Gejolak dalam rantai pasok global akibat dinamika di negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Tiongkok menciptakan peluang emas bagi Asia Tenggara. Kawasan ini kini dipandang sebagai calon pemain kunci yang berpotensi meraup keuntungan signifikan dari pergeseran lanskap ekonomi dunia.
Menurut lembaga konsultasi terkemuka Roland Berger, untuk memaksimalkan potensi ini, negara-negara anggota ASEAN sangat perlu memperkuat integrasi ekonomi mereka. John Low, Managing Partner Roland Berger Southeast Asia, menekankan pentingnya kolaborasi yang erat, mulai dari tingkat pemerintahan hingga korporasi, demi membentuk front ekonomi yang lebih kokoh.
Low menjelaskan bahwa periode 1990 hingga 2008 menjadi era keemasan bagi Tiongkok, yang berhasil menarik gelombang manufaktur dari Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Namun, tren ini kini mulai bergeser. Kekuatan manufaktur global diprediksi akan secara bertahap berpindah haluan menuju Asia Tenggara dan Asia Selatan.
Pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor krusial. Tiongkok sendiri saat ini tengah mengarahkan fokusnya pada pengembangan industri berbasis teknologi dan inovasi yang lebih maju. Selain itu, Negeri Tirai Bambu juga menghadapi serangkaian tantangan, termasuk isu relokasi industri serta penerapan tarif impor yang signifikan oleh Amerika Serikat, yang semuanya turut mempercepat eksodus manufaktur.
Dalam diskusi yang diadakan di Kuala Lumpur, Malaysia, John Low menyoroti pentingnya pertanyaan fundamental: “Berdasarkan skenario ini, bagaimana kita bisa bekerja sama sebagai ASEAN?” Beliau menekankan bahwa alih-alih terus menerus berfokus pada kompetisi, negara-negara ASEAN seharusnya lebih mengedepankan kolaborasi di berbagai sektor. Salah satu area potensial untuk kerja sama adalah riset dan pengembangan (R&D), sebuah fondasi penting untuk inovasi.
Lebih lanjut, Low menyarankan agar setiap negara ASEAN mempertimbangkan untuk menawarkan komoditas yang berbeda, bukan bersaing dalam produk yang sama. Industri semikonduktor, misalnya, menunjukkan bagaimana diversifikasi penawaran dapat menciptakan sinergi daripada rivalitas. “Saya pikir setiap negara harus berpikir bagaimana mereka bisa menawarkan sesuatu yang berbeda dari kompetitor,” tegas Low, menyerukan pendekatan strategis yang unik bagi setiap anggota kawasan.
Integrasi yang lebih kuat, menurut Low, adalah kunci utama bagi ASEAN untuk menavigasi pergeseran dalam rantai pasok global. Dengan populasi sekitar 700 juta jiwa, Asia Tenggara merupakan pasar konsumen yang kolosal, sebuah kekuatan internal yang bisa dimanfaatkan. “Kita bisa berpikir tentang hal-hal yang bisa membantu kita secara internal, karena kita memiliki pasar konsumen yang besar,” ujarnya, menyoroti potensi besar di dalam kawasan itu sendiri.
Selain memperkuat kerja sama, Low juga menggarisbawahi bahwa transformasi negara-negara Asia Tenggara harus mencakup transisi dari sekadar memproduksi komoditas bernilai rendah menjadi barang-barang dengan kualitas dan nilai yang lebih tinggi. Untuk mencapai hal ini, daya tarik investasi dalam riset dan pengembangan menjadi sangat krusial. Low menjelaskan bahwa teknologi adalah fondasi kemandirian ekonomi, mencontohkan bagaimana Tiongkok kini berupaya keras untuk tidak lagi bergantung pada teknologi Amerika Serikat. “Kita perlu memindahkan lebih banyak R&D, lebih banyak produk teknologi tinggi, lebih banyak pekerjaan yang berkualitas yang lebih tinggi,” pungkasnya, mendorong inovasi dan peningkatan kualitas tenaga kerja.
Kekuatan dan Kelemahan Negara ASEAN
Sebuah studi mendalam oleh Roland Berger turut menguraikan berbagai kekuatan, kelemahan, serta rekomendasi kebijakan bagi setiap negara di Asia Tenggara, yang bertujuan untuk membantu mereka memperkuat posisi sebagai pusat rantai pasok dunia.
Ambil contoh Indonesia, yang menyumbang 36% dari PDB ASEAN. Kekuatan utamanya terletak pada dominasinya sebagai produsen 42% nikel dunia, sebuah mineral vital untuk baterai kendaraan listrik. Namun, di balik potensi besar ini, Indonesia masih menghadapi tantangan berupa peringkat logistik global yang relatif rendah (peringkat 61) dan kerumitan regulasi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang dapat menghambat investasi.
Sementara itu, Malaysia menonjol sebagai salah satu sentra produksi semikonduktor global yang krusial. Data Roland Berger mengungkap bahwa sepertiga dari total ekspor produk kategori Outsourced Semiconductor Assembly and Test (OSAT) berasal dari Negeri Jiran. Kendati demikian, Malaysia juga dibayangi tantangan seperti kelangkaan tenaga kerja ahli dan tekanan akibat kenaikan upah pekerja yang terus meningkat.
Vietnam, di sisi lain, memiliki keunggulan sebagai pusat manufaktur dengan struktur upah pekerja yang sangat kompetitif, menarik total investasi asing langsung senilai US$38 miliar. Namun, negara ini bergulat dengan tantangan seperti tingginya biaya logistik dan dampak lanjutan dari penerapan tarif oleh Amerika Serikat yang dapat memengaruhi ekspornya.
Studi Roland Berger juga menyoroti Thailand sebagai kekuatan dominan dalam manufaktur otomotif di kawasan. Meski demikian, efisiensi proses bea cukai yang masih rendah serta tekanan dari kenaikan upah pekerja menjadi hambatan signifikan bagi negara ini.
Untuk Filipina, kekuatannya terletak pada ketersediaan tenaga kerja berbahasa Inggris yang melimpah dan fondasi industri elektronik yang mapan. Namun, negara kepulauan ini dihadapkan pada biaya energi yang tinggi dan disparitas infrastruktur yang belum merata, menjadi pekerjaan rumah besar untuk pengembangan lebih lanjut.
Terakhir, Singapura diakui sebagai raksasa dengan kekuatan finansial, teknologi, dan logistik kelas dunia. Arus investasi ke negara kota ini bahkan mencapai 75% dari total modal yang masuk ke Asia Tenggara. Kendati demikian, “Negeri Singa” juga memiliki kelemahan, yaitu tingginya biaya operasional dan permintaan domestik yang relatif lemah, menjadikannya lebih bergantung pada pasar eksternal.
Ringkasan
Gejolak rantai pasok global menciptakan peluang bagi ASEAN untuk menjadi pemain kunci. Roland Berger menekankan pentingnya integrasi ekonomi yang kuat antar negara anggota ASEAN melalui kolaborasi erat, mulai dari pemerintahan hingga korporasi, untuk membentuk front ekonomi yang lebih solid.
Setiap negara ASEAN perlu menawarkan komoditas yang berbeda daripada bersaing di produk yang sama, seperti industri semikonduktor. Selain itu, ASEAN perlu bertransformasi dari sekadar memproduksi komoditas bernilai rendah menjadi barang-barang berkualitas tinggi dengan meningkatkan investasi dalam riset dan pengembangan.