Rupiah Anjlok ke Rp17.966, Apa Langkah Strategis Bank Indonesia?

Jakarta, IDN Times – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan berat hingga menyentuh level terendahnya terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada pembukaan perdagangan hari ini, mata uang Garuda berada di angka Rp17.897 per dolar AS, dan pelemahan tersebut berlanjut hingga penutupan perdagangan di level Rp17.966,5 per dolar AS.

Advertisements

Di tengah volatilitas yang tinggi ini, Bank Indonesia (BI) telah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Berikut adalah upaya yang dilakukan otoritas moneter untuk meredam gejolak di pasar keuangan:

1. Komitmen Menjaga Stabilitas di Pasar

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau dinamika pasar keuangan global maupun domestik yang berdampak langsung pada pergerakan rupiah.

Advertisements

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur, guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal,” ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Rabu (3/6/2026).

2. Optimalisasi Instrumen dan Likuiditas Valas

BI memastikan akan tetap aktif di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang tersedia. Langkah ini diambil untuk menjamin mekanisme pasar berjalan dengan baik serta menjaga kecukupan likuiditas valuta asing (valas) di dalam negeri.

Menurut Ramdan, upaya stabilisasi tidak terbatas pada intervensi di pasar valas saja. BI juga berfokus pada kelancaran transaksi serta pemenuhan kebutuhan likuiditas bagi para pelaku usaha maupun investor agar roda ekonomi tetap terjaga.

3. Pengetatan Aturan Pembelian Valas

Sebagai langkah mitigasi tambahan, BI memberlakukan ketentuan baru terkait pembelian valuta asing tanpa underlying. Efektif sejak 2 Juni 2026, batas maksimal pembelian tunai valas terhadap rupiah tanpa dokumen pendukung ditetapkan sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.

Kebijakan ini diharapkan mampu menciptakan keseimbangan antara permintaan dan penawaran valas di pasar domestik, terutama di tengah meningkatnya tekanan eksternal yang membebani mata uang nasional.

4. Perluasan Kerja Sama Mata Uang Lokal

Langkah strategis lainnya adalah perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara melalui skema Local Currency Transaction (LCT). Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memitigasi risiko gejolak nilai tukar global.

“Saat ini kerja sama LCT Indonesia telah berjalan dengan sejumlah negara mitra, yakni China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab,” jelas Ramdan.

Bank Indonesia menekankan bahwa menjaga stabilitas rupiah tidak bisa dilakukan sendirian. Oleh karena itu, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), perbankan, pelaku usaha, serta seluruh pemangku kepentingan di pasar keuangan agar ketahanan ekonomi nasional tetap terjaga.

Ringkasan

Nilai tukar rupiah mengalami tekanan signifikan hingga menyentuh level Rp17.966 per dolar AS. Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar melalui pemantauan pasar yang ketat serta optimalisasi instrumen kebijakan untuk menjamin ketersediaan likuiditas valuta asing.

Langkah strategis lainnya mencakup pembatasan pembelian valas tanpa dokumen pendukung maksimal 25.000 dolar AS per bulan serta perluasan penggunaan skema Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global.

Advertisements