JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) telah resmi melakukan suspensi perdagangan terhadap 38 perusahaan tercatat. Langkah tegas ini diambil setelah puluhan emiten tersebut gagal memenuhi ketentuan free float atau jumlah saham yang dimiliki publik hingga batas waktu yang ditetapkan, yakni 31 Desember 2025. Pengumuman suspensi ini, yang dirilis pada 30 Januari 2026, menegaskan bahwa penangguhan sementara perdagangan efek dilakukan karena emiten-emiten terkait tidak mematuhi Peraturan Bursa Nomor I-A, khususnya pada Pasal V.1.1 dan/atau V.1.2.
Sebelumnya, BEI telah memberikan Peringatan Tertulis III disertai denda sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) kepada perusahaan-perusahaan yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Mengingat kewajiban terkait free float belum dipenuhi hingga akhir periode pemantauan, Bursa memutuskan untuk melanjutkan sanksi yang lebih berat, yaitu suspensi perdagangan efek. “Sehubungan dengan hal tersebut, Bursa mengenakan sanksi suspensi efek kepada Perusahaan Tercatat atas belum dipenuhinya ketentuan V.1.1 dan/atau V.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-A sampai dengan periode pemantauan berikutnya,” demikian pernyataan BEI yang dikutip pada Sabtu (31/1/2026).
Berikut adalah daftar lengkap 38 perusahaan tercatat yang dikenai sanksi suspensi akibat belum memenuhi ketentuan free float:
-
ALMI – PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (seluruh pasar)
-
CBMF – PT Cahaya Bintang Medan Tbk (seluruh pasar)
-
COWL – PT Cowell Development Tbk (seluruh pasar)
-
DEAL – PT Dewata Freightinternational Tbk (reguler dan tunai)
-
DUCK – PT Jaya Bersama Indo Tbk (seluruh pasar)
-
ETWA – PT Eterindo Wahanatama Tbk (seluruh pasar)
-
FASW – PT Fajar Surya Wisesa Tbk (reguler dan tunai)
-
GAMA – PT Aksara Global Development Tbk (reguler dan tunai)
-
HKMU – PT HK Metals Utama Tbk (seluruh pasar)
-
JSKY – PT Sky Energy Indonesia Tbk (reguler dan tunai)
-
KAYU – PT Darmi Bersaudara Tbk (seluruh pasar)
-
KBRI – PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (seluruh pasar)
-
KIAS – PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk (reguler dan tunai)
-
LCGP – PT Eureka Prima Jakarta Tbk (seluruh pasar)
-
LMSH – PT Lionmesh Prima Tbk (reguler dan tunai)
-
MABA – PT Marga Abhinaya Abadi Tbk (seluruh pasar)
-
MAGP – PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (reguler dan tunai)
-
MFMI – PT Multifiling Mitra Indonesia Tbk (reguler dan tunai)
-
MTRA – PT Mitra Pemuda Tbk (seluruh pasar)
-
MTSM – PT Metro Realty Tbk (reguler dan tunai)
-
MYTX – PT Asia Pacific Investama Tbk (reguler dan tunai)
-
NUSA – PT Sinergi Megah Internusa Tbk (reguler dan tunai)
-
PLAS – PT Polaris Investama Tbk (seluruh pasar)
-
PLIN – PT Plaza Indonesia Realty Tbk (reguler dan tunai)
-
RIMO – PT Rimo International Lestari Tbk (seluruh pasar)
-
RSGK – PT Kedoya Adyaraya Tbk (reguler dan tunai)
-
SBAT – PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (seluruh pasar)
-
SIMA – PT Siwani Makmur Tbk (seluruh pasar)
-
SKYB – PT Northcliff Citranusa Indonesia Tbk (reguler dan tunai)
-
SMCB – PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (reguler dan tunai)
-
SUGI – PT Sugih Energy Tbk (seluruh pasar)
-
SUPR – PT Solusi Tunas Pratama Tbk (reguler dan tunai)
-
TECH – PT Indosterling Technomedia Tbk (seluruh pasar)
-
TOYS – PT Sunindo Adipersada Tbk (seluruh pasar)
-
TRIL – PT Trivina Insanlestari Tbk (seluruh pasar)
-
TRIO – PT Trikomsel Oke Tbk (seluruh pasar)
-
UNIT – PT Nusantara Inti Corpora Tbk (seluruh pasar)
-
WICO – PT Wicaksana Overseas International Tbk (reguler dan tunai).
Free Float dan Transparansi Jadi Kunci Jaga Posisi RI di MSCI
Tindakan tegas BEI ini selaras dengan upaya pemerintah dalam merespons perhatian serius dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap kondisi pasar modal Indonesia. Terutama, isu free float dan keterbukaan informasi menjadi sorotan utama yang berpotensi memengaruhi posisi Indonesia dalam indeks global prestisius tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, pada Jumat (30/1/2026) di Wisma Danantara Jakarta, menyatakan bahwa peningkatan porsi saham beredar bebas akan menjadi salah satu indikator krusial untuk meyakinkan MSCI. “Pertama tentu jumlah yang free float-nya dinaikkan ke 15 persen,” tegas Airlangga.
Selain memperkuat ketentuan free float, pemerintah juga aktif mendorong pengetatan aturan mengenai keterbukaan kepemilikan saham. Batasan ambang pelaporan kepemilikan dalam kategori ‘others’ akan diturunkan secara signifikan, dari semula 5 persen menjadi 1 persen, demi menciptakan transaksi pasar modal yang lebih transparan. Kebijakan ini, menurut Airlangga, fundamental untuk mengungkap identitas pemilik manfaat akhir (ultimate beneficiary owner) dari setiap transaksi saham, sehingga aktivitas perdagangan dapat diawasi lebih jelas dan akuntabel. “Sehingga TSE bisa membuka siapa ultimate beneficiary owner daripada yang dagang di pasar modal itu sehingga itu akan menjadi transparan,” tambahnya.
Di tengah fokus MSCI pada aspek tata kelola, Airlangga turut menyinggung rencana demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bagian integral dari penguatan struktur pasar modal. Menurutnya, demutualisasi ini erat kaitannya dengan hubungan antara pengurus bursa dan anggota bursa.
Anggota bursa, yang mayoritas berasal dari perusahaan sekuritas, memiliki skala dan kepentingan yang beragam, kondisi ini berpotensi memengaruhi posisi pengurus bursa. Dengan demutualisasi, kepemilikan bursa akan dipisahkan secara independen dari para anggotanya, sekaligus membuka peluang bagi masuknya investor baru. Struktur yang demikian diharapkan mampu memperkuat independensi pengelola bursa. “Tetapi kalau sudah demutualisasi bursa berarti dipisahkan antara pengurus bursa dengan anggota bursa karena investor akan masuk dan sehingga akan lebih independent terhadap para anggota bursa,” jelas Airlangga.
Airlangga juga menegaskan bahwa independensi yang dihasilkan dari demutualisasi sangat penting agar bursa memiliki keleluasaan lebih dalam menerapkan disiplin dan menindak pelaku pasar modal yang melakukan distorsi. Ke depan, demutualisasi ini juga membuka peluang lanjutan bagi BEI untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dan tata kelola secara menyeluruh. “Apalagi berikutnya demutualisasi bisa membuat juga bursa itu go public,” pungkas Airlangga, mengindikasikan prospek cerah bagi masa depan Bursa Efek Indonesia.