Apa itu Lontong Cap Go Meh? Hidangan khas dalam perayaan Imlek

Ingin tahu apa itu Lontong Cap Go Meh? Hidangan istimewa ini, yang sering hadir saat perayaan Cap Go Meh, bukan sekadar sajian lezat, melainkan sebuah manifestasi akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara yang kaya. Lontong Cap Go Meh menjadi simbol keberagaman, doa, dan harapan yang tak terpisahkan dari perayaan Cap Go Meh, momen penting yang jatuh pada hari ke-15 penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.

Advertisements

Dalam semangat merayakan warisan kuliner ini, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, baru-baru ini memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan ‘Makan Besar Bersama Bobon Santoso’ yang berhasil memecahkan rekor Guinness World Record. Acara puncak Festival Imlek Nasional 2026 ini secara khusus menyajikan Lontong Cap Go Meh sebagai representasi akulturasi, inovasi kuliner, dan inklusivitas yang patut dibanggakan.

“Kegiatan makan besar ini membuka peluang besar bagi pelaku UMKM, kreator konten, dan komunitas lokal untuk berinovasi sekaligus melestarikan tradisi kuliner yang menjadi bagian vital dari kekayaan ekonomi kreatif Indonesia,” ujar Wamen Ekraf Irene dalam acara yang berlangsung meriah di Lapangan Banteng, Jakarta, pada Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia melanjutkan, “Terlebih lagi, karena perayaan Imlek tahun ini bertepatan dengan Ramadan, hidangan Lontong Cap Go Meh secara indah menyimbolkan akulturasi antara warisan kuliner Tionghoa dan tradisi Ramadan di Indonesia.”

Advertisements

Apa Itu Lontong Cap Go Meh?


Secara lebih mendalam, Lontong Cap Go Meh adalah sebuah hidangan khas yang lahir dari perpaduan unik antara budaya Tionghoa dan Indonesia. Disajikan khusus saat perayaan Cap Go Meh, hidangan ini kaya akan makna filosofis dan nilai sejarah.

Istilah “Cap Go Meh” sendiri memiliki akar bahasa Hokkien, di mana ‘Cap Go’ berarti lima belas dan ‘Meh’ berarti malam. Jadi, secara harfiah, Cap Go Meh dapat diartikan sebagai malam kelima belas setelah Tahun Baru Imlek.

Dalam perayaannya, masyarakat Tionghoa biasanya memanfaatkan momen ini untuk berkumpul bersama keluarga, melaksanakan ibadah, dan tentu saja, menyajikan berbagai kuliner khas. Di Indonesia, salah satu hidangan utama yang selalu hadir dan menjadi ikon tradisi Cap Go Meh adalah Lontong Cap Go Meh.

Komposisi hidangan ini umumnya terdiri dari irisan lontong yang disiram dengan sayur rebung, sering kali dimasak lodeh, serta dilengkapi dengan lauk-pauk seperti telur dan opor ayam. Dari sinilah, tercipta sebuah sajian istimewa yang kini dikenal luas sebagai Lontong Cap Go Meh.

Hidangan ini adalah contoh nyata akulturasi budaya yang cerdas, di mana bahan pangan lokal seperti lontong dan rebung dimanfaatkan secara optimal. Menariknya, rebung sendiri melambangkan pertumbuhan yang terus berlanjut, selaras dengan perayaan Cap Go Meh di Tiongkok yang bertepatan dengan datangnya musim semi.

Asal-Usul Lontong Cap Go Meh

Lontong Cap Go Meh diyakini memiliki akar dari tradisi masyarakat Tionghoa di Pulau Jawa, khususnya di kota-kota seperti Semarang dan Surabaya. Pada masa kolonial, banyak keturunan Tionghoa yang menetap di Indonesia mulai mengadaptasi dan mengasimilasikan diri dengan budaya dan kuliner lokal.

Salah satu contoh adaptasi ini terlihat dari bubur putih, hidangan yang lazim dikonsumsi saat Cap Go Meh di Tiongkok. Namun, karena bubur seringkali diasosiasikan dengan makanan orang sakit dan dirasa kurang sesuai dengan selera budaya Jawa, masyarakat Tionghoa setempat menggantinya dengan lontong, makanan berbahan dasar beras yang jauh lebih diterima dalam tradisi kuliner Nusantara.

Makna Filosofis Lontong Cap Go Meh

Setiap elemen dalam Lontong Cap Go Meh sarat akan makna filosofis yang mendalam. Lontong sendiri melambangkan harapan akan kehidupan yang panjang dan sejahtera. Bentuknya yang lonjong menyerupai gulungan kertas, sering diinterpretasikan sebagai simbol ilmu dan kebijaksanaan. Opor ayam melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan, mengingat dalam budaya Tionghoa, ayam adalah simbol kemakmuran.

