Tokenisasi Aset Jadi Tren Baru Investor Kripto Hadapi Ketidakpastian Global

Babaumma – Ketidakpastian geopolitik global yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah, serta fluktuasi di pasar keuangan konvensional, kini memaksa para investor untuk lebih selektif. Di tengah situasi yang menantang ini, instrumen aset digital menjadi pelabuhan baru bagi investor yang mencari fleksibilitas dan diversifikasi portofolio. Salah satu tren yang mencuat di tengah kondisi tersebut adalah pertumbuhan pesat tokenisasi aset atau tokenized assets, termasuk di pasar Indonesia.

Advertisements

Platform investasi kripto Pintu melaporkan adanya lonjakan signifikan dalam aktivitas perdagangan tokenisasi aset selama beberapa bulan terakhir. Fenomena ini menandai pergeseran perilaku investor kripto yang kini tidak lagi hanya terpaku pada Bitcoin atau altcoin, melainkan mulai melirik instrumen berbasis saham global, Exchange Traded Funds (ETF), hingga logam mulia.

Head of Product Marketing PINTU, Iskandar Mohammad, mengungkapkan bahwa minat terhadap tokenized asset terus menunjukkan tren positif sepanjang April 2026. Data internal menunjukkan bahwa jumlah pengguna kumulatif di platform tersebut meningkat sebesar 9,49 persen dibandingkan Maret 2026. Tidak hanya jumlah pengguna, rata-rata volume transaksi per pengguna bahkan mencatatkan pertumbuhan impresif hingga 87,32 persen.

Iskandar merinci bahwa investor kini lebih melirik sektor teknologi, kecerdasan buatan (AI), serta komoditas untuk diversifikasi aset mereka. Sepanjang April 2026, terdapat lima tokenized asset yang paling diminati, yakni iShares Silver Trust (SLVON), Apple (AAPLX), Palantir Technologies (PLTRON), Tesla (TSLAX), dan Alibaba Group (BABAON).

Advertisements

Tren ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga mencerminkan dinamika pasar global. Berdasarkan data RWA.xyz per 12 Mei 2026, kapitalisasi pasar tokenisasi aset dunia tumbuh 5,38 persen dalam 30 hari terakhir, mencapai angka USD 32,18 miliar atau setara dengan Rp 563 triliun. Hal ini menegaskan bahwa minat investor terhadap real-world assets (RWA) dalam format digital terus meningkat di tengah volatilitas ekonomi global.

Perkembangan teknologi blockchain dan kriptografi ini juga mendapatkan perhatian positif dari regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut menyambut baik inovasi ini karena dianggap mampu membuka peluang investasi yang lebih inklusif dan terjangkau bagi masyarakat luas.

Menurut Iskandar, diversifikasi adalah kunci utama di balik tren ini. Dengan adanya tokenized assets, investor dapat memiliki eksposur ke berbagai sektor industri global tanpa perlu meninggalkan ekosistem kripto. Saat ini, Pintu telah menghadirkan 48 aset tertokenisasi yang mencakup sektor semikonduktor, e-commerce, layanan keuangan, hingga obligasi pemerintah Amerika Serikat dan emas digital.

Kendati menawarkan akses investasi yang fleksibel, transparan, dan dapat diakses selama 24/7, Iskandar tetap mengingatkan pentingnya aspek literasi. Mengingat pasar kripto yang masih sensitif terhadap kebijakan suku bunga dan isu geopolitik, investor wajib membekali diri dengan riset mendalam sebelum mengambil keputusan.

Ia menekankan bahwa tokenisasi aset bukanlah instrumen bebas risiko. Investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang matang agar portofolio tetap terjaga. Melalui pemahaman produk yang baik dan strategi investasi yang tepat, investor diharapkan dapat mencapai tujuan finansial jangka panjang dengan lebih optimal di tengah ekosistem yang terus berkembang ini.

Ringkasan

Ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar keuangan telah mendorong investor beralih ke tokenisasi aset (tokenized assets) sebagai strategi diversifikasi portofolio. Tren ini tercermin dari lonjakan aktivitas perdagangan aset digital seperti saham global, ETF, dan logam mulia di platform seperti Pintu. Pertumbuhan ini selaras dengan tren global di mana kapitalisasi pasar aset dunia dalam format digital terus meningkat secara signifikan.

Minat investor saat ini terfokus pada sektor teknologi, kecerdasan buatan, dan komoditas karena dianggap memberikan fleksibilitas akses di ekosistem kripto. Meskipun tokenisasi menawarkan kemudahan dan inklusivitas yang didukung oleh regulator, investor tetap diingatkan untuk mengutamakan literasi dan manajemen risiko. Riset mendalam sangat diperlukan untuk menghadapi sensitivitas pasar terhadap kebijakan ekonomi dan isu geopolitik guna menjaga stabilitas portofolio jangka panjang.

Advertisements