PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah mengumumkan rencana pembagian dividen interim yang signifikan, mencapai total Rp 1,93 triliun atau setara dengan Rp 100 per saham. Langkah ini menunjukkan komitmen perseroan dalam memberikan nilai tambah kepada para pemegang sahamnya.
Manajemen Bank Mandiri menegaskan bahwa jadwal pasti pembagian dividen interim ini akan diumumkan kemudian, sesuai dengan ketentuan Surat Keputusan Direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Nomor Kep-00077/01-2021 yang mengatur pelaksanaan pembagian dividen saham, saham bonus, dan dividen interim. Dalam keterbukaan informasi kepada BEI pada Jumat (9/12), perseroan juga memastikan bahwa pembagian dividen interim untuk tahun buku 2025 ini tidak akan memberikan dampak material terhadap operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha Bank Mandiri.
Konsistensi dalam memberikan nilai tambah bagi investor memang telah menjadi ciri khas Bank Mandiri. Sebagai salah satu emiten perbankan ‘pelat merah’, BMRI secara historis dikenal rajin membagikan dividen dalam jumlah yang signifikan setiap tahunnya. Sebagai contoh, untuk tahun buku 2024, Bank Mandiri mendistribusikan dividen sebesar Rp 466,18 per saham, meningkat dari Rp 353,96 per saham pada tahun buku 2023.
Meskipun demikian, di balik kabar baik dividen interim, kinerja keuangan Bank Mandiri hingga kuartal III 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp 37,7 triliun, angka ini turun 10,23% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 42 triliun. Penurunan laba bersih ini terjadi di tengah pertumbuhan penyaluran kredit yang cukup kuat, yakni sebesar 11% secara tahunan.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, dalam paparan publik virtual pada Senin (27/10), menjelaskan fokus strategis perusahaan. “Kami fokus menjaga pertumbuhan yang berkualitas, didukung tata kelola risiko yang disiplin serta sinergi lintas segmen dan sektor untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional,” tegas Novita.
Fokus pada pertumbuhan berkualitas tersebut tercermin dari capaian impresif pada penyaluran kredit. Hingga akhir kuartal III 2025, kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai angka Rp 1.764,32 triliun, menunjukkan pertumbuhan solid sebesar 11% secara tahunan. Angka pertumbuhan ini bahkan melampaui rata-rata kredit perbankan nasional yang hanya tercatat 7,7%. Sejalan dengan itu, total aset konsolidasi Bank Mandiri juga mengukir peningkatan signifikan 10,3% secara tahunan, mencapai Rp 2.563 triliun.
Yang lebih penting, pertumbuhan kredit yang pesat ini tidak mengorbankan kualitas aset Bank Mandiri. Perseroan berhasil mempertahankan profil risiko yang sehat, ditunjukkan dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross bank only yang sangat terjaga di level 1,03%. Selain itu, rasio cadangan kerugian penurunan nilai (coverage ratio) juga tetap solid, mencapai 271%, mengindikasikan mitigasi risiko yang kuat.
Novita menambahkan, sejumlah sektor ekonomi menjadi pendorong utama di balik kinerja kredit Bank Mandiri. “Kami melihat sektor padat karya, industri berorientasi ekspor, serta industri makanan dan minuman masih menjadi motor pertumbuhan utama,” ujarnya. Penyaluran kredit ke sektor-sektor strategis ini, lanjut Novita, dinilai memberikan efek berganda yang signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan daya beli masyarakat, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.