Adu kinerja emiten sawit konglomerat: TAPG, AALI, SSMS, LSIP, siapa paling cuan?

Kinerja emiten perkebunan kelapa sawit kompak menguat sepanjang 2025. Kenaikan tersebut ditopang oleh sejumlah faktor, mulai dari meningkatnya permintaan domestik melalui implementasi program B40 hingga rencana penerapan B50 yang telah bergulir sejak tahun lalu.

Advertisements

Selain itu, terbatasnya pasokan global serta kenaikan harga crude palm oil (CPO) pada 2024 turut mendorong lonjakan kinerja keuangan perusahaan-perusahaan sawit. Sejumlah emiten sawit yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) antara lain PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dari Grup Astra, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang terafiliasi dengan konglomerat Theodore Permadi Rachmat serta PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) milik Anthoni Salim.

Apabila menilik kinerja masing-masing perseroan, baik dari sisi fundamental maupun pergerakan saham, kinerja emiten-emiten tersebut menunjukkan tren positif sepanjang tahun lalu. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), misalnya, mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,47 triliun pada 2025, meningkat 28,94% secara tahunan.

Sejalan dengan itu, harga saham AALI juga menguat 19,91% dalam periode 2 Januari hingga 30 Desember 2025. Sementara itu, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) mencatatkan kinerja saham yang lebih agresif dengan lonjakan sebesar 78,12% dalam periode yang sama. 

Advertisements

Pertumbuhan kinerja emiten sawit ini mencerminkan optimisme investor terhadap prospek sektor sawit. Berikut ulasan singkat kinerja keuangan sejumlah emiten sawit yang tercatat di BEI.

AALI Cetak Laba Rp 1,47 Triliun

Emiten perkebunan kelapa sawit Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) membukukan laba bersih sebesar Rp 1,47 triliun sepanjang 2025. Jumlag ini meningkat 28,24% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,14 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025, AALI mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 28,65 triliun, naik 31,34% secara tahunan (year on year) dari Rp 21,81 triliun pada 2024.

Secara rinci, mayoritas pendapatan perseroan berasal dari penjualan crude palm oil (CPO) dan turunannya yang mencapai Rp 25,52 triliun. Sementara itu, kontribusi dari inti sawit dan turunannya sebesar Rp 3,12 triliun, serta pendapatan lain-lain sebesar Rp 10,92 miliar.

Dari sisi geografis, wilayah Sulawesi menjadi kontributor terbesar dengan nilai pendapatan Rp 16,67 triliun. Disusul oleh Kalimantan sebesar Rp 12,88 triliun dan Sumatra sebesar Rp 11,77 triliun.

Di pasar saham, kinerja AALI juga menunjukkan tren positif. Harga saham perseroan naik 19,91% dari Rp 6.150 per saham pada 2 Januari 2025 menjadi Rp 7.375 per saham pada 30 Desember 2025. Sementara itu, sepanjang 2026, saham AALI kembali menguat 7,80% ke level Rp 7.950 per saham.

Lonjakan Laba Bersih DSNG Jadi Rp 1,84 Triliun

Selanjutnya emiten perkebunan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) juga mencatatkan kinerja cemerlang sepanjang 2025. Laba bersih perseroan melonjak 78,12% menjadi Rp 1,84 triliun, dari Rp 1,14 triliun pada tahun sebelumnya.

Kenaikan laba tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan yang mencapai Rp 12,31 triliun, meningkat dari Rp 10,11 triliun secara tahunan (year on year/yoy).

Secara rinci, pendapatan DSNG didominasi oleh penjualan crude palm oil (CPO) untuk ekspor sebesar Rp 10,96 triliun, serta penjualan domestik sebesar Rp 1,35 triliun.

Dalam menjalankan bisnisnya, DSNG menjual produk sawit ke sejumlah perusahaan dalam negeri, seperti PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), Wilmar Nabati Indonesia, dan Kutai Refinery Nusantara.

Di pasar saham, kinerja DSNG juga menunjukkan penguatan signifikan. Harga saham perseroan melesat dari Rp 900 per saham menjadi Rp 1.540 per saham, atau naik 71,11% sepanjang 2025.

Laba TAPG Naik Jadi Rp 3,70 Triliun

Di antara emiten perkebunan sawit nasional, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) yang terafiliasi dengan Theodore Permadi Rachmat mencatatkan laba bersih tertinggi. Perseroan membukukan laba sebesar Rp 3,70 triliun sepanjang 2025, meningkat 18,58% secara tahunan (year on year/yoy) dari Rp 3,12 triliun.

Sejalan dengan itu, pendapatan TAPG dari kontrak dengan pelanggan juga tumbuh menjadi Rp 11,40 triliun, naik dari Rp 9,67 triliun pada periode sebelumnya.

Berdasarkan lini bisnis, mayoritas pendapatan perseroan berasal dari produk kelapa sawit dan turunannya yang mencapai Rp 11,37 triliun. Sementara itu, kontribusi dari produk karet dan turunannya tercatat sebesar Rp 23,54 miliar.

Daftar Kinerja Keuangan 7 Emiten Sawit Tahun Buku 2025

No

Emiten

Laba 2025

Laba 2024

Selisih (%)

Harga saham 2 Januari 2025 (per saham)

Harga Saham 30 Desember2025 (per saham)

Selisih (%)

1.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

Rp 1,47  triliun

Rp 1,14 triliun

28,94%

Rp 6.150

Rp 7.375

19,91% 

2. 

PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)

Rp 1,88 triliun

Rp 1,47 triliun

27,89%

Rp 995

Rp 1.195

20,50%

3.

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP)

Rp 2,06 triliun

Rp 1,54 triliun

33,76%

Rp 378

Rp 570

50,79%

4.

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)

Rp 1,84 triliun

Rp 1,14 triliun

78,12%

Rp 900

Rp 1.540

71,11%

5.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)

Rp 3,70 triliun

Rp 3,12 triliun

18,58%

Rp 745

Rp 1.500

121,61%

6.

PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO)

Rp 359,67 miliar

Rp 748,56 miliar

-51,95%

Rp 2.110

Rp 7.575

259%

7.

PT Sawit Sumber Mas Sarana Tbk (SSMS)

Rp 1,16 triliun

819,53 miliar

41,63%

Rp 1.210

Rp 1.535

26,85%

(Sumber: laporan keuangan masing-masing emiten serta data perdagangan BEI, dikutip Senin (13/4).

Prospek Saham Emiten Perkebunan Sawit 2026

Pada 2026, prospek perusahaan sawit diprediksi masih positif. Hal tersebut didorong oleh rencana pemerintah yang akan memberlakukan kebijakan biodiesel 50% atau B50 pada 1 Juli 2026. Kebijakan ini diperkirakan memangkas kuota ekspor crude palm oil (CPO) hingga tujuh juta ton. Hal tersebut bakal menambah permintaan baru yang lebih stabil bagi perusahaan sawit dalam negeri.

Biodiesel adalah bahan bakar alternatif yang terbuat dari minyak nabati atau hewani yang dapat digunakan untuk menggantikan solar pada mesin diesel. Indonesia saat ini telah menerapkan campuran biodiesel 40% atau B-40.

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai implementasi B50 berpotensi menjadi sentimen positif jangka menengah bagi saham-saham sektor sawit. Menurut dia, kebijakan tersebut dapat meningkatkan visibilitas permintaan (demand) serta menekan volatilitas harga CPO. Kendati demikian, pasar tetap akan mencermati faktor global, termasuk pergerakan harga CPO dan permintaan ekspor.

“Namun pasar tetap akan mempertimbangkan faktor global seperti harga CPO dan permintaan ekspor,” ujar Elandry kepada Katadata, dikutip Rabu (8/4).

Elandry menjelaskan, implementasi B50 akan meningkatkan permintaan CPO domestik secara signifikan seiring kenaikan porsi campuran dari B35 menjadi B50.

Secara kasar, kebutuhan CPO untuk biodiesel berpotensi meningkat sekitar 15% hingga 25% dibandingkan skema sebelumnya, bergantung pada realisasi distribusi dan kapasitas produksi fatty acid methyl ester (FAME). Peningkatan tersebut menciptakan buffer permintaan baru yang dapat menahan tekanan harga saat ekspor melemah.

Seiring prospek tersebut, Elandry merekomendasikan sejumlah saham emiten sawit. Ia menjagokan saham TAPG dengan target harga di kisaran 2.000–2.100, didukung integrasi hilir dan eksposur pada biodiesel.

Selain itu, DSNG dinilai menarik dengan target 1.800–1.900 seiring efisiensi operasional dan diversifikasi bisnis. Adapun LSIP dipandang lebih defensif dengan target harga 1.600–1.700.

Sementara itu, AALI direkomendasikan hold dengan target 8.200–8.500, mengingat kinerjanya lebih sensitif terhadap fluktuasi harga CPO global dibandingkan emiten lainnya.

Advertisements