Strategi Investasi Saham Saat Asing Net Sell dan Rupiah Melemah

JAKARTA – Aksi jual bersih atau net sell oleh investor asing di pasar modal Indonesia kini menjadi sorotan utama. Fenomena ini dinilai berkontribusi besar dalam menekan kinerja nilai tukar rupiah yang belakangan terpuruk hingga menembus level Rp17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut menciptakan siklus yang saling mengunci, di mana pelemahan rupiah justru semakin mengikis minat investor asing untuk menempatkan dananya di pasar saham domestik.

Advertisements

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi dalam sebesar 19,40 persen sepanjang tahun berjalan 2025 (year-to-date/YtD). Seiring dengan penurunan tersebut, investor asing tercatat melakukan net sell senilai Rp37,60 triliun selama periode yang sama.

Head of Equity Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa aksi jual bersih asing memicu tekanan signifikan terhadap rupiah karena adanya konversi aset dari rupiah ke dolar AS secara masif. Menurutnya, dampak ini menjadi jauh lebih berat ketika arus keluar modal (outflow) terjadi secara bersamaan di pasar saham maupun pasar obligasi.

Wafi menambahkan bahwa pelemahan rupiah hingga menembus level Rp17.000 per dolar AS membuat investor asing bersikap defensif. Kekhawatiran utama investor adalah tergerusnya imbal hasil (return rate) investasi akibat depresiasi nilai tukar. Untuk paruh kedua 2026, ia memprediksi pergerakan IHSG masih akan tetap volatil dengan kecenderungan sideways atau rebound terbatas, sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar serta kebijakan suku bunga global.

Advertisements

Terkait sektor yang paling terdampak, Wafi menyoroti emiten dengan eksposur utang dolar AS yang tinggi, seperti sektor aviasi, petrokimia, otomotif, dan beberapa industri konsumer. Sebaliknya, sektor komoditas atau perusahaan berbasis ekspor dinilai lebih defensif di tengah situasi ini. Untuk memitigasi risiko, investor disarankan untuk fokus pada saham dengan fundamental kuat dan minim risiko kurs, seperti BBRI, BMRI, dan TLKM. Saham emiten komoditas seperti ADRO juga dinilai menarik sebagai sarana lindung nilai (hedging) terhadap pelemahan rupiah.

Tekanan terhadap mata uang Garuda tidak hanya bersumber dari pasar saham, tetapi juga dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Hingga April 2026, kepemilikan asing di pasar SBN tercatat tersisa Rp856,14 triliun, yang berarti terjadi arus keluar sebesar Rp23,79 triliun sejak awal tahun.

Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI, Salvian Fernando, menegaskan bahwa SBN merupakan pintu masuk utama modal asing ke Indonesia, sehingga aksi jual di instrumen ini berdampak langsung pada nilai tukar. Proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS akibat penjualan SBN otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan rupiah.

Meski begitu, Salvian menekankan bahwa pelemahan rupiah saat ini bukan hanya dampak dari aksi jual domestik. Faktor eksternal, seperti kebijakan suku bunga global yang bertahan tinggi dalam waktu lama (higher for longer), menjadi penekan utama. Selain itu, ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat mendorong investor untuk memburu aset aman (safe haven) di tengah pasar yang sedang volatil.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Aksi jual bersih investor asing di pasar saham dan obligasi Indonesia menjadi pemicu utama pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.000 per dolar AS. Fenomena ini diperparah oleh kebijakan suku bunga global yang tetap tinggi serta ketegangan geopolitik yang mendorong investor beralih ke aset yang lebih aman. Akibatnya, IHSG mengalami koreksi signifikan sebesar 19,40 persen secara year-to-date di tahun 2025.

Untuk menghadapi kondisi pasar yang volatil, investor disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat dan minim risiko kurs, seperti sektor perbankan dan telekomunikasi. Selain itu, emiten komoditas berbasis ekspor direkomendasikan sebagai instrumen lindung nilai terhadap depresiasi rupiah. Sebaliknya, investor perlu mewaspadai sektor dengan eksposur utang dolar AS tinggi yang rentan tertekan oleh pelemahan mata uang domestik.

Advertisements