
Pemerintah Meksiko telah mengerahkan hampir 100.000 personel keamanan untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Strategi berskala besar yang dijuluki Plan Kukulkan ini difokuskan pada tiga kota tuan rumah utama, yaitu Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey.
Dilansir dari CNN, Senin (1/6), operasi yang mengambil nama dari dewa ular dalam mitologi Suku Maya ini melibatkan kolaborasi antara berbagai lembaga federal, pemerintah negara bagian, dan pemerintah lokal. Strategi ini juga didukung oleh koordinasi intensif dengan Amerika Serikat dan Kanada sebagai dua negara penyelenggara lainnya.
Langkah ini diambil mengingat jutaan pengunjung diprediksi akan memadati Meksiko selama turnamen berlangsung. Selain untuk memastikan keselamatan suporter, pemerintah berupaya memperbaiki citra negara yang kerap dipersepsikan negatif akibat kekerasan kartel narkoba dan tingginya angka kriminalitas. Kendati demikian, sejumlah pakar keamanan menilai bahwa ancaman bagi wisatawan asing relatif dapat dikendalikan selama turnamen.
Keamanan di Kota Tuan Rumah
Mexico City, yang dijadwalkan menggelar lima pertandingan termasuk laga pembuka pada 11 Juni mendatang, akan dijaga oleh sekitar 56.000 personel. Pengerahan ini mencakup polisi lalu lintas, unit khusus, polisi wisata, hingga pengawasan udara. Víctor Manuel Sanchez Valdes, peneliti dari Autonomous University of Coahuila, menjelaskan bahwa ibu kota Meksiko memiliki karakteristik keamanan yang unik. Meskipun diwarnai tantangan seperti perdagangan manusia dan peredaran narkoba, Mexico City memiliki rasio polisi dan kamera pengawas per kapita tertinggi di negara tersebut.
Di sisi lain, para pakar menekankan bahwa pengamanan tidak bisa hanya mengandalkan personel keamanan. Teresa Martinez, profesor dari Tecnológico de Monterrey, menyoroti pentingnya infrastruktur pendukung, seperti sistem transportasi yang beroperasi sepanjang malam agar akses bagi penggemar domestik maupun internasional tetap aman dan layak.
Tantangan Spesifik di Guadalajara dan Monterrey
Perhatian khusus tertuju pada Guadalajara, kota yang akan menyelenggarakan empat laga fase grup. Wilayah di Negara Bagian Jalisco ini dikenal sebagai basis kuat Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), salah satu kelompok kriminal paling mematikan. Selain ancaman kartel, Jalisco juga menghadapi krisis 16.000 kasus orang hilang, angka tertinggi di Meksiko. Penemuan jenazah di kuburan rahasia yang tak jauh dari stadion utama menjadi pengingat akan beratnya tantangan keamanan di wilayah ini.
Senada dengan itu, Monterrey yang terletak di Negara Bagian Nuevo Leon juga menjadi titik perhatian karena posisinya sebagai jalur perdagangan narkoba. Meski demikian, para ahli seperti Victoria Dittmar dari lembaga kajian InSight Crime berpendapat bahwa wisatawan lebih berisiko menghadapi kejahatan oportunistik seperti pencopetan, penipuan, atau pencurian kecil, daripada terlibat langsung dalam konflik kartel.
Dittmar menambahkan bahwa kelompok kriminal justru memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas selama Piala Dunia guna memaksimalkan keuntungan ekonomi dari sektor pariwisata. Meski begitu, para ahli tetap memperingatkan adanya risiko penipuan tiket, paket wisata bodong, hingga peredaran barang bajakan selama turnamen berlangsung.
Kritik dan Harapan Masyarakat
Di balik persiapan keamanan yang masif, muncul kritik tajam dari sebagian masyarakat Meksiko. Mereka mempertanyakan prioritas pemerintah yang dinilai lebih fokus melindungi wisatawan asing ketimbang menuntaskan isu kemanusiaan, seperti krisis orang hilang yang telah lama terjadi. Berbagai kelompok pencari korban bahkan telah melakukan aksi protes, menyatakan bahwa sumber daya negara seharusnya diarahkan untuk menangani persoalan domestik yang mendesak. Para pengamat pun memprediksi bahwa momentum Piala Dunia akan dimanfaatkan masyarakat sipil untuk kembali menyuarakan isu-isu sosial yang selama ini luput dari perhatian pemerintah.
Ringkasan
Pemerintah Meksiko meluncurkan “Plan Kukulkan” dengan mengerahkan hampir 100.000 personel keamanan di Mexico City, Guadalajara, dan Monterrey untuk menjamin keselamatan selama Piala Dunia 2026. Strategi ini melibatkan koordinasi lintas lembaga serta kerja sama internasional dengan Amerika Serikat dan Kanada guna menekan ancaman kriminalitas serta memperbaiki citra negara. Meskipun terdapat kekhawatiran terkait aktivitas kartel narkoba di beberapa wilayah, para ahli menilai risiko bagi wisatawan cenderung terbatas pada kejahatan oportunistik seperti pencopetan dan penipuan.
Di balik persiapan masif tersebut, muncul kritik dari masyarakat yang menilai pemerintah lebih memprioritaskan keamanan wisatawan asing dibandingkan isu kemanusiaan domestik yang mendesak, seperti krisis orang hilang. Pakar keamanan menegaskan pentingnya infrastruktur pendukung, seperti transportasi publik yang aman, untuk melengkapi kehadiran personel keamanan. Meskipun kelompok kriminal diprediksi akan menjaga stabilitas selama turnamen demi keuntungan ekonomi, masyarakat sipil tetap berencana menggunakan momentum Piala Dunia untuk menyuarakan persoalan sosial yang belum terselesaikan.