Net sell asing mereda saat IHSG turun 8,3% sepekan, BMRI, BBCA dan BUMI diborong

Tekanan jual oleh investor asing di pasar saham domestik mulai menunjukkan tanda-tanda mereda sepanjang pekan perdagangan 18–22 Mei 2026. Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mengalami koreksi yang cukup dalam, nilai jual bersih atau net sell yang dicatatkan investor asing tercatat jauh lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya.

Advertisements

Merujuk pada data statistik mingguan Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membukukan net sell sebesar Rp 807,68 miliar dalam kurun waktu tersebut. Angka ini merupakan penurunan signifikan dari catatan pekan sebelumnya yang menyentuh angka Rp 3,21 triliun.

Di balik tekanan pasar yang sedang berlangsung, aktivitas perdagangan justru mencatatkan lonjakan. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat 15,68% menjadi Rp 21,77 triliun dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar Rp 18,82 triliun. Sejalan dengan hal tersebut, volume perdagangan harian turut tumbuh sebesar 2,53% dengan total 36,67 miliar saham yang diperjualbelikan.

Kendati transaksi meningkat, daya beli pasar belum mampu menahan koreksi tajam pada IHSG. Indeks acuan bursa tersebut tertekan 8,35% dalam sepekan ke level 6.162,045 dari posisi sebelumnya di 6.723,320. Penurunan ini berdampak pada kapitalisasi pasar BEI yang menyusut 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun.

Advertisements

Baca juga:

  • Defisit APBN Berpotensi Lampaui 3% PDB Jika Pemerintah Tak Gubris Masalah Fiskal
  • Arab Saudi Perketat Keamanan Haji, Jamaah Tanpa Izin Terancam Denda Rp 235 Juta
  • Trump Lantik Kevin Warsh Jadi Ketua The Fed Baru, Ini Pesannya

Di tengah kondisi pasar yang menantang, saham-saham perbankan besar tetap menjadi pilihan utama investor sekaligus menjadi penopang aktivitas perdagangan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan nilai transaksi terbesar mencapai Rp 7,83 triliun atau berkontribusi sebesar 7,2% terhadap total transaksi bursa, disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai transaksi Rp 7,57 triliun.

Selain perbankan, sektor komoditas dan energi juga mencuri perhatian pasar. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan nilai transaksi sebesar Rp 6,83 triliun, diikuti oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dengan Rp 3,93 triliun, serta PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar Rp 3,76 triliun.

Ditinjau dari sisi volume, saham BUMI memimpin sebagai saham paling aktif dengan volume mencapai 37,85 miliar saham atau setara dengan 20,65% dari total volume transaksi bursa. Selain BUMI, saham lainnya yang juga ramai diperdagangkan adalah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), dan PT Darma Henwa Tbk (DEWA).

Meski IHSG melemah, sejumlah saham berhasil mencatatkan performa positif dan menahan laju penurunan indeks. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi kontributor penguatan terbesar setelah naik 7,07% dan menyumbang 8,32 poin bagi indeks. Senada dengan itu, PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) turut memberikan topangan sebesar 4,61 poin berkat penguatan harga sebesar 7,69%.

Saham sektor konsumsi juga berperan sebagai penahan koreksi IHSG, di antaranya adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPI), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).

Sebaliknya, tekanan berat pada IHSG dipicu oleh saham-saham konglomerasi dan energi. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi pemberat utama indeks setelah anjlok 53,49%, yang mengakibatkan pengurangan sebesar 47,55 poin pada IHSG. Tekanan serupa juga datang dari saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), serta PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Secara sektoral, pelemahan terjadi hampir di seluruh lini. Sektor bahan baku mencatat penurunan terdalam sebesar 16,31%, diikuti oleh sektor energi dengan koreksi 13,68%, dan sektor transportasi serta logistik sebesar 19,18%. Sementara itu, sektor keuangan tampak lebih tangguh dengan mencatatkan koreksi yang lebih minim, yakni sebesar 4,11%.

Ringkasan

Sepanjang pekan 18–22 Mei 2026, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 807,68 miliar, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya sebesar Rp 3,21 triliun. Meskipun aktivitas perdagangan meningkat dengan rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68%, IHSG tetap tertekan sebesar 8,35% ke level 6.162,045. Penurunan ini menyebabkan kapitalisasi pasar BEI menyusut 10,07% menjadi Rp 10.635 triliun.

Saham perbankan seperti BMRI dan BBCA tetap menjadi pilihan utama investor dengan nilai transaksi yang besar, sementara BUMI menjadi saham yang paling aktif diperdagangkan. Di sisi lain, pelemahan IHSG dipicu oleh anjloknya saham-saham sektor energi dan konglomerasi, termasuk TPIA yang mencatatkan penurunan signifikan. Secara sektoral, sektor bahan baku dan transportasi mengalami koreksi terdalam, sedangkan sektor keuangan relatif lebih stabil.

Advertisements