IHSG Anjlok ke Level Covid, Kapitalisasi Pasar RI Hilang Rp5.278 Triliun

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini, Senin (18/5). Hingga pukul 10.29 WIB, indeks tercatat anjlok 4,18% ke level 6.442. Kondisi pasar yang tengah dalam tekanan ini mencatatkan volume perdagangan sebesar 16,21 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 8,72 triliun. Minimnya minat beli terlihat dari hanya 69 saham yang mampu mencatatkan kenaikan, sehingga kapitalisasi pasar IHSG kini menyusut menjadi Rp 11.312 triliun.

Advertisements

Penurunan ini membawa bursa domestik kembali ke level tahun 2021 di kisaran 6.000-an. Sebagai catatan, IHSG sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH) pada 20 Januari 2026 di level 9.134 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 16.590 triliun. Sejak menyentuh level tersebut, indeks telah menjauh dari level 9.000 dan menguapkan kapitalisasi pasar hingga Rp 5.278 triliun atau merosot sebesar 31,8%.

Di pasar global, investor tengah menanti laporan keuangan Nvidia dan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Pelaku pasar sangat memperhatikan petunjuk arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, terutama setelah data inflasi AS dirilis di atas ekspektasi. Selain itu, perhatian tertuju pada konfirmasi Senat AS yang menetapkan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru, menggantikan Jerome Powell.

Sementara itu, di dalam negeri, fokus investor tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 20 Mei 2026. Bank sentral diprediksi akan menahan suku bunga acuan di level 4,75%. Pelaku pasar juga menunggu rilis sejumlah data ekonomi penting, seperti pertumbuhan kredit, neraca transaksi berjalan kuartal I-2026, serta jumlah uang beredar (M2).

Advertisements

Tekanan di pasar modal diperparah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level 17.700 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Level tersebut merupakan titik terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan rupiah terjadi di tengah menguatnya mata uang dolar AS akibat sentimen risk-off yang mendominasi pasar global.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan dolar AS dipicu oleh aksi jual besar-besaran (sell-off) pada berbagai aset keuangan global, mulai dari obligasi, saham, mata uang kripto, hingga mata uang negara berkembang. “Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk-off global. Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell-off seluruh aset,” ujar Lukman kepada Katadata, Senin (18/5).

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat untuk tidak khawatir. Dalam peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), Presiden menegaskan bahwa pelemahan kurs tidak berdampak langsung bagi masyarakat di desa. Menurutnya, pihak yang perlu merasa pusing adalah mereka yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri. “Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” ungkap Presiden.

Lebih lanjut, Presiden menekankan keyakinannya pada ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. “Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” tambahnya.

Di sisi lain, Syailendra Capital memproyeksikan pertumbuhan laba per saham (EPS growth) pasar saham Indonesia berada di kisaran 8%–10% pada tahun 2026. Mengingat pasar telah mengalami derating dalam dua tahun terakhir, valuasi pasar diperkirakan tetap berada di level minus 0,5 kali standar deviasi untuk tahun 2026.

Dengan asumsi tersebut, Syailendra memperkirakan nilai wajar (fair value) IHSG secara headline berada di level 8.200 pada 2026 dan 8.800 pada 2027. Namun, jika hanya mempertimbangkan faktor fundamental atau adjusted JCI, level wajar IHSG berada di kisaran 6.500 pada tahun 2026. “2026 akan menjadi titik momentum penting di mana pasar memiliki ekspektasi atas earnings recovery dibandingkan di tahun 2025,” tulis riset Syailendra Capital.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat hingga anjlok 4,18% ke level 6.442, yang membawa bursa domestik kembali ke posisi tahun 2021. Penurunan ini menyebabkan kapitalisasi pasar menyusut sebesar Rp 5.278 triliun dari rekor tertingginya, ditambah dengan pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level terlemah sepanjang sejarah. Kondisi pasar saat ini dipengaruhi oleh sentimen risk-off global, penguatan dolar AS, serta penantian pelaku pasar terhadap kebijakan moneter dari The Fed dan Bank Indonesia.

Meskipun pasar modal sedang bergejolak, Presiden Prabowo Subianto meminta masyarakat untuk tetap tenang dan percaya pada ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Di sisi lain, analis memproyeksikan tahun 2026 sebagai momentum penting bagi pemulihan laba perusahaan, dengan estimasi nilai wajar IHSG berdasarkan fundamental berada di kisaran 6.500. Investor saat ini tetap memantau rilis data ekonomi domestik serta perkembangan kebijakan suku bunga untuk menentukan arah pasar selanjutnya.

Advertisements