
Apa itu Selat Hormuz? Ketika selat ini ditutup, dampaknya akan terasa di pasar energi global, terutama setelah muncul ancaman dari Iran untuk membalas dengan membatasi bahkan menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi urat nadi distribusi minyak dunia. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran akan lonjakan harga minyak mentah internasional dan potensi gejolak ekonomi global.
Karena lokasinya yang sempit dan dikelilingi garis pantai yang dekat, jalur ini rentan terhadap gangguan militer, ranjau laut, dan serangan drone, sehingga setiap ketegangan di kawasan dapat berdampak signifikan terhadap pasar energi global dan stabilitas ekonomi internasional.
Apa itu Selat Hormuz? Pemandangan udara dari pesisir Iran dan pulau Qeshm di Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)
Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang terletak di antara Oman dan Uni Emirat Arab di satu sisi, serta Iran di sisi lainnya. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, menjadikannya salah satu rute pelayaran energi terpenting di dunia. Pada titik tersempit, lebar selat sekitar 33 kilometer, sedangkan jalur pelayaran masing-masing hanya sekitar 3 kilometer.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit di mulut Teluk Persia yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia. Letaknya berada di antara Iran di bagian utara serta Uni Emirat Arab dan Oman di sisi selatan.
Selat ini memiliki panjang sekitar 161 kilometer, dengan lebar tersempit kurang lebih 34 kilometer. Bahkan, jalur pelayaran untuk masing-masing arah hanya sekitar 3 kilometer. Kondisi perairannya yang relatif dangkal serta dikelilingi garis pantai yang berdekatan, khususnya wilayah Iran, membuat kapal-kapal yang melintas cukup rentan terhadap ancaman seperti ranjau laut, rudal darat, kapal patroli cepat, hingga serangan drone.
Iran dikabarkan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Langkah ini menyebabkan gangguan besar pada jalur energi global. Berdasarkan laporan Independent, Sabtu (28/2/2026), sejumlah perusahaan minyak besar dan lembaga perdagangan menangguhkan sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, serta gas alam cair. Citra satelit bahkan memperlihatkan antrean kapal yang menumpuk di sekitar pelabuhan akibat ketidakpastian kondisi keamanan.
Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?
Selat Hormuz kerap disebut sebagai “urat nadi” perdagangan energi global karena sekitar seperempat distribusi minyak dunia yang dikirim melalui jalur laut melintasi perairan ini. Berdasarkan data perusahaan analitik energi, lebih dari 20 juta barel minyak mentah, kondensat, dan produk bahan bakar olahan per hari melewati selat tersebut sepanjang tahun lalu.
Negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada jalur ini untuk menyalurkan ekspor mereka ke pasar Asia. Selain itu, Qatar yang merupakan salah satu eksportir utama gas alam cair (LNG) dunia, mengirimkan hampir seluruh pasokan LNG-nya melalui selat strategis tersebut.
Apakah Harga Minyak Dunia akan Naik?
Para analis menilai bahwa penutupan Selat Hormuz selama satu hari saja dapat memicu lonjakan harga minyak hingga USD120–150 per barel. Sebagai gambaran, minyak Brent yang menjadi acuan global, rata-rata masih berada di kisaran USD66 per barel pada awal tahun ini.
Terganggunya pasokan minyak dan gas ke pasar utama seperti China, kawasan Eropa, dan Amerika Serikat berpotensi mendorong kenaikan harga energi, memicu inflasi global, serta mengguncang pasar keuangan internasional.
Apabila jalur tersebut dinilai tidak aman, kapal-kapal tanker kemungkinan harus berlayar dalam konvoi dengan pengawalan kapal perang Barat. Meski skema ini dapat memperlambat distribusi, belum tentu langsung mengurangi suplai secara signifikan. Namun, jika penutupan berlangsung dalam jangka waktu lama, dampaknya diperkirakan akan sangat serius bagi stabilitas pasar energi dunia.
Dampak Apabila Selat Hormuz Ditutup?
Menurut laporan Al Jazeera (23/6/2026), Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, pada Minggu (22/2/2026) meminta China untuk membujuk Iran agar tidak menutup Selat Hormuz setelah serangan Washington terhadap fasilitas nuklir Teheran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Rubio menyebut penutupan selat sebagai “bunuh diri ekonomi” bagi Iran jika dilaksanakan, sambil menegaskan bahwa AS memiliki opsi merespons, namun dampaknya justru lebih merugikan negara lain dibanding Amerika Serikat.
Penutupan jalur strategis ini berpotensi menarik negara-negara Arab Teluk yang sebelumnya kritis terhadap serangan Israel ke dalam konflik demi melindungi kepentingan perdagangan mereka. Selain itu, langkah ini juga dapat berdampak pada China, yang mengimpor hampir 90 persen minyak Iran atau sekitar 1,6 juta barel per hari, meskipun minyak tersebut berada di bawah sanksi internasional.
Menurut perkiraan Goldman Sachs, blokade selat strategis bisa mendorong harga minyak di atas 100 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak ini berisiko meningkatkan biaya produksi dan pada akhirnya menaikkan harga konsumen, terutama untuk produk padat energi seperti pangan, pakaian, dan bahan kimia.
Negara pengimpor minyak bisa menghadapi inflasi lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat jika konflik berkepanjangan, yang juga berpotensi membuat bank sentral menunda penurunan suku bunga. Namun, sejarah menunjukkan bahwa gangguan besar pada pasokan minyak global biasanya bersifat sementara.
Contohnya, menjelang Perang Teluk II, harga minyak sempat melonjak 46 persen namun kembali turun menjelang dimulainya operasi militer pimpinan AS. Pola serupa terlihat saat invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, ketika harga minyak menembus 130 dolar AS per barel sebelum turun kembali ke kisaran 95 dolar AS pada pertengahan Agustus. Penurunan harga cepat ini, dipengaruhi oleh ketersediaan kapasitas produksi cadangan global dan fakta bahwa lonjakan harga yang tajam biasanya menekan permintaan pasar.
Bisakah Iran Menutup Selat Hormuz?
Secara hukum internasional, menurut Konvensi Hukum Laut PBB, kapal asing memiliki hak untuk melakukan “lintas damai” di perairan teritorial. Kondisi lebar Selat Hormuz yang sempit membuat kemungkinan penutupan total dapat memicu respons militer dari negara-negara Barat.
Meski begitu, Iran masih memiliki beberapa cara untuk mengganggu aktivitas pelayaran tanpa menutup jalur secara resmi, antara lain:
• Mengerahkan kapal patroli cepat untuk menakut-nakuti kapal tanker
• Melancarkan serangan rudal atau drone terhadap kapal minyak
• Menyebar ranjau laut
• Mengganggu sistem navigasi GPS
Gangguan dalam skala terbatas saja sudah cukup membuat jalur ini dianggap berisiko bagi pelayaran komersial.
Apa itu Selat Hormuz? Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menjadi pintu gerbang strategis antara Teluk Persia dan Samudra Hindia, sekaligus “urat nadi” perdagangan energi dunia. Selat ini sangat penting bagi ekspor minyak dan gas dari negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Kuwait, Irak, Iran, Uni Emirat Arab, dan Qatar.