Jenguk Andrie Yunus, Anies dan Novel Baswedan minta Prabowo ikut turun tangan

Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, didampingi oleh mantan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan, menyempatkan diri menjenguk Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada Sabtu (14/3) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Kunjungan ini dilakukan menyusul insiden tragis pada Kamis malam, 12 Maret, ketika Andrie disiram air keras oleh orang tak dikenal di Jalan Salemba, Jakarta Pusat, yang mengakibatkan luka serius dan membutuhkan perawatan intensif.

Advertisements

Dalam kunjungan singkat sekitar 20 menit, Anies dan Novel didampingi oleh dua pengurus KontraS, yakni Kepala Divisi Riset Hans Giovanny dan Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Jane Rosalina. Mereka menjenguk Andrie di ruang high care unit (HCU) di mana ia menjalani pemulihan. Kondisi Andrie yang memerlukan isolasi ketat membatasi interaksi Anies dan Novel hanya dengan tim medis, namun mereka sempat berjumpa dengan keluarga inti Andrie – ayah, ibu, dan adiknya – di ruang perawatan, tetap di bawah pengawasan ketat tim medis.

Merespons serangan brutal ini, Anies Baswedan dengan tegas mendesak aparat kepolisian untuk segera menelusuri tidak hanya para pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap dalang di balik aksi keji tersebut. “Kita percayakan kepada aparat kepolisian untuk bisa mencari pelakunya, menemukan pelakunya, lalu sampai kepada pemberi perintahnya. Bukan hanya pada eksekutor di lapangan, tapi pemberi perintahnya,” tutur Anies dalam konferensi pers yang digelar di Lobi Kanigara RSCM.

Anies menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa Andrie Yunus. Menurutnya, kejadian ini adalah indikasi nyata adanya upaya untuk membungkam suara-suara kritis. Ia menekankan pentingnya peran negara dan pemerintah dalam melindungi para pengkritik demi menjaga agar kehidupan demokrasi di Indonesia tidak mengalami kemunduran. “Kalau sampai ini tidak terbukti, tidak terungkap, maka muncul pertanyaan apakah ini ada negara di dalamnya atau tidak? Apa negara sengaja membiarkan?” ujar Anies, menyoroti potensi implikasi serius bagi negara dan kepercayaan publik.

Advertisements

Senada dengan Anies, Novel Baswedan turut menganalisis serangan tersebut. Berdasarkan rekaman CCTV yang beredar, Novel menduga kuat bahwa pelaku penyerangan terhadap Andrie Yunus tidak bertindak sendiri, melainkan merupakan bagian dari kelompok terorganisir. Ia berkeyakinan bahwa aksi ini telah dipersiapkan matang, bahkan kemungkinan melibatkan proses briefing atau koordinasi sebelum tindakan dilakukan. “Mereka (pelaku) sepertinya berkelompok dan melakukannya sangat terorganisir. Sehingga saya juga menduga sebelum melakukan tindakan mereka pasti ada kayak briefing,” jelas Novel, yang pengalamannya sebagai penyidik senior KPK memberikan bobot pada analisisnya.

Mendesak Perhatian Presiden

Novel Baswedan, dengan latar belakangnya sebagai mantan Kasat Reskrim Polres Bengkulu, menegaskan bahwa penyerangan terhadap Andrie Yunus bukanlah kejahatan spontan atau kriminalitas biasa. Ia menduga kuat ada motif tertentu di balik serangan ini yang harus diungkap tuntas melalui proses penyidikan dan penyelidikan yang mendalam. Sejalan dengan Anies, Novel juga menekankan urgensi penanganan kasus ini secara komprehensif, termasuk menjerat aktor intelektualnya agar tindakan brutal serupa tidak terulang di kemudian hari. “Yang pasti ini bukan kejahatan spontan, tapi sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan motif,” tegas Novel.

Mantan penyidik KPK ini menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan aparat kepolisian dalam mengusut tuntas kasus penyerangan Andrie Yunus. Namun, ia juga menyerukan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk dari level tertinggi negara, yakni Presiden Prabowo Subianto. “Saya katakan bahkan dari Presiden pun harus memberikan perhatian soal ini. Kenapa? Karena ini adalah orang yang memperjuangkan kepentingan umum dan kemanusiaan. Kalau orang begini diserang, maka yang rugi adalah kepentingan negara,” ujar Novel, menekankan bahwa serangan terhadap pejuang kemanusiaan adalah kerugian bagi kepentingan bangsa.

Sekretaris Jenderal KontraS, Andy Irfan, menambahkan detail krusial mengenai waktu kejadian. Ia mengungkapkan bahwa penyerangan terjadi sesaat setelah Andrie Yunus menyelesaikan perekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Podcast tersebut mengangkat tema sensitif “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia” dan selesai sekitar pukul 23.00 WIB, mengindikasikan kemungkinan motif yang berkaitan dengan aktivitas kritis Andrie.

Akibat insiden tersebut, Andrie Yunus menderita luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh, terutama pada tangan kanan dan kiri, wajah, dada, serta area mata. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis awal, ia mengalami luka bakar tingkat keparahan sekitar 24% dan saat ini masih menjalani penanganan intensif di rumah sakit, sebuah kondisi yang menggambarkan betapa keji tindakan yang menimpanya.

Advertisements