Senat AS Resmi Sahkan Kevin Warsh Sebagai Ketua The Fed Baru

JAKARTA — Senat Amerika Serikat resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pilihan Presiden Donald Trump melalui pemungutan suara yang berlangsung sengit.

Advertisements

Melansir BBC pada Kamis (14/5/2026), Warsh berhasil memperoleh dukungan 54 suara, berbanding 45 suara penolakan dalam sesi voting yang digelar Rabu (13/5/2026). Hasil ini menjadikan margin persetujuan Warsh sebagai yang tertipis dalam proses konfirmasi Ketua The Fed sejak mekanisme tersebut diberlakukan pada 1977. Warsh akan menggantikan Jerome Powell, yang masa jabatannya berakhir pada Jumat (15/5/2026) setelah kerap berselisih dengan Trump mengenai kebijakan suku bunga.

Dalam voting tersebut, hanya satu senator dari Partai Demokrat, yakni John Fetterman, yang memberikan dukungan kepada Warsh. Hal ini mencerminkan kentalnya nuansa politis dalam proses konfirmasi pejabat tinggi di Washington.

Tantangan Ekonomi di Depan Mata

Advertisements

Tugas berat telah menanti Warsh. Ia harus memimpin The Fed di tengah desakan Trump agar bank sentral memangkas suku bunga, sementara kondisi ekonomi AS tengah tertekan oleh kenaikan biaya hidup akibat perang AS-Israel melawan Iran. Lonjakan harga energi, menyusul penutupan Selat Hormuz yang mendongkrak harga minyak, turut diperparah oleh naiknya biaya pangan, perumahan, dan tiket pesawat.

Data inflasi April 2026 menunjukkan kenaikan sebesar 3,8% secara tahunan, yang merupakan laju tercepat sejak Mei 2023. Dalam situasi normal, bank sentral seharusnya mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Namun, mayoritas ekonom kini memperkirakan suku bunga akan tetap tertahan hingga tahun depan, bahkan beberapa analis memperingatkan adanya potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Independensi di Tengah Tekanan Politik

Kini, Warsh diperkirakan akan menghadapi tekanan intens dari Trump untuk memangkas suku bunga demi menopang pertumbuhan ekonomi. Situasi ini dinilai berpotensi memicu konflik serupa dengan yang dialami Powell, yang sempat dicap Trump sebagai Ketua The Fed terburuk dalam sejarah karena dinilai lambat dalam mengambil kebijakan pemangkasan bunga.

Meski dalam sidang konfirmasi di hadapan Komite Perbankan Senat ia berjanji akan mempertahankan independensi bank sentral dan menepis anggapan bahwa dirinya akan menjadi “boneka” Trump, kritik tetap mengalir. Senator senior Partai Demokrat, Elizabeth Warren, secara tegas menyebut Warsh “sangat tidak cocok” untuk jabatan tersebut dan dianggap hanya akan melayani kepentingan politik Trump.

Sebelum terpilih sebagai ketua, Warsh telah dikukuhkan sebagai Gubernur The Fed pada Selasa (12/5/2026), yang menjadi syarat utama jabatan tersebut. Ia menggantikan Stephen Miran, gubernur yang dikenal sebagai pendukung utama kebijakan pemangkasan suku bunga di internal bank sentral. Warsh sendiri bukanlah sosok asing di lembaga tersebut karena pernah menjabat sebagai Gubernur The Fed pada periode 2006—2011.

Misi yang Mustahil?

Guru Besar Hukum Universitas Richmond, Carl Tobias, menilai bahwa Warsh menghadapi “misi mustahil”. Menurutnya, kombinasi antara inflasi yang melonjak, tuntutan vokal presiden untuk bunga rendah, dan kondisi dewan The Fed yang terpecah tajam membuat posisi ini sangat menantang.

Lebih lanjut, Tobias menyoroti bahwa hasil pemungutan suara yang berdasarkan garis partai—dengan Fetterman sebagai satu-satunya pengecualian dari Demokrat—menegaskan semakin politisnya proses konfirmasi pejabat penting di pemerintahan federal Amerika Serikat. Saat ini, nominasi Warsh selanjutnya akan segera dikirim ke meja Presiden Trump untuk mendapatkan persetujuan akhir.

Ringkasan

Senat Amerika Serikat resmi mengesahkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru melalui pemungutan suara dengan margin 54 suara setuju berbanding 45 suara menolak. Warsh terpilih untuk menggantikan Jerome Powell di tengah perselisihan mengenai kebijakan suku bunga dan akan menghadapi tantangan ekonomi berat akibat inflasi yang melonjak hingga 3,8 persen. Proses konfirmasi ini mencerminkan tingginya polarisasi politik, mengingat hanya satu senator dari Partai Demokrat yang memberikan dukungannya.

Kini, Warsh dihadapkan pada tekanan besar dari Presiden Donald Trump untuk memangkas suku bunga guna menopang pertumbuhan ekonomi, meskipun kondisi inflasi sebenarnya menuntut kebijakan pengetatan. Walaupun telah berjanji untuk mempertahankan independensi bank sentral, posisi Warsh dinilai sangat sulit karena harus menyeimbangkan tuntutan politik dengan stabilitas ekonomi yang tertekan kenaikan biaya hidup. Kondisi dewan The Fed yang terpecah tajam membuat banyak pengamat menilai tugas baru Warsh sebagai sebuah tantangan yang sangat kompleks.

Advertisements