
Tahun ini, perhatian dunia tertuju pada Belém, ibu kota negara bagian Pará di wilayah utara Brasil, yang siap menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-30 atau COP30. Terletak strategis di muara Sungai Pará, kota ini bukan sekadar lokasi acara global, melainkan juga sebuah permata dengan sejarah yang kaya dan posisi unik sebagai pintu gerbang menuju keajaiban Amazon.
Kisah Belém dimulai pada 12 Januari 1616, ketika Portugis mendirikannya sebagai pemukiman benteng bernama Forte do Presepio. Pendirian ini bertujuan vital untuk mengamankan kendali mereka atas wilayah utara Brasil dan menggagalkan ambisi kolonisasi Prancis. Sepanjang perjalanannya, kota ini telah menyandang beberapa nama, mulai dari Feliz Lusitânia, kemudian Santa Maria do Grão Pará, dan Santa Maria de Belém do Grão Pará, hingga akhirnya disingkat menjadi nama yang kita kenal sekarang, Belém.
Berkat posisi geografisnya yang strategis di delta Amazon, Belém tumbuh menjadi pelabuhan krusial, berfungsi sebagai gerbang utama untuk ekspor melimpah hasil alam dari kawasan Amazon. Peran penting ini sangat terasa selama masa kejayaan industri karet di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika kota ini menjadi pusat perdagangan global yang vital.
Usulan untuk menjadikan Brasil tuan rumah COP30 datang langsung dari Presiden Luiz Inacio Lula da Silva saat beliau menghadiri COP27 di Mesir. Ini adalah langkah strategis yang mencerminkan komitmen negara terhadap isu iklim global.
Dalam sebuah video yang diunggah di akun X (Twitter) dan dikutip oleh CNN, Lula mengungkapkan alasannya yang mendalam: “Saya telah berpartisipasi di COP Mesir, Paris, Kopenhagen, di mana semua orang berbicara tentang Amazon. Jadi, mengapa tidak mengadakan COP di Amazon sehingga orang-orang bisa mengenal Amazon, melihat sungai-sungainya, hutannya, dan faunanya?” Pernyataan ini menegaskan keinginan kuat untuk membawa isu Amazon ke garis depan diskusi iklim global, memungkinkan para delegasi merasakan langsung denyut jantung ekosistem yang ingin mereka lindungi.
Memang, Belém secara harfiah adalah pintu gerbang vital menuju keindahan kawasan hutan hujan tropis dan lebar Sungai Amazon yang legendaris. Catatan UNESCO bahkan mengungkapkan keberadaan sekitar 40 pulau menawan di wilayah Delta Amazon yang mengelilingi kota ini. Dengan demikian, Belém menjadi sebuah simpul unik, di mana hiruk-pikuk kehidupan urban bertemu harmonis dengan kemegahan ekosistem Amazon yang tak tertandingi.
Daya tarik Belém juga terpancar dari arsitektur Belle Epoque dan Art Nouveau-nya yang anggun, sisa kejayaan masa kolonial Portugis yang masih berdiri kokoh. Di jantung kota, terdapat ikon legendaris: Mercado Ver-o-Peso. Pasar terbuka tertua dan terbesar di Amerika Latin ini terletak persis di tepi pelabuhan, menyajikan perpaduan unik antara perdagangan tradisional hasil hutan Amazon, ikan sungai segar, buah-buahan eksotik seperti acai, hingga rempah-rempah khas yang menggoda indera.
Sebagai ibu kota negara bagian Pará, Belém memang sangat kental dengan tradisi dan budaya yang memesona. Salah satu perayaan paling monumental adalah festival religius tahunan Cirio de Nazare, yang menurut laman COP30 Brasil, merupakan festival terbesar di negara ini. Setiap bulan Oktober, lebih dari dua juta orang dari berbagai penjuru berkumpul dalam prosesi akbar untuk merayakan Bunda Maria dari Nazaret. Keagungan festival ini bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda, membuktikan kekayaan spiritual dan sosial Belém.
Para seniman di Kota Belem (COP30 Brasil Amazonia/Rafael Medelima)
Kesenian dan ekspresi budaya juga sangat menonjol di Belém, dengan para seniman yang bangga melestarikan tarian dan musik tradisional. Contoh paling menonjol adalah Carimbó, sebuah tarian dinamis yang lahir dari perpaduan unik pengaruh penduduk asli, Afrika, dan Eropa. Carimbó kini menjadi simbol budaya populer yang tak terpisahkan dari Pará, di mana para perempuan dengan rok warna-warni berputar anggun, berdansa berpasangan dalam irama yang hidup, riang, dan penuh semangat.
Untuk menyambut hajatan sebesar COP30, Pemerintah Brasil telah mengalokasikan investasi besar senilai US$ 1 miliar (sekitar Rp 16,7 triliun) untuk mempersiapkan Belém. Dana ini difokuskan pada pembangunan sejumlah infrastruktur vital dan hotel-hotel baru, memastikan kota ini siap menerima delegasi global.
Presidensi COP30 memperkirakan kehadiran sekitar 50 ribu peserta, termasuk 150 kepala negara, menandakan skala acara yang monumental. Namun, persiapan ini bukannya tanpa tantangan. Salah satu isu krusial yang sempat mencuat adalah masalah akomodasi, di mana beberapa delegasi, terutama dari negara-negara berkembang, mengeluhkan tingginya biaya dan keterbatasan ketersediaan kamar.
Untuk mengatasi kendala ini secara kreatif, Pemerintah Brasil telah mengambil inisiatif dengan menyediakan sejumlah kapal pesiar. Solusi inovatif ini diharapkan dapat menambah sekitar 5.000 kamar, secara signifikan memperluas kapasitas akomodasi bagi para delegasi yang akan hadir di COP30.
Para pekerja bangunan di Parque da Cidade, Kota Belem, Brasil (COP30/Rafael Medelima)
Ringkasan
Belém, ibu kota negara bagian Pará di Brasil, akan menjadi tuan rumah COP30. Kota ini memiliki sejarah panjang sejak didirikan oleh Portugis pada tahun 1616 dan menjadi pelabuhan penting di delta Amazon, terutama selama masa kejayaan industri karet. Presiden Lula da Silva mengusulkan agar COP diadakan di Amazon agar isu-isu terkait Amazon dapat lebih diperhatikan secara global.
Belém memiliki daya tarik arsitektur Belle Epoque dan Art Nouveau, serta pasar Mercado Ver-o-Peso yang terkenal. Kota ini juga dikenal dengan festival Cirio de Nazare dan tarian Carimbó. Pemerintah Brasil menginvestasikan US$1 miliar untuk persiapan COP30, termasuk pembangunan infrastruktur dan penyediaan akomodasi tambahan melalui kapal pesiar untuk menampung sekitar 50 ribu peserta.