
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap aksi agresif terhadap tanker minyak maupun kapal komersial milik Iran akan dibalas dengan serangan besar-besaran. Respons tersebut ditujukan langsung terhadap pangkalan militer Amerika Serikat serta kapal-kapal musuh yang berada di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan resmi dari komando Angkatan Laut IRGC, sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Fars pada Sabtu (9/5) dan dikutip oleh Anadolu pada Minggu (10/5), menegaskan posisi Iran dalam menghadapi eskalasi di wilayah perairan tersebut. Sejalan dengan instruksi tersebut, Komandan Angkatan Udara IRGC, Majid Mousavi, menyatakan bahwa unit rudal dan drone telah disiagakan dan siap meluncur segera setelah menerima perintah operasi.
Kondisi keamanan di kawasan ini kian memanas setelah Kementerian Pertahanan Inggris mengambil langkah strategis dengan mengerahkan kapal perang Angkatan Laut Kerajaan ke Timur Tengah. Kapal perusak tipe 45, HMS Dragon, yang sebelumnya bertugas di Mediterania timur dekat Siprus, kini diposisikan untuk bergabung dalam inisiatif maritim multinasional yang dipimpin oleh Inggris dan Prancis guna mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ketegangan regional ini sebenarnya telah meningkat sejak serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Aksi tersebut memicu balasan dari Teheran yang berdampak langsung pada stabilitas Selat Hormuz. Meski sempat dicapai gencatan senjata melalui mediasi Pakistan pada 8 April, namun perundingan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan damai yang permanen.
Situasi kemudian berkembang saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu yang jelas, sembari membuka peluang bagi jalur diplomasi. Namun, di sisi lain, ketegangan maritim tetap terasa sejak 13 April ketika AS memulai blokade angkatan laut yang menyasar lalu lintas perkapalan Iran di Selat Hormuz.
Terakhir, pada Selasa (5/5), Presiden Trump mengumumkan penghentian sementara Project Freedom, sebuah inisiatif yang bertujuan memulihkan kebebasan navigasi bagi kapal komersial di wilayah tersebut. Meskipun proyek tersebut dihentikan, pemerintah AS menegaskan bahwa blokade angkatan laut Amerika di Selat Hormuz akan tetap diberlakukan secara penuh.
Ringkasan
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan ancaman serangan besar-besaran terhadap pangkalan militer dan kapal Amerika Serikat jika terjadi tindakan agresif terhadap tanker minyak atau kapal komersial Iran. Sebagai bentuk persiapan, unit rudal dan drone IRGC telah disiagakan untuk meluncur segera setelah menerima perintah operasi. Ketegangan di wilayah tersebut semakin memanas seiring dengan pengerahan kapal perang HMS Dragon milik Inggris untuk mengamankan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Situasi keamanan di kawasan ini terus tidak stabil pascaserangan yang melibatkan AS dan Israel pada akhir Februari lalu serta kegagalan perundingan damai di Islamabad. Meskipun sempat terjadi gencatan senjata, Amerika Serikat tetap melanjutkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz meskipun telah menghentikan inisiatif Project Freedom. Kebijakan ini menjaga eskalasi ketegangan maritim tetap tinggi di perairan tersebut.