Lonjakan biaya hidup yang drastis di Nigeria mulai mengubah tradisi perayaan Iduladha di negara dengan populasi Muslim terbesar di Afrika tersebut. Kenaikan harga bahan pokok, biaya transportasi, hingga harga hewan ternak yang melambung tinggi membuat banyak warga kesulitan untuk menjalankan ibadah kurban tahun ini.
Kondisi lesu terlihat jelas di pasar ternak Kubwa, Abuja. Suasana menjelang Iduladha di pasar tersebut tidak lagi seramai tahun-tahun sebelumnya. Kini, pemandangan calon pembeli yang hanya datang untuk menanyakan harga lalu pergi dengan tangan hampa menjadi hal yang lazim ditemui.
Seorang pedagang ternak, Malam Ibrahim, mengungkapkan bahwa harga domba jantan melonjak tajam dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini merupakan dampak langsung dari membengkaknya biaya distribusi dan harga bahan bakar. “Domba jantan ini dijual seharga 600 ribu naira (sekitar US$ 438),” kata Ibrahim kepada Al Jazeera.
Jika dikonversikan ke dalam rupiah dengan kurs sekitar Rp 17.789 per dolar AS, harga seekor domba kurban di Nigeria tersebut mencapai sekitar Rp 7,7 juta. Padahal pada tahun lalu, domba dengan ukuran yang sama masih dibanderol di bawah 350 ribu naira atau sekitar US$ 255, yang setara dengan Rp 4,5 juta.
Menurut Ibrahim, kenaikan harga bahan bakar membuat ongkos pengiriman ternak dari wilayah utara Nigeria, seperti Sokoto dan Kaduna, menjadi jauh lebih mahal. “Mendapatkan hewan dari Nigeria utara kini membutuhkan biaya yang lebih besar. Harga bahan bakar dan ongkos transportasi sangat memengaruhi harga jual akhir ke konsumen,” jelasnya.
Kekhawatiran pun menyelimuti para pedagang. Ibrahim mengaku cemas banyak hewan ternaknya tidak akan terjual hingga hari raya usai. “Kami tidak berharap harus membawa mereka pulang kembali ke kandang, tetapi melihat keadaan ekonomi saat ini, saya khawatir hal itu benar-benar akan terjadi,” keluhnya.
Tekanan ekonomi ini juga sangat dirasakan oleh masyarakat yang biasanya rutin berkurban. Yunus Akanji, seorang guru agama Islam di Sekolah Islam Nurul Bayan, Abuja, menceritakan bahwa tahun ini keluarganya terpaksa merayakan Iduladha secara sederhana. Mereka memutuskan untuk tidak membeli hewan kurban maupun melakukan perjalanan mudik.
“Saya telah sampai pada kesimpulan bahwa kami hanya akan merayakan hari raya dengan apa pun yang kami miliki saat ini,” tutur Akanji. Selama bertahun-tahun, ia biasanya memboyong keluarganya ke Negara Bagian Oyo untuk berkumpul dengan keluarga besar. Namun, tradisi mudik tersebut terpaksa dihentikan karena himpitan ekonomi yang semakin berat.
Kenaikan biaya transportasi yang mencekik juga menjadi alasan utama banyak warga membatalkan perjalanan pulang kampung. Nafisa Ibrahim, seorang peserta program wajib Korps Layanan Pemuda Nasional di Abuja, mengaku tidak sanggup membayar ongkos pulang tahun ini. “Biaya transportasi sekarang sekitar 35 ribu naira, sangat jauh perbandingannya dengan 15 ribu naira yang saya bayarkan saat datang ke Abuja pada bulan Februari lalu,” ungkapnya.
Biaya transportasi sebesar 35 ribu naira tersebut setara dengan US$ 26 atau sekitar Rp 462.514. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini menjadi beban berat bagi para perantau di Nigeria.
Dampak krisis biaya hidup ini turut merembet ke sektor usaha kecil. Opeyemi Ibrahim, seorang perancang busana di distrik Byazhin, mengeluhkan penurunan jumlah pelanggan menjelang Iduladha. Selain sepinya pesanan baju baru, biaya operasionalnya pun meningkat akibat mahalnya bahan bakar dan pasokan listrik yang sering padam.
Ketika aliran listrik terputus, ia terpaksa menggunakan generator agar tetap bisa bekerja. “Mengisi bahan bakar generator membutuhkan biaya sekitar 10 ribu naira (setara Rp 124.523). Tanpa itu, toko menjadi terlalu panas dan kami tetap butuh listrik untuk menyetrika pakaian pelanggan,” kata Opeyemi.
Situasi pelik ini mencerminkan bahwa krisis biaya hidup di Nigeria tidak hanya memukul daya beli masyarakat secara umum, tetapi juga secara perlahan mulai mengikis tradisi perayaan Iduladha yang selama ini identik dengan momen berkumpulnya keluarga dan penyembelihan hewan kurban.
Ringkasan
Krisis biaya hidup yang parah di Nigeria menyebabkan lonjakan harga hewan kurban menjelang Iduladha hingga mencapai Rp 7,7 juta per ekor. Kenaikan drastis ini dipicu oleh pembengkakan biaya bahan bakar dan ongkos transportasi pengiriman ternak dari wilayah utara negara tersebut. Kondisi ekonomi ini memaksa banyak warga untuk membatalkan ibadah kurban serta tradisi mudik karena keterbatasan dana yang signifikan.
Selain harga ternak, kenaikan biaya transportasi dan operasional juga memukul sektor usaha kecil serta menurunkan daya beli masyarakat secara umum. Banyak keluarga kini terpaksa merayakan Iduladha secara sederhana tanpa penyembelihan hewan maupun perjalanan pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga besar. Situasi pelik ini mencerminkan betapa krisis ekonomi mulai mengikis tradisi keagamaan penting di Nigeria.