Asing net buy Rp1,06 triliun awal 2026, saham BUMI, GOTO, hingga DEWA jadi incaran

Babaumma – , JAKARTA — Pasar modal Indonesia mengawali tahun 2026 dengan optimisme yang tinggi, ditandai dengan aksi beli bersih (net buy) investor asing yang mencapai Rp1,06 triliun pada hari pertama perdagangan saham, Jumat (2/1/2026). Sejumlah saham unggulan seperti BUMI, GOTO, hingga HUMI menjadi target utama koleksi para investor global, mencerminkan kepercayaan terhadap potensi pasar domestik.

Advertisements

Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan tahun ini pun tampil perkasa, ditutup menguat signifikan sebesar 1,17% ke level 8.748,13. Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan dominasi sentimen positif, di mana 508 saham berhasil menguat, berbanding 206 saham yang melemah, serta 244 saham yang memilih untuk stagnan. Hal ini menggarisbawahi momentum awal tahun yang cemerlang bagi bursa Tanah Air.

Dinamika pasar semakin terasa dengan nilai transaksi yang diperdagangkan mencapai Rp22,13 triliun, didukung volume transaksi sebesar 48,82 miliar lembar saham, dan frekuensi transaksi sebanyak 3,07 juta kali. Di samping itu, kapitalisasi pasar modal Indonesia (market cap) kokoh di angka Rp16.013 triliun, menunjukkan skala dan kedalaman pasar yang terus berkembang.

Arus dana investasi asing atau foreign inflow menjadi motor penggerak utama pada pembukaan tahun ini. BEI merinci bahwa investor asing membukukan transaksi beli saham sebesar Rp6,13 triliun dan transaksi jual sebesar Rp5,07 triliun pada Jumat (2/1/2026). Dengan demikian, tercatatlah beli bersih (net buy) sebesar Rp1,06 triliun, setara dengan sekitar US$63,53 juta, mengindikasikan minat yang kuat dari investor global.

Advertisements

Secara lebih detail, saham-saham yang paling banyak diburu oleh investor asing pada perdagangan perdana 2026 meliputi PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) dengan volume transaksi mencapai 2,21 miliar saham. Disusul oleh PT GOTO Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dengan 739,73 juta saham, PT Humpus Maritim Internasional Tbk. (HUMI) 330,48 juta saham, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) 280,9 juta saham, dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) 216,6 juta saham.

Sentimen positif ini berbanding lurus dengan kenaikan harga saham-saham tersebut. Pada perdagangan kemarin, saham BUMI melesat 14,75%, DEWA melejit 11,94%, BRMS menguat 7,27%, BULL menanjak 20,24%, dan HUMI bahkan melonjak hingga 24,81%, memberikan sinyal awal yang kuat bagi para pemegang saham.

: Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Hari Ini, Sabtu 3 Januari 2026

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menafsirkan penguatan IHSG ini sebagai bagian dari tren reli yang lebih luas di bursa saham Asia. Menurutnya, kenaikan IHSG sekitar 1,2% ke level 8.748 didorong oleh aksi beli kembali saham oleh investor, menyusul aktivitas profit taking yang mendominasi di akhir tahun 2025.

Lebih lanjut, Andry Asmoro turut menyoroti stabilitas kondisi makro domestik yang tetap terjaga sebagai fondasi kuat ekonomi Indonesia. Meskipun Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia sedikit melandai ke 51,2 pada Desember, angka tersebut masih berada di zona ekspansi, dengan permintaan domestik yang solid tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi, sebagaimana dilansir oleh Antara.

Dari perspektif aliran dana, Andry menambahkan bahwa investor asing mencatatkan arus masuk bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga terpantau turun ke 6,05%. Kedua indikator ini, kata Andry, secara gamblang mencerminkan meningkatnya kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia di mata para investor.

Dengan demikian, Andry menegaskan bahwa kombinasi antara penguatan pasar saham yang signifikan, masuknya dana asing yang substansial, serta penurunan imbal hasil (yield) obligasi, menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat kuat untuk memulai tahun 2026. Prospek ini tidak hanya dilihat sebagai reli jangka pendek, melainkan sebagai fase penguatan yang lebih berkelanjutan.

Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang kokoh, serta valuasi pasar yang masih atraktif menjadikan Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara. Ini bukan sekadar momen sesaat, melainkan indikasi kuat bahwa Indonesia tengah memasuki periode penguatan ekonomi yang berkelanjutan dan menarik bagi investasi global.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements