dan arus keluar dana asing. Para analis memperkirakan indeks berpotensi mengalami konsolidasi atau koreksi lebih lanjut ke rentang 6.700 hingga 7.000 selama tekanan eksternal dan ketidakpastian pasar masih berlanjut. Meskipun volatilitas jangka pendek tetap tinggi, kondisi makroekonomi saat ini dipandang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi pasca penurunan tajam sejak awal tahun.
Alih-alih keluar sepenuhnya dari pasar, investor disarankan untuk melakukan strategi pengurangan risiko secara selektif atau tactical derisking. Peluang tetap terbuka bagi investor yang cermat untuk melakukan aksi buy on weakness pada saham-saham berfundamental kuat dengan dividen tinggi, terutama di sektor perbankan. Para analis meyakini bahwa dengan disiplin yang ketat, IHSG masih memiliki potensi untuk pulih dan mencatatkan kinerja yang lebih baik hingga akhir tahun.