
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran. Penolakan ini disampaikan di tengah upaya kedua negara untuk merundingkan kesepakatan guna mengakhiri ketegangan panjang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Melalui platform media sosial Truth Social pada Minggu (10/5), Trump mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap tanggapan dari pihak Iran. “Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut Perwakilan Iran. Saya tidak menyukainya, sama sekali tidak dapat diterima!” tegas Trump, sebagaimana dikutip dari laporan CNN.
Langkah ini menyusul laporan dari media pemerintah Iran yang menyebutkan bahwa Teheran telah mengirimkan proposal perdamaian terbarunya melalui mediator Pakistan pada Minggu pagi. Ketegangan antara kedua negara terus memuncak, terutama terkait sikap keras Trump terhadap program nuklir Iran yang selama ini dibantah oleh Teheran.
Dalam unggahannya, Trump menuding Iran sengaja mengulur-ulur waktu dalam proses negosiasi. “Iran telah mempermainkan Amerika Serikat dan seluruh dunia selama 47 tahun dengan terus menunda-nunda,” tulis Trump. Ia pun menambahkan dengan nada ancaman bahwa Iran tidak akan bisa terus-menerus melakukan tindakan tersebut.
Baca juga:
- Trump dan Iran Saling Klaim soal Arah Negosiasi Damai
- Sepak Bola Iran Minta Jaminan di Piala Dunia: Tuan Rumah Kami FIFA, bukan Trump
- Trump Hentikan Sementara Operasi AS di Selat Hormuz Demi Negosiasi dengan Iran
Meskipun belum ada konfirmasi resmi apakah pihak AS telah meninjau detail proposal tersebut secara menyeluruh, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, memberikan pernyataan tegas kepada Fox News Sunday. Menurutnya, Washington telah menetapkan garis merah yang tidak bisa ditawar. “Presiden Trump telah menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir dan mereka tidak dapat menyandera perekonomian dunia,” ujar Waltz.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menanggapi situasi ini dengan sikap yang tetap menantang. Pemerintah Iran secara tegas menolak untuk menghentikan program pengayaan uranium mereka sebagai syarat negosiasi dengan AS.
Melalui akun X pribadinya, Pezeshkian menyatakan komitmennya untuk tidak tunduk pada tekanan pihak luar. “Kami tidak akan pernah menundukkan kepala di hadapan musuh, dan jika pembicaraan tentang dialog atau negosiasi muncul, itu tidak berarti menyerah atau mundur,” pungkas Pezeshkian di tengah berjalannya proses diplomasi yang masih menemui jalan buntu tersebut.
Ringkasan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak proposal perdamaian terbaru yang diajukan oleh Iran melalui mediator Pakistan. Trump menilai tanggapan tersebut tidak dapat diterima dan menuding Iran sengaja mengulur waktu dalam proses negosiasi yang telah berlangsung lama. Ketegangan ini dipicu oleh sikap keras AS terhadap program nuklir Iran serta tuduhan bahwa Teheran telah mempermainkan dunia selama puluhan tahun.
Di sisi lain, pemerintah Iran tetap menolak untuk menghentikan program pengayaan uranium sebagai syarat perundingan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan komitmennya untuk tidak tunduk pada tekanan pihak luar meski proses diplomasi saat ini masih menemui jalan buntu. Washington sendiri telah menetapkan garis merah bahwa Iran dilarang keras memiliki senjata nuklir dan tidak boleh menyandera perekonomian dunia.