Purbaya: Proyek ubah sampah jadi energi di 34 kota dibiayai APBN dan Danantara

Presiden Prabowo Subianto telah menginisiasi rencana ambisius untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia dengan membangun 34 proyek waste to energy (WTE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di 34 kota. Proyek ini diproyeksikan membutuhkan total investasi sekitar US$3,5 miliar, atau setara dengan lebih dari Rp58 triliun.

Advertisements

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pendanaan proyek strategis ini tidak hanya akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagian dari pembiayaan juga akan ditanggung oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. “Sebagian besar memang dikerjakan Danantara, nanti ada sebagian yang dibayar oleh APBN,” ungkap Purbaya saat ditemui di Sentul, Bogor, pada Senin (2/2).

Purbaya menambahkan, kontribusi pemerintah melalui APBN untuk proyek WTE ini mencakup pula biaya kebersihan kota. Sebagai contoh, di Surabaya, pemerintah pusat mengalokasikan Rp60 miliar yang juga mencakup biaya pengelolaan kebersihan lingkungan. Skema serupa rencananya akan diterapkan di berbagai kota, termasuk di Bali, untuk memastikan lingkungan tetap terjaga.

Menurut Purbaya, kondisi permasalahan sampah di beberapa wilayah Indonesia telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Ia menyoroti Bali, destinasi pariwisata utama, yang kini menghadapi masalah sampah yang “parah”. Purbaya mengungkapkan, “Enggak jadi-jadi tuh, proyek sampahnya. Akhirnya jadi kotor sekali Bali. Dulu saya pernah damaikan antarpemda, antarkota, tiga kota tuh.” Pernyataan ini menggambarkan urgensi penanganan masalah sampah yang mendesak.

Advertisements

Proyek waste to energy sendiri merupakan inovasi penting yang mengonversi sampah menjadi bahan bakar untuk menghasilkan listrik melalui PLTSa. Implementasi proyek ini ditargetkan berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

Prabowo Sebut Seluruh TPA di Indonesia akan Kelebihan Kapasitas pada 2028

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menegaskan kekhawatirannya bahwa hampir seluruh Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Indonesia akan mengalami kelebihan kapasitas pada tahun 2028, atau bahkan lebih cepat. Kekhawatiran inilah yang melandasi urgensi peluncuran proyek PLTSa atau waste to energy (WTE) di 34 titik di seluruh Indonesia, dengan estimasi total investasi sebesar US$3,5 miliar atau sekitar Rp58,8 triliun.

“Diproyeksi hampir semua Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah akan kelebihan kapasitas pada 2028, bahkan lebih cepat. Karena itu, saya meyakini setiap kabupaten/kota sudah mulai harus ada PLTSa masing-masing,” kata Prabowo dalam saluran resmi Sekretariat Presiden, Senin (2/2).

Prabowo menekankan pentingnya inisiatif pembangunan PLTSa yang harus berasal dari tingkat bupati dan wali kota di setiap daerah. Sejalan dengan itu, ia juga telah menugaskan perluasan daerah sasaran program pembangunan PLTSa demi menuntaskan masalah manajemen sampah di Tanah Air secara komprehensif.

“Penyelesaian masalah sampah kita perlu kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, tetapi kita tidak boleh menunggu. Karena itu, bila perlu demi kepentingan rakyat, pemerintah pusat yang akan memimpin,” pungkas Prabowo, menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk memimpin solusi penanganan sampah nasional.

Advertisements