Atasi Banjir, Pemprov DKI Percepat Pembangunan Infrastruktur Pengendalian Air

Banjir masih menjadi tantangan klasik yang harus dihadapi warga Jakarta setiap tahunnya. Guna meminimalisir dampak genangan akibat curah hujan tinggi, banjir kiriman dari hulu, hingga rob di kawasan pesisir, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus menggenjot berbagai inovasi dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir.

Advertisements

Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, menjelaskan bahwa infrastruktur yang ada saat ini masih memerlukan peningkatan kapasitas agar lebih tangguh menghadapi cuaca ekstrem. Menurut Ika, sistem yang tersedia saat ini efektif menangani curah hujan di kisaran 100-150 mm. Namun, untuk intensitas yang lebih tinggi, diperlukan kapasitas infrastruktur yang jauh lebih besar.

Sebagai langkah strategis dalam periode 2025–2027, DSDA DKI Jakarta fokus melakukan pembangunan dan pemeliharaan sungai, situ, serta waduk melalui proyek JakTirta dan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD). Pembangunan ini mencakup sistem polder, peningkatan kapasitas saluran drainase, pembangunan embung sebagai area retensi air, hingga tanggul pengaman pantai.

Dalam proyek JakTirta, pemerintah tengah mengerjakan sembilan paket pembangunan sistem polder di 13 lokasi dengan tambahan 63 unit pompa baru. Selain itu, terdapat revitalisasi sungai sepanjang dua kilometer dan pembangunan tanggul pengaman pantai dengan panjang yang sama. Fokus pembangunan sistem tata air ini tersebar di berbagai titik kritis, seperti Pompa Bulak Cabe, Pegangsaan Dua, Cilincing KBN, Warung Jengkol, Kampung Sawah Rawa Terate, Kayu Putih Rawa Terate, hingga Daan Mogot. Peningkatan kapasitas juga menyasar Pompa Ancol dan IKIP untuk memperkuat perlindungan di wilayah rawan banjir.

Advertisements

Pemerintah juga melakukan normalisasi serta perbaikan sarana di sejumlah sungai utama, seperti Kali Cakung Lama, Kali Jatikramat, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, dan Kali Cideng Atas. Upaya ini bertujuan agar sistem drainase perkotaan dapat berfungsi secara optimal dalam mengalirkan air.

Di sisi lain, penambahan daya tampung air dilakukan dengan membangun sejumlah embung dan waduk baru. Beberapa di antaranya meliputi Embung Pondok Labu seluas 1,82 hektare, Embung Kebagusan seluas 2,07 hektare, serta Waduk Sunter Hulu yang membentang seluas 7,3 hektare. Sementara itu, program normalisasi sungai terus digencarkan dengan memprioritaskan Sungai Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama.

Untuk menanggulangi ancaman banjir rob, program NCICD terus dipercepat melalui dua paket pekerjaan, yakni Fase A Tahap 3 Paket 1 di kawasan Pantai Mutiara dan Muara Baru, serta Paket 2 di Kali Blencong.

Di samping pembangunan fisik, Pemprov DKI Jakarta mengoptimalkan mitigasi banjir melalui pemeliharaan rutin. Hingga 17 April 2026, tercatat sebanyak 683 unit pompa stasioner di 246 lokasi dan 540 unit pompa mobile telah disiagakan untuk menjangkau titik-titik genangan. Kapasitas tampung air juga terus ditingkatkan melalui pengerukan dan pengurasan. Hingga 30 April 2026, volume pengerukan dan pengurasan mencapai 205.693 meter kubik, yang terdiri dari 179.897 meter kubik pengerukan dan 25.796 meter kubik pengurasan.

Guna merespons situasi darurat dengan cepat, DSDA DKI Jakarta menyiagakan Satgas Pasukan Biru yang bertugas melakukan pemantauan rutin serta memastikan operasional pompa berjalan dengan optimal. Dengan berbagai langkah mitigasi ini, Pemprov DKI Jakarta berharap penanganan banjir dapat lebih efektif. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada serta memanfaatkan aplikasi JAKI atau layanan darurat 112 apabila membutuhkan bantuan saat terjadi genangan.

Infrastruktur Pengendali Banjir DKI Jakarta (Dok Pemprov DKI Jakarta)

Ringkasan

Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Sumber Daya Air (DSDA) mempercepat pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur pengendali banjir untuk menghadapi cuaca ekstrem serta ancaman banjir rob. Langkah strategis periode 2025–2027 mencakup proyek JakTirta dan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), yang meliputi pembangunan sistem polder, penambahan pompa air, normalisasi sungai, serta pembangunan embung dan waduk baru. Fokus utama pembangunan tersebar di berbagai titik kritis di seluruh wilayah Jakarta guna meningkatkan kapasitas drainase perkotaan.

Selain pembangunan fisik, pemerintah mengoptimalkan mitigasi melalui pemeliharaan rutin, pengerukan, dan pengurasan saluran air secara berkala. Sebanyak ratusan unit pompa stasioner dan mobile, serta Satgas Pasukan Biru telah disiagakan untuk merespons situasi darurat dan memastikan sistem tata air berjalan optimal. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan dapat melaporkan kondisi genangan melalui aplikasi JAKI atau layanan darurat 112.

Advertisements