PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) berupaya keras memenuhi kebutuhan gas nasional. Tahun depan, PGN membutuhkan 19 kargo gas alam cair (LNG) untuk memastikan pasokan gas bagi para pelanggannya. LNG ini akan diregasifikasi terlebih dahulu sebelum didistribusikan.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Arief Setiawan Handoko, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengamankan sebagian besar kebutuhan tersebut. “Saat ini, kami sudah dapat mengamankan 14 kargo LNG,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR RI di Jakarta, Senin (17/11).
Kebutuhan LNG ini menjadi krusial bagi PGN, terutama di tengah tren penurunan pasokan gas dari sumber-sumber hulu. Penurunan ini disebabkan oleh kondisi alamiah sumur-sumur gas yang sudah tua.
Arief menjelaskan bahwa 14 kargo LNG yang sudah diamankan tersebut berasal dari alokasi gas yang diberikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Sementara itu, untuk memenuhi kekurangan 5 kargo, PGN masih terus berkoordinasi dan melakukan pembahasan intensif dengan Kementerian ESDM dan SKK Migas.
Sebagai catatan, PGN saat ini memegang peranan penting dalam infrastruktur gas di Indonesia. Perusahaan ini menguasai 95% dari total infrastruktur gas nasional, sementara sisanya, 5%, dikelola oleh pihak swasta.
Kebutuhan Kargo LNG Semester 1 2025
Sebelumnya, SKK Migas mencatat bahwa kebutuhan 16 kargo LNG untuk PGN dan PLN di semester pertama tahun 2025 telah berhasil dipenuhi dari sumber-sumber domestik. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, bahkan menegaskan bahwa Indonesia sebenarnya belum memerlukan impor LNG.
“Saat ini belum perlu impor. Pasokan untuk kebutuhan April dan Mei, Alhamdulillah, sudah bisa dipenuhi dari dalam negeri,” kata Djoko saat ditemui di Jakarta, Rabu (9/4).
Meskipun demikian, pemerintah tetap melakukan evaluasi secara berkala untuk mengantisipasi kebutuhan di masa depan. “Kebutuhan kuartal II insya Allah aman. Nanti kami lihat untuk kuartal III dan IV, apakah perlu impor atau tidak,” lanjutnya.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah juga telah mengalihkan pasokan 5 kargo LNG yang semula dialokasikan untuk ekspor demi memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pasokan LNG ini berasal dari Lapangan Donggi Senoro, Tangguh, dan Bontang.
“Bapak Menteri sudah tanda tangan juga, tapi memang harganya agak tinggi ya, 17,4% (lebih mahal),” ungkap Djoko.
Selain itu, upaya pemenuhan kebutuhan LNG domestik juga dioptimalkan melalui pengurangan ekspor gas ke Singapura. Pasokan ekspor gas Singapura dari Sumatra akan dialihkan melalui pipa gas dari Natuna.
Ringkasan
PGN membutuhkan 19 kargo LNG untuk tahun 2026 guna memenuhi kebutuhan gas nasional di tengah penurunan pasokan dari sumber hulu. Saat ini, perusahaan telah mengamankan 14 kargo LNG melalui alokasi dari Kementerian ESDM dan SKK Migas dan berupaya memenuhi kekurangan 5 kargo lainnya.
SKK Migas sebelumnya mencatat kebutuhan 16 kargo LNG untuk PGN dan PLN di semester pertama 2025 telah terpenuhi dari sumber domestik, dan Indonesia belum memerlukan impor LNG. Pemerintah mengalihkan pasokan 5 kargo LNG yang semula untuk ekspor dan mengurangi ekspor gas ke Singapura sebagai langkah antisipasi pemenuhan kebutuhan dalam negeri.