
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan awal pekan, Senin (18/5). Indeks tercatat anjlok sebesar 2,82% atau 189 poin ke level 6.533 pada pukul 09.22 WIB. Dengan koreksi ini, IHSG telah mencatatkan penurunan signifikan sebesar 24,58% secara year to date (ytd) sepanjang tahun berjalan.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas perdagangan berlangsung cukup tinggi dengan volume mencapai 10,18 miliar saham dari 825 ribu kali frekuensi transaksi. Meski demikian, tekanan jual yang masif membuat kapitalisasi pasar terkoreksi ke angka Rp 11.369 triliun, dengan total nilai transaksi siang hari ini tercatat sebesar Rp 5,56 triliun.
Pelemahan tajam ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap langkah intervensi Bank Indonesia (BI) menjelang pengumuman suku bunga acuan atau BI-Rate pada Rabu, 20 Mei 2026 mendatang. Sentimen negatif ini diperparah oleh tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), khususnya kelompok saham konglomerat yang berguguran di awal perdagangan.
Beberapa saham milik konglomerat Prajogo Pangestu menjadi sorotan utama dalam penurunan ini. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) merosot 14,12% ke Rp 730, PT Barito Renewables Energi Tbk (BREN) turun 8,44% ke Rp 2.930, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok 14,88% ke Rp 3.660. Tekanan pada saham-saham ini dipicu oleh keputusan pengelola indeks global MSCI yang mengeluarkan ketiganya dari daftar rebalancing per 12 Mei 2026 lalu.
Kondisi pasar kian terpuruk karena seluruh sektor di BEI kompak bergerak di zona merah. Sektor industri dasar menjadi penekan utama indeks dengan pelemahan sektoral sebesar 7,15%. Saham-saham sektor komoditas logam dan emas pun turut rontok, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang jatuh 8,57% ke Rp 3.200 dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang merosot ke posisi Rp 2.430.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa secara teknikal, pergerakan IHSG saat ini berada pada fase wave [v] dari wave A dalam struktur wave (2). Berdasarkan skenario tersebut, terdapat potensi risiko IHSG dapat tertekan lebih dalam ke rentang 6.644–6.711. Sementara itu, area pemulihan terdekat bagi indeks berada pada rentang 6.758–6.777.
“Waspadai area gap yang berada di kisaran 6.538–6.585,” tegas Herditya dalam risetnya. MNC Sekuritas memetakan level support IHSG berada di 6.682 dan 6.585, sedangkan level resistance terdekat berada di 6.917 dan 7.069.
Sebagai informasi, support merupakan level harga yang diyakini sebagai titik terendah, di mana saat harga menyentuh area ini, biasanya terdapat daya beli yang mampu memicu kenaikan kembali. Sebaliknya, resistance adalah tingkat harga yang menjadi titik tertinggi, yang kerap memicu aksi jual dalam skala besar sehingga menghambat laju kenaikan harga lebih lanjut.
Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam sebesar 2,82% ke level 6.533 pada perdagangan Senin, 18 Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen negatif terkait antisipasi pasar terhadap pengumuman suku bunga Bank Indonesia serta aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar. Secara akumulatif, IHSG telah mengalami koreksi sebesar 24,58% sepanjang tahun berjalan.
Tekanan utama datang dari saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti CUAN, BREN, dan TPIA yang anjlok setelah resmi dikeluarkan dari daftar rebalancing MSCI. Kondisi pasar semakin tertekan dengan seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berada di zona merah, termasuk sektor industri dasar serta saham komoditas logam dan emas seperti ANTM dan MDKA. Analis memprediksi IHSG masih menghadapi risiko tekanan lebih dalam jika tidak mampu menembus level support yang telah ditentukan.