
Bank Indonesia (BI) memancarkan optimisme terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, memproyeksikan angkanya dapat mencapai rentang 4,9-5,7 persen. Prediksi ini melampaui realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun sebelumnya, 2025, yang tercatat sebesar 5,11 persen, sekaligus lebih tinggi dari target pemerintah dalam APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya, menegaskan bahwa ekonomi Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai batas atas target bank sentral tersebut. Namun, pencapaian ini mensyaratkan sinergi yang kuat antara kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah dan Bank Indonesia.
“Tentu saja perkiraan kami bisa menuju batas atas, dan itu juga sejalan dengan kebijakan pemerintah,” ujar Juli dalam acara Editors Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Jumat (6/2). Ia mencontohkan keberhasilan sektor pertanian pada kuartal I 2025 yang mencatat pertumbuhan fantastis 10,52 persen secara tahunan (yoy), sebuah rekor tertinggi dalam 15 tahun terakhir. Lonjakan ini, menurut Juli, adalah buah dari kebijakan subsidi pupuk pemerintah yang tepat sasaran, memastikan ketersediaan pupuk sebelum masa tanam.
Melihat ke depan, BI juga telah menyiapkan proyeksi ekonomi untuk tahun-tahun mendatang. Untuk tahun 2027, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada di kisaran 5,1-5,9 persen. Sementara itu, proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2031 dibagi menjadi tiga skenario ambisius. Skenario baseline diperkirakan pada rentang 5,6-6,4 persen, skenario optimistis pada 6,1-6,9 persen, dan skenario super optimistis yang mencapai 6,9-7,7 persen. “Terlihat jelas bahwa jika kebijakan dijalankan secara efektif dan tepat sasaran, akan berdampak signifikan pada pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tambah Juli, menggarisbawahi pentingnya arah kebijakan yang terus mendorong pertumbuhan.

Investasi Penopang Ekonomi Domestik
Senada dengan optimisme Bank Indonesia, Economist di Standard Chartered Bank, Aldian Taloputra, memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen untuk tahun ini. Pandangan ini turut dilengkapi dengan perkiraan Standard Chartered bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan sikap kehati-hatian dalam kebijakan moneter sepanjang tahun 2026. Hal ini dilakukan guna menyeimbangkan stabilitas eksternal sekaligus memberikan dukungan krusial bagi pertumbuhan ekonomi domestik.
Standard Chartered secara khusus menyoroti investasi sebagai salah satu pilar utama penopang ekonomi domestik. Tiga area investasi utama diidentifikasi untuk tahun ini: Equities, dengan fokus pada pasar yang didukung pertumbuhan laba; Income, khususnya obligasi pasar berkembang (emerging markets) yang menawarkan imbal hasil menarik sekaligus diversifikasi; dan Diversifiers, seperti emas dan strategi alternatif, yang berperan penting dalam meredam volatilitas portofolio.
CEO Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro, mengungkapkan optimismenya terhadap potensi investasi jangka panjang Indonesia, bahkan di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan. Menurutnya, langkah reformasi cepat dari regulator serta fokus berkelanjutan pada fundamental ekonomi akan menjadi fondasi kokoh bagi pemulihan ekonomi. Ia juga menekankan pentingnya pembangunan portofolio investasi yang terstruktur dan diversifikasi instrumen bagi masyarakat.
Donny menganjurkan diversifikasi lintas kelas aset dan kawasan, serta alokasi portofolio yang terstruktur mencakup komponen inti (core), taktis (tactical), dan oportunistik (opportunistic). Strategi ini dirancang agar investasi dapat menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko jangka panjang. “Dalam situasi pasar yang fluktuatif, disiplin dalam membangun portofolio dan melakukan diversifikasi menjadi semakin krusial agar nasabah dapat melewati volatilitas sekaligus tetap fokus pada tujuan jangka panjang mereka,” tutup Donny, menegaskan kembali esensi strategi investasi yang bijak.