IMF khawatir ekonomi global rontok jika perang Timur Tengah berlarut

Jakarta, IDN Times – Dana Moneter Internasional (IMF) melayangkan peringatan keras mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menegaskan bahwa perang yang melibatkan Iran dan berpotensi berlanjut hingga 2027 membawa risiko besar yang dapat melumpuhkan stabilitas ekonomi global.

Advertisements

Sebelumnya, IMF sempat menggunakan asumsi optimistis dengan skenario konflik jangka pendek. Dalam proyeksi tersebut, ekonomi dunia diprediksi hanya melambat tipis ke angka 3,1 persen dengan inflasi terkendali di level 4,4 persen. Namun, Georgieva kini menyatakan bahwa asumsi tersebut tidak lagi relevan karena dinamika situasi di lapangan telah melampaui prediksi awal lembaga tersebut.

1. IMF Soroti Tekanan Harga Minyak Global

Kondisi ekonomi saat ini mulai bergeser ke arah skenario terburuk yang dimodelkan oleh IMF. Titik kritis dari ketegangan ini terletak pada harga minyak dunia yang diprediksi berisiko menyentuh atau melampaui angka 100 dolar AS per barel, atau setara dengan Rp1,7 juta. Dalam diskusi di Institut Milken pada Senin (4/5/2026), Georgieva memaparkan konsekuensi jika harga minyak bertahan di level tersebut, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi hingga 2,5 persen pada 2026 serta inflasi yang berisiko melonjak hingga 5,4 persen.

Advertisements

Meskipun saat ini kondisi keuangan global belum menunjukkan pengetatan yang ekstrem, Georgieva mengingatkan bahwa durasi perang yang berkepanjangan dapat secara drastis mengubah peta kekuatan ekonomi dunia dalam waktu singkat.

2. Risiko Lonjakan Inflasi Dunia

Ketakutan terbesar IMF adalah jika konflik ini terus memanas hingga 2027, yang dapat memicu lonjakan harga minyak hingga 125 dolar AS per barel atau setara Rp2,1 juta. Skenario ekstrem ini akan memberikan hantaman inflasi yang jauh lebih berat bagi perekonomian global.

“Kita akan melihat inflasi naik dan kemudian secara tidak terhindarkan, ekspektasi inflasi akan mulai terlepas dari jangkarnya,” ungkap Georgieva seperti dikutip dari Economic Times. Ia menekankan bahwa skenario kelam ini bukan sekadar teori, melainkan kemungkinan nyata seiring dengan eskalasi tensi militer di kawasan Timur Tengah.

3. Dampak Penutupan Selat Hormuz pada Pasokan Energi

Salah satu pemicu utama kecemasan IMF adalah potensi penutupan Selat Hormuz. Mengingat jalur ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia, CEO Chevron, Mike Wirth, memperingatkan bahwa penutupan jalur vital tersebut akan memicu kelangkaan minyak fisik di berbagai negara.

Wirth memprediksi Asia akan menjadi wilayah pertama yang merasakan dampak penyusutan ekonomi akibat terganggunya rantai pasok energi. Selain sektor energi, sektor pangan juga berada dalam ancaman serius. Georgieva mencatat bahwa biaya pupuk telah melonjak 30-40 persen, yang berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dunia sebesar 3-6 persen. Mengutip laporan Al Mayadeen, sektor-sektor lain pun terancam menghadapi tekanan rantai pasok serupa.

Georgieva menegaskan bahwa situasi ini sangat serius. Jika skenario terburuk terjadi, pertumbuhan ekonomi global bisa merosot hingga ke level 2 persen dengan inflasi mencapai 5,8 persen. Kondisi ini dianggap sebagai ancaman kerusakan jangka panjang terhadap tatanan ekonomi dunia.

Berita Terkait:

  • Diprotes IMF-World Bank, Purbaya Bantah Jor-joran Kucurkan Subsidi BBM
  • Purbaya Tolak Pinjaman IMF dan World Bank: Wah Mukanya Asem
  • RI Tak Butuh Bantuan IMF, Menkeu Klaim APBN Punya Bantalan Rp420 T

Ringkasan

IMF memperingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi berlangsung hingga 2027 mengancam stabilitas ekonomi global secara signifikan. Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyatakan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi sebelumnya tidak lagi relevan karena risiko lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 100 dolar AS per barel kini semakin nyata. Kondisi ini diprediksi dapat memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 2,5 persen serta meningkatkan inflasi hingga 5,4 persen.

Dampak lebih parah mengintai jika konflik memicu penutupan Selat Hormuz, yang berisiko mengganggu 20 persen pasokan minyak mentah dunia dan memicu kenaikan harga hingga 125 dolar AS per barel. Selain sektor energi, krisis ini juga mengancam rantai pasok pangan global akibat lonjakan biaya pupuk yang berdampak pada kenaikan harga pangan. Dalam skenario terburuk, ekonomi global terancam merosot ke level 2 persen dengan inflasi mencapai 5,8 persen yang berpotensi merusak tatanan ekonomi jangka panjang.

Advertisements