Nasib Saham GOTO Usai Didepak MSCI: Akankah Terus Jadi Saham Gocap?

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tengah berada dalam tekanan berat sejak awal Mei 2026. Berbagai sentimen negatif memicu aksi jual masif, yang berujung pada hengkangnya investor institusi asing dari raksasa teknologi nasional tersebut.

Advertisements

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sejak 1 Mei 2026, investor asing tercatat telah melepas 19,3 juta lot atau setara dengan 1,93 miliar saham GOTO. Fenomena capital outflow ini mencatatkan nilai aliran dana keluar mencapai sekitar Rp 96,6 miliar.

Tekanan ini bermula saat pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026. Kebijakan tersebut mengatur pemangkasan maksimal komisi bagi aplikator ojek online dari 20% menjadi 8%. Peraturan ini dinilai akan membebani prospek pendapatan perusahaan ride hailing, termasuk Gojek dan Grab. Meski manajemen GOTO menyatakan kesiapan untuk mematuhi regulasi tersebut, pasar merespons dengan pesimisme yang cukup dalam.

Baca juga:

  • Untung Rugi Kebijakan Baru DHE SDA: Perkuat Rupiah, Tak Ramah Investor?
  • IPO Merdeka Gold (EMAS) di Hong Kong Kian Dekat, Intip Geliat Bisnisnya
  • ARCI Wanti-Wanti Risiko Ekspor SDA Satu Pintu, Harga Emas Bisa Tertekan
Advertisements

Sejak 5 Mei 2026, saham GOTO sempat menyentuh level gocap atau Rp 50 per lembar saham. Kondisi harga yang stagnan di level terendah ini terus bertahan hingga penutupan perdagangan Jumat (29/5). Situasi semakin diperkeruh oleh keputusan MSCI yang membekukan rebalancing saham GOTO dalam peninjauan indeks Mei 2026. Lembaga pengelola indeks global tersebut beralasan bahwa harga saham yang tertahan di level Rp 50 menimbulkan risiko likuiditas serta potensi gangguan dalam replikasi indeks.

Pengumuman resmi MSCI mencakup pembekuan atas perubahan jumlah saham (NOS), foreign inclusion factor (FIF), domestic inclusion factor (DIF), constraint factors, hingga kebijakan penambahan maupun penghapusan saham GOTO dari indeks MSCI.

Prospek Saham GOTO: Ancaman ke Level Rp 1?

Lantas, bagaimana pandangan para analis mengenai nasib saham GOTO di masa depan? Beberapa pengamat pasar modal menilai pengumuman MSCI merupakan sinyal bahaya. Bahkan, terdapat spekulasi di kalangan analis bahwa saham ini berisiko turun lebih dalam hingga ke level Rp 1 per saham.

Elandry Pratama, analis pasar modal dari Panin Sekuritas cabang Pondok Indah, berpendapat bahwa pembekuan rebalancing MSCI memicu volatilitas jangka pendek akibat hilangnya ekspektasi tambahan dana pasif. Namun, ia menekankan bahwa investor tetap akan memantau fundamental perusahaan, terutama progres profitabilitas, pertumbuhan EBITDA, monetisasi ekosistem, serta efisiensi biaya.

“Ke depan, pergerakan GOTO kemungkinan akan lebih ditentukan oleh kinerja operasional dan sentimen sektor teknologi dibandingkan semata faktor MSCI,” ujar Elandry kepada Katadata, Jumat (29/5). Ia menambahkan, saham teknologi seperti GOTO berpeluang kembali diminati jika kondisi pasar global membaik dan selera risiko investor pulih.

Berbeda pandangan, riset dari Sinarmas Sekuritas justru lebih waspada. Broker ini menyoroti dua risiko utama bagi GOTO. Pertama, potensi didepaknya GOTO dari MSCI Global Standard Index pada evaluasi Agustus 2026 jika harga saham tidak kunjung membaik. Hal ini dikhawatirkan memicu aksi jual massal oleh manajer investasi global yang mereplikasi indeks tersebut.

Risiko kedua adalah potensi masuk ke Papan Pemantauan Khusus BEI dengan skema full call auction (FCA). Dalam mekanisme ini, perdagangan saham dilakukan tanpa antrean bid dan offer, yang meningkatkan potensi volatilitas harga secara drastis. Sinarmas Sekuritas bahkan menyebut bahwa dampak terburuk dari kondisi ini adalah penurunan nilai saham ke level Rp 1 per lembar.

Di sisi lain, Investment Specialist Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengakui bahwa pemangkasan komisi menjadi 8% adalah tantangan besar bagi pendapatan segmen on-demand services. Kendati begitu, ia melihat peluang pertumbuhan tetap ada pada lini bisnis GoTo Financial (GTF).

“Segmen fintech dapat menjadi katalis positif baru yang penting untuk menopang fundamental perusahaan ke depan,” jelas Azharys. Terkait rencana buyback saham senilai Rp 3,5 triliun, ia menilai langkah tersebut sebagai sinyal keyakinan manajemen bahwa valuasi GOTO saat ini sudah undervalued. Meski tidak berdampak instan terhadap harga, KISI tetap mempertahankan target harga saham GOTO di level Rp 65 per saham.

Ringkasan

Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tekanan berat setelah kebijakan pemangkasan komisi aplikator menjadi 8% memicu aksi jual masif oleh investor asing. Situasi diperparah dengan keputusan MSCI yang membekukan rebalancing saham GOTO akibat harga yang tertahan di level Rp50 per lembar, sehingga memicu kekhawatiran mengenai risiko likuiditas dan potensi penghentian keanggotaan dalam indeks global tersebut.

Analis pasar modal menyoroti risiko penurunan harga yang lebih dalam jika GOTO didepak dari indeks MSCI atau masuk ke dalam Papan Pemantauan Khusus BEI dengan mekanisme full call auction. Meskipun terdapat kekhawatiran akan penurunan harga lebih lanjut, potensi pertumbuhan dari segmen fintech serta rencana aksi buyback saham tetap dipandang sebagai katalis positif yang diharapkan dapat menopang fundamental perusahaan di masa depan.

Advertisements