
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, atau yang dikenal sebagai Danantara Indonesia, hari ini turut hadir dalam rapat penting antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self-regulatory organizations (SROs), dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Kehadiran entitas ini sontak menjadi sorotan dan memicu pertanyaan publik mengenai perannya dalam pertemuan strategis tersebut.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, terlihat sudah berada di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebelum rapat dimulai. Saat dimintai keterangan mengenai perannya dalam pertemuan dengan MSCI, Pandu Sjahrir hanya menegaskan bahwa Danantara bertindak sebagai pembeli saham.
Pandu tidak memberikan penjelasan lebih lanjut terkait partisipasinya dalam rapat krusial tersebut. “Kami hanya pembeli saham,” ujar Pandu singkat di Gedung BEI, Jakarta, pada Senin (2/2).
Putra ekonom Sjahrir itu menambahkan bahwa Danantara memutuskan untuk menjadi pembeli saham domestik karena melihat prospek saham-saham di Indonesia sangat menarik, didukung oleh kondisi ekonomi yang kuat. Pandu juga menilai valuasi saham di bursa RI sangat atraktif. Ia turut menyoroti reaksi cepat para regulator yang segera menindaklanjuti pengumuman MSCI.
Baca juga:
- Produksi Beras Menguat, Potensi Kuartal I 2026 Capai 10,16 Juta Ton
- Prabowo Sebut Kegagalan Elit Kelola Kekayaan Nasional Jadi Penyebab Kemiskinan
- Prabowo Sebut MBG Buka 1 Juta Lapangan Kerja Tahun Lalu
“Karena baru saja Hari Rabu (28/1) kemarin keluar [pengumuman MSCI], lihat perubahan yang terjadi hanya dalam waktu lima hari, termasuk Hari Sabtu (31/1) dan Minggu (1/2) yang menjadi hari kerja bagi semua pihak di sini,” jelas Pandu. Ia memuji kecepatan pasar modal Indonesia dalam beradaptasi, menggarisbawahi respons cepat dari BEI hingga SROs yang bahkan kurang dari satu pekan telah menyiapkan langkah-langkah strategis.
Salah satu poin utama yang akan dibahas dalam pertemuan ini adalah berkaitan dengan perhitungan metodologi porsi saham publik atau free float. Pejabat Pengganti Ketua sekaligus Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengonfirmasi bahwa pihaknya akan bertemu dengan perwakilan MSCI dalam rapat hari ini.
“Saya sama Pak Hasan Hari Senin (menghadiri pertemuan dengan MSCI). Nanti kita berkantor di bursa tetap,” ucap perempuan yang akrab disapa Kiki tersebut kepada wartawan di Wisma Danantara, Sabtu (31/1). Ia menyebut nama Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi.
Kiki melanjutkan, dalam rapat penting ini, ia akan hadir bersama Hasan dan Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Samsul Hidayat. Dari pihak BEI, pertemuan strategis tersebut akan dihadiri oleh Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik. Jeffrey menjelaskan bahwa pertemuan tersebut akan dilakukan secara virtual.
“Pertemuan secara online, saya akan mewakili Bursa Efek Indonesia untuk bertemu dengan petinggi MSCI. Dari OJK juga akan ikut,” ujar Jeffrey. Ia menambahkan, agenda utama dalam pertemuan ini adalah untuk meyakinkan pengelola indeks global tersebut bahwa Indonesia memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan transparansi serta memperkuat tata kelola pasar modal.
Sebelumnya, MSCI telah mengumumkan rencananya untuk membekukan saham Indonesia, baik dalam proses rebalancing maupun penambahan bobot dalam indeksnya. Sebagai konsekuensinya, tidak akan ada peningkatan foreign inclusion factor (FIF) dan number of shares (NOS) saham-saham RI di MSCI. Lebih lanjut, tidak akan ada penambahan saham Indonesia ke dalam indeks MSCI Investable Market Indexes (IMI), dan penyedia indeks global itu juga akan menghentikan migrasi naik antarsegmen indeks ukuran, termasuk perpindahan dari Small Cap ke Standard Index. MSCI menyatakan ketentuan tersebut segera berlaku.
Implikasinya semakin serius; saham-saham RI bahkan tidak dapat masuk dalam evaluasi ulang atau rebalancing MSCI pada periode Februari 2026. Mereka pun menyatakan menunggu data revisi dari BEI hingga Mei 2026. Langkah cepat dari regulator dan partisipasi pihak-pihak terkait seperti Danantara Indonesia menjadi krusial dalam menyikapi keputusan MSCI ini demi menjaga kepercayaan investor dan stabilitas pasar modal Indonesia.