Babaumma – JAKARTA – Pergerakan investor asing di pasar saham Indonesia masih menunjukkan sikap kehati-hatian, atau “wait and see”. Data pasar menunjukkan bahwa mereka cenderung menanamkan modal secara selektif, khususnya pada saham-saham emiten yang tengah melancarkan aksi buyback saham, seperti BMRI, BBRI, BBCA, dan TPIA.
Menurut Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, aksi korporasi buyback saham merupakan sinyal kuat kepercayaan manajemen terhadap valuasi dan prospek fundamental perusahaan. Ini menjadi semakin krusial saat dilakukan di tengah tekanan pasar yang fluktuatif.
“Bagi investor asing yang menganut pendekatan selektif dan berbasis fundamental, buyback menawarkan bantalan psikologis sekaligus teknikal. Langkah ini dapat mengurangi jumlah saham yang beredar bebas (free float) serta potensi tekanan jual, sehingga volatilitas harga saham dapat lebih terjaga,” jelas Arinda kepada Bisnis pada Jumat (6/2/2026).
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa buyback dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kas perusahaan dan berpotensi mendongkrak metrik penting per saham seperti earning per share (EPS) dan return on equity (ROE). Metrik-metrik ini sangat relevan bagi investor institusional global. Kombinasi antara sinyal komitmen manajemen dan perbaikan kualitas pengembalian investasi ini menjadikan saham-saham berkapitalisasi besar yang melakukan buyback, seperti perbankan dan emiten blue chip, menjadi lebih menarik sebagai titik masuk ketika kepercayaan pasar mulai pulih. Untuk rekomendasi, Arinda mencermati BBCA dengan target harga Rp9.500.
Menilik kinerja pasar saham sepanjang pekan ini, arus keluar dana asing atau net sell asing masih tercatat signifikan, mencapai Rp11,01 triliun secara year to date (YtD) per Jumat (6/2). Pada perdagangan Kamis (5/2), di tengah net sell asing sebesar Rp469,81 miliar, saham BMRI, BBRI, BBCA, dan TPIA justru masuk dalam daftar saham dengan net buy asing terbesar.
Namun, pada perdagangan Jumat (6/2) yang mencatat net buy asing sebesar Rp944,31 miliar, hanya BMRI yang masih bertahan di daftar saham net buy asing terbesar, dengan nilai Rp679,60 miliar di pasar reguler. Ironisnya, BBRI dan BBCA justru berbalik menjadi penghuni daftar saham top net sell asing, dengan nilai masing-masing Rp213,55 miliar dan Rp109,14 miliar.
Menyoroti berlanjutnya tren net sell asing, Arinda berharap upaya perbaikan tata kelola pasar modal yang kini digencarkan pemerintah dapat kembali menarik kepercayaan investor global. Menurutnya, langkah ini penting untuk menurunkan persepsi risiko pasar domestik di tengah ketidakpastian global. Namun, Arinda juga menekankan bahwa dalam jangka sangat pendek, atau setidaknya pada pekan depan, potensi berakhirnya tren net sell asing masih sangat bergantung pada sentimen eksternal, seperti arah pasar global dan ekspektasi kebijakan moneter negara maju.
“Artinya, perbaikan struktural dari regulator lebih bersifat menopang dan mempercepat pembalikan arus ketika sentimen global membaik, alih-alih langsung menghentikan net sell dalam waktu singkat,” tegasnya.
Secara terpisah, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa aksi korporasi seperti buyback memberikan support likuiditas yang krusial. Ini membatasi risiko penurunan harga saham di tengah upaya pemulihan pasar.
“Bagi investor asing, ini menjadi validasi bahwa valuasi saham sudah tergolong murah dan manajemen siap menyerap tekanan jual,” ujar Wafi.
Secara keseluruhan, Wafi memandang bahwa perbaikan regulasi yang dilakukan oleh otoritas bursa saat ini dapat membangun kepercayaan investor dalam jangka panjang. Namun, ia mengakui bahwa pengaruh faktor eksternal masih sangat besar, sehingga tren net sell di pasar saham Indonesia akan sulit berbalik dalam jangka pendek.
“Flow asing saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makro global, jadi volatilitas masih akan tinggi. Untuk rekomendasi, fokus pada saham berkapitalisasi besar yang melakukan buyback dan memiliki fundamental kuat seperti BBRI, BMRI, BBCA, ASII, dan TLKM,” pungkasnya.
Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, menilai bahwa investor pasar modal akan sangat mengapresiasi langkah emiten yang melakukan buyback. Aksi korporasi ini dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan investor, yang didasarkan pada kondisi fundamental setiap emiten dan prospek bisnisnya di masa depan.
“Tentu aksi korporasi buyback ini baik untuk bisa mengembalikan posisi harga saham ke level fundamentalnya. Apalagi jika harga sahamnya sudah under valued atau terdiskon, maka buyback menjadi langkah yang wajar,” kata Nafan.
Selain itu, Nafan juga menilai bahwa aksi buyback yang dilakukan oleh emiten berfundamental kuat dapat meningkatkan likuiditas pasar dan kapitalisasi pasar (market cap) mereka. Dengan demikian, ketika partisipasi publik menguat, harga yang tercermin di pasar adalah valuasi wajar yang terbentuk secara organik, bukan karena didorong oleh transaksi afiliasi atau keluarga konglomerasi.
Dalam perdagangan hari ini, IHSG turun 2,08% ke level 7.935,26. Indeks komposit ini gagal mempertahankan posisinya di level 8.000, meskipun sempat menyentuh 8.025 selama perdagangan intraday.
Dalam konteks penguatan indeks komposit, Nafan menilai aksi buyback emiten big caps juga memiliki andil cukup besar. Kuncinya kini terletak pada bagaimana regulator dapat meyakinkan investor global terhadap pasar Indonesia.
“Yang terpenting, regulator dan SRO (Self-Regulatory Organization) harus bergerak cepat jika memiliki komitmen kuat untuk meningkatkan transparansi pasar modal. Untuk meningkatkan kepercayaan investor, asing membutuhkan komitmen kuat karena net sell asing selama ini masih terjadi. Jika sudah ada kemajuan berarti demi transparansi, tentu asing akan kembali masuk,” tandas Nafan.
Untuk rekomendasi, Mirae Asset Sekuritas menyematkan target harga BBCA di Rp7.650, Rp8.450, dan Rp9.750. Untuk BMRI, target harganya adalah Rp5.000, Rp5.350, dan Rp6.200. Sementara itu, BBRI direkomendasikan dengan target harga Rp3.910, Rp4.030, dan Rp4.750. Terakhir, rekomendasi untuk TPIA dengan target harga di Rp6.700, Rp7.350, dan Rp8.625.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.