Babaumma – Batam — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyoroti potensi dampak signifikan dari ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap perekonomian Indonesia, khususnya di Batam. Kekhawatiran utama terfokus pada kemungkinan kenaikan harga energi global dan gangguan pada rantai pasok dunia.
Kepala Perwakilan BI Kepri, Rony Widijarto, menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah memegang peranan krusial sebagai pemasok energi dunia. Salah satu titik vital adalah Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global. “Jika terjadi gangguan di kawasan itu, implikasinya pasti ke harga BBM dunia. Dampaknya bisa sampai ke Batam dan Indonesia secara umum,” tegas Rony di Batam, Selasa (3/3/2026).
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) ini diperkirakan akan memicu lonjakan biaya logistik, yang pada gilirannya dapat mengganggu kelancaran arus ekspor-impor. Kondisi tersebut berpotensi besar memicu tekanan inflasi, terutama di daerah-daerah yang sangat bergantung pada perdagangan dan distribusi barang yang efisien, seperti Batam.
Rony menambahkan, Batam dikenal dengan pertumbuhan tinggi pada sektor industri elektronik dan galangan kapal. Namun, sektor-sektor strategis ini sangat sensitif terhadap dinamika ekonomi global, khususnya terkait dengan fluktuasi biaya energi dan logistik. “Ekspor-impor bisa terganggu, ongkos logistik naik. Ini tentu menjadi perhatian karena bisa berdampak pada harga-harga di dalam negeri,” ujarnya, menyoroti kerentanan ekonomi lokal terhadap gejolak global.
Di sisi lain, Rony juga melihat adanya peluang keuntungan bagi daerah penghasil komoditas, seperti kelapa sawit dan batu bara yang banyak terdapat di Kalimantan. Kenaikan harga energi dan komoditas global dapat mendorong peningkatan harga jual produk-produk tersebut. “Kalau harga energi naik, biasanya harga komoditas seperti sawit dan batu bara ikut terdorong. Daerah yang punya komoditas itu bisa menikmati kenaikan,” jelasnya, memberikan perspektif yang lebih nuansa.
Meski demikian, Rony mengingatkan bahwa peningkatan harga energi secara luas tetap menjadi risiko serius bagi stabilitas inflasi nasional. Dampak berantai berupa kenaikan harga barang dan jasa konsumen dapat secara signifikan menekan daya beli masyarakat. “Ini yang harus diwaspadai. Kenaikan BBM biasanya merambat ke mana-mana dan bisa berdampak pada inflasi. Itu tentu menjadi risiko bagi Batam dan Indonesia,” pungkas Rony.
Menyikapi potensi ancaman ini, BI Kepri berkomitmen untuk terus memantau perkembangan geopolitik global serta memperbarui proyeksi ekonomi daerah. Langkah ini diambil guna mengantisipasi setiap potensi dampak lanjutan terhadap pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga di wilayah Kepulauan Riau dan Indonesia secara keseluruhan. “Kami akan pantau bagaimana dampaknya untuk Indonesia,” tutupnya.