Telur pindang merepresentasikan kesempurnaan dan awal yang baru, sejalan dengan semangat Tahun Baru Imlek. Sementara itu, sambal goreng ati melambangkan ketulusan hati dan keikhlasan. Tak ketinggalan, sayur labu siam dipercaya membawa keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup.

Dengan paduan berbagai lauk yang kaya dan beragam ini, Lontong Cap Go Meh juga menjadi simbol kuat keberagaman dan kebersamaan, sebuah cerminan harmonis antara budaya Tionghoa dan Indonesia yang menyatu dalam satu hidangan.

Awalnya, hidangan istimewa ini hanya disiapkan di rumah-rumah keluarga Tionghoa sebagai bagian intim dari tradisi Cap Go Meh. Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas Lontong Cap Go Meh kian meroket, dan kini mudah ditemukan di banyak restoran serta warung makan, khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.

Kini, di setiap perayaan Cap Go Meh, hidangan ini tak hanya dinikmati oleh keturunan Tionghoa, tetapi juga oleh berbagai kalangan masyarakat. Lontong Cap Go Meh telah mengukuhkan diri sebagai bagian integral dari kuliner khas Nusantara, membuktikan bahwa makanan lebih dari sekadar rasa; ia adalah wadah yang sarat akan sejarah, identitas, dan persatuan budaya.

Beragam Tradisi Cap Go Meh di Nusantara

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia melampaui sekadar lampion dan barongsai yang ikonik. Di berbagai wilayah, perayaan hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek ini justru berkembang dengan sentuhan budaya lokal yang khas, bahkan menampilkan tradisi unik yang tak ditemukan di Tiongkok. Berikut adalah beberapa tradisi Cap Go Meh yang memperkaya lanskap budaya Indonesia:

1. Lontong Cap Go Meh di Pulau Jawa

Berbeda dari hidangan khas di Tiongkok, masyarakat Tionghoa di Pulau Jawa memiliki tradisi kuliner yang unik, yakni Lontong Cap Go Meh. Menu ini biasanya terdiri dari lontong, opor ayam, sayur labu siam, telur pindang, dan taburan bubuk kedelai.

2. Pawai Tatung di Singkawang

Pawai Tatung telah menjadi ciri khas tak terpisahkan dari Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat. Para Tatung dipercaya sebagai perantara roh leluhur atau dewa. Dalam arak-arakan yang memukau, mereka menampilkan atraksi ekstrem, seperti menusuk pipi dengan kawat atau duduk di atas pedang, yang diyakini sebagai simbol penolak bala dan penyucian kota dari energi negatif. Perayaan ini berhasil menarik ribuan wisatawan setiap tahun, menjadikan Singkawang salah satu pusat Cap Go Meh terbesar di Indonesia.

3. Arak-Arakan Sipasan di Padang

Di Padang, sebuah tradisi unik bernama Sipasan diselenggarakan. Tandu berbentuk naga atau lipan besar diarak mengelilingi kota, dengan anak-anak duduk di atasnya dan diiringi patung dewa atau Kio. Tradisi ini secara gamblang menunjukkan akulturasi budaya Tionghoa dan Minangkabau yang telah terjalin erat di Sumatra Barat.

4. Jappa Jokka Cap Go Meh di Makassar

“Jappa Jokka” dalam bahasa Makassar memiliki arti berjalan-jalan. Perayaan ini menampilkan kirab budaya, pertunjukan barongsai, seni tradisional, hingga festival kuliner terbuka untuk umum. Suasana meriah dan inklusif menjadikan Cap Go Meh di Makassar sebagai ajang kebersamaan lintas budaya yang merayakan persatuan.

5. Ziarah ke Pulau Kemaro

Di Palembang, umat Tionghoa secara rutin melakukan ziarah ke klenteng yang berlokasi di Pulau Kemaro, sebuah pulau kecil yang terletak di tengah Sungai Musi. Pulau ini bukan hanya menjadi tempat ibadah yang sakral, tetapi juga terkenal dengan legenda cinta tragis yang telah diwariskan secara turun-temurun, memperkaya nilai budaya setempat.

Jadi, apa itu Lontong Cap Go Meh? Hidangan khas ini adalah puncak dari akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Lebih dari sekadar sajian lezat, Lontong Cap Go Meh sarat akan makna simbolik, mulai dari harapan akan kesejahteraan, kebijaksanaan, hingga kebersamaan yang mendalam. Awalnya hanya disajikan di rumah-rumah keluarga Tionghoa, kini hidangan ini telah menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari kuliner khas Nusantara yang dinikmati dan dirayakan oleh berbagai lapisan masyarakat.

Advertisements