Bank OCBC (NISP) Respons Dorongan OJK, Akui Tak Mudah Naik Kelas ke KBMI 4

PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) merespons dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar bank yang masuk dalam Kelompok Bank Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 segera naik kelas menjadi KBMI 4.  Direktur Utama NISP Parwati Surjaudaja menyatakan akan mengikuti arahan regulator meski pun mengakui posisi modal inti saat ini masih jauh dari syarat masuk ke KBMI 4. 

Advertisements

“Jadi rasanya mungkin dalam beberapa tahun kemudian. Barangkali sesuai dengan pertimbangan organik, kami bisa mencapai ke KBMI 4. Tapi bukan tahun ini harusnya,” kata Parwati dalam paparan publik hasil RUPST di OCBC Tower, Jakarta, Kamis (9/4).

Ia menjelaskan, perseroan masih mencermati kebijakan lanjutan dari pemerintah dan OJK terkait percepatan kenaikan kelas bank. Hingga saat ini, manajemen belum dapat memperkirakan dampak kebijakan tersebut secara rinci.

Per posisi saat ini, Parwati melaporkan modal inti OCBC NISP tercatat sekitar Rp 44 triliun, masih di bawah ambang batas KBMI 4 yang mensyaratkan modal inti di atas Rp70 triliun.

Advertisements

Baca juga:

  • BTN (BBTN) Segera Teken Perjanjian Hunian Vertikal dengan KAI, Intip Rencananya
  • Komdigi Beri Catatan Merah, Google Kena Sanksi Tak Patuhi PP Tunas
  • Bos BTN (BBTN) Blakblakan, Incar KPR Tumbuh 10% hingga Bangun 240 Ribu Rumah

Berdasarkan POJK Nomor 12/POJK.03/2021 tentang bank umum, KBMI 3 merupakan kelompok bank dengan modal inti lebih dari Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun. Sementara itu, KBMI 4 adalah bank dengan modal inti di atas Rp 70 triliun.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan OJK terus mendorong peningkatan kelas bank. Menurut dia, bank KBMI 4 dinilai lebih berkelanjutan serta memiliki daya dorong lebih besar terhadap perekonomian. OJK menargetkan sekitar enam bank dapat naik dari KBMI 3 ke KBMI 4 dalam dua hingga tiga tahun ke depan.

Di sisi kinerja, OCBC membukukan laba bersih Rp 5,05 triliun pada 2025. Angka tersebut naik 3,90% dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada tahun sebelumnya senilai Rp 4,86 triliun. Naiknya laba perseroan salah satunya didorong oleh tumbuhnya pendapatan bunga menjadi Rp 17,85 triliun dari Rp 17,81 triliun.

Parwati menyebut, sepanjang 2025 perseroan mencatat pertumbuhan fundamental permodalan dan likuiditas yang tetap kuat di tengah dinamika global.

Selain itu, OCBC juga memperkuat struktur bisnis. Dari sisi digital, total frekuensi transaksi tumbuh 46% secara tahunan pada 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan jumlah pengguna aktif internet banking dan OCBC Mobile Banking sebesar 13%, serta pengguna aktif OCBC Business Mobile untuk nasabah korporasi yang meningkat 19%. Nilai transaksi digital tercatat mencapai sekitar Rp 1.500 triliun sepanjang tahun.

Perseroan juga meluncurkan sejumlah inovasi produk untuk memperluas segmen pasar, antara lain Young NYALA untuk literasi keuangan anak dan remaja, OCBC Star Wars Platinum Credit Card serta fitur pembayaran nirsentuh berbasis NFC melalui Tap Kartu Kredit OCBC guna menghadirkan pengalaman transaksi yang lebih praktis.

Advertisements