
Bursa Efek Indonesia memasukkan saham emiten jasa logistik PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) dalam daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Berdasarkan metodologi penentuan HSC atas struktur kepemilikan saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat per 7 Mei 2026, saham WBSA diketahui dikuasai oleh sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,82% dari total saham beredar. Meski begitu, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian S. Manullang menyatakan pengumuman tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran.
“Pengumuman ini tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundangundangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal,” kata Kristian dalam keterangan resmi, dikutip Senin (11/5).
HSC adalah daftar emiten di BEI yang sebagian besar sahamnya terkonsentrasi pada sedikit pihak atau kelompok afiliasi tertentu. Data itu dirilis oleh BEI untuk meningkatkan transparansi, meminimalkan risiko praktik spekulatif serta memenuhi standar investor global.
WBSA merupakan emiten perdana yang melantai di bursa lewat penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada tahun ini. Sejak resmi tercatat di BEI pada 10 April 2026 dengan harga penawaran Rp 168 per saham, harga sahamnya telah melesat 676,79% ke level Rp 1.305.
Berdasarkan prospektus IPO, porsi saham publik atau free float WBSA tercatat sebesar 20,75%, setara 1,8 miliar saham. Namun, dengan masuknya saham WBSA dalam daftar HSC dan konsentrasi kepemilikan mencapai 95,82%.
Dengan pengumuman terbaru, kepemilikan ritel yang tidak terafiliasi perseroan sejatinya hanya tersisa 4,18%. Kendati demikian, berdasarkan data bursa, free float WBSA tetap berada di porsi 20,75%
Berdasarkan data kepemilikan saham di atas 1% yang dirilis BEI pada 8 Mei, pemegang saham utama WBSA adalah Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd dengan kepemilikan 79,01% atau setara 6,85 miliar saham.
Selain itu, terdapat Zico Trust Ltd yang menggenggam 3,74% saham, Lion Trust Ltd sebesar 4,11%, dan Caerydd Investments Pte Ltd sebanyak 4,87%. Adapun pemilik manfaat akhir WBSA tercatat sebagai Direktur Utama perseroan Edwin Wibowo dan Komisaris Utama Andree.
Pasca IPO, saham WBSA menyentuh batas auto reject atas (ARA) selama berjilid-jilid. BEI juga telah dua kali melakukan penghentian sementara perdagangan atau suspensi atas saham WBSA. Meski demikian, dalam sepekan terakhir sahamnya tercatat turun 10,62%.
Profil BSA Logistics (WBSA)
BSA Logistics Indonesia didirikan pada 2021. Perseroan merupakan perusahaan logistik terpadu yang melayani rantai pasok domestik dan internasional, mencakup angkutan darat, freight forwarding laut dan udara, serta pergudangan.
Dari sisi struktur kepemilikan, sebelum IPO saham perseroan mayoritas dimiliki Tiga Beruang Kalifornia Pte. Ltd. sebesar 99,69%. Setelah IPO, kepemilikan publik akan mencapai 20,75%, sementara pemegang saham lama terdilusi.
Setelah IPO, perusahaan berencana membagikan dividen kas maksimal 10% dari laba bersih mulai tahun buku 2027. Manajemen perusahaan menyebut pembagian dividen itu dengan tetap mempertimbangkan kondisi keuangan dan keputusan RUPS.
Tak hanya itu besaran dividen akan ditentukan dalam RUPS Tahunan berdasarkan kinerja dan rencana bisnis. Perseroan juga berpeluang membagikan dividen lebih besar atau dividen interim, dengan persetujuan Dewan Komisaris.
Namun, kebijakan dividen ini tidak mengikat dan dapat berubah sesuai keputusan Direksi dan Pemegang Saham dalam RUPS. Sebelumnya, pada Oktober 2025, perseroan membagikan dividen saham senilai Rp 30 miliar melalui penerbitan 30.000 saham baru.
Dalam gelaran IPO, saham WBSA mengalami kelebihan permintaan (oversubscribe) hingga 386,86 kali. Perseroan menawarkan saham pada rentang harga Rp 150–Rp 170, dan akhirnya menetapkan harga IPO di level Rp168 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan berpotensi meraup dana segar hingga Rp302,4 miliar.
Perseroan melepas sebanyak 1,80 miliar saham baru atau setara 20,75% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Untuk pelaksanaan penawaran umum ini, WBSA menunjuk PT OCBC Sekuritas Indonesia, PT Semesta Indovest Sekuritas, dan PT Indo Capital Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek.
Edwin Wibowo menilai prospek industri logistik nasional masih sangat besar, didorong karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan serta tingginya aktivitas industri dan konsumsi domestik.
“Melalui IPO ini, kami berharap dapat memperkuat posisi dan kapabilitas perusahaan dalam mendukung pertumbuhan sektor transportasi serta perekonomian Indonesia,” ujar Edwin.