Babaumma – DENPASAR – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bali memproyeksikan musim hujan akan memengaruhi secara signifikan laju inflasi di Bali pada awal tahun 2025. Prediksi ini muncul menyusul potensi gangguan terhadap rantai pasokan dan produksi komoditas pangan.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa puncak musim hujan berisiko menyebabkan produksi hortikultura kurang optimal. Selain itu, gangguan distribusi serta peningkatan potensi pertumbuhan hama dan organisme pengganggu tanaman dapat semakin mengganggu produksi tanaman pangan dan hortikultura di wilayah tersebut.
“Kewaspadaan tetap krusial untuk mengawal stabilitas harga, terutama dalam menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta libur Idulfitri dan Nyepi yang akan jatuh pada kuartal I/2026. Oleh karena itu, sinergi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) perlu terus diperkuat guna menjaga stabilitas harga komoditas pangan strategis, khususnya beras dan hortikultura,” tegas Erwin dalam keterangan resminya, Selasa (6/1/2025).
: Harga Cabai Rawit Sumbang Inflasi Jatim Sebesar 0,76% pada Desember 2025
Guna menghadapi potensi tekanan inflasi Bali ke depan, Erwin menyatakan pentingnya terus memperkuat sinergi dan inovasi bersama seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota se-Bali. Hal ini diwujudkan melalui implementasi strategi 4K, yang meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif. Strategi komprehensif ini dirancang untuk menciptakan ekosistem pengendalian inflasi yang adaptif dan berkelanjutan.
Strategi 4K tersebut akan diperkuat melalui tiga fokus utama, yaitu stabilitas pasokan, efisiensi distribusi, dan penguatan regulasi. Ke depan, TPID Provinsi dan seluruh TPID Kabupaten/Kota di Bali akan terus mendorong penguatan serta perluasan pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) sebagai upaya proaktif menjaga inflasi tetap stabil. Inisiatif ini didukung oleh penguatan regulasi, jaminan stabilitas pasokan, dan peningkatan efisiensi distribusi barang.
: : BI: Inflasi Jakarta Sepanjang 2025 Tembus 2,63%, di Bawah Nasional
Bank Indonesia juga akan mengintensifkan operasi pasar yang terencana dan terkoordinasi, melakukan pengawasan ketat, serta mempercepat penyaluran Subsidi Harga Pangan Pemerintah (SPHP). Langkah-langkah lain termasuk penguatan produksi pangan dalam daerah, menjalin kerja sama antar daerah (baik intra-Bali maupun dengan luar Bali), meningkatkan efisiensi rantai pasok pangan, serta membangun ekosistem ketahanan pangan yang inklusif dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Perumda Pangan, dan koperasi.
Sinergi pengendalian inflasi pangan ini mencakup kolaborasi erat antara pelaku hulu dan hilir, mulai dari petani, penggilingan, Perumda Pangan, KDKMP, SPPG, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe). Kolaborasi ini diperkuat melalui regulasi pemanfaatan produk pangan lokal oleh pelaku usaha di daerah. Dengan serangkaian langkah strategis ini, Bank Indonesia Provinsi Bali optimistis inflasi pada tahun 2026 akan tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5% ± 1%.
: : Inflasi Kaltim Sepanjang 2025 Ungguli Capaian Nasional
Sebagai informasi tambahan, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat inflasi di Bali pada Desember 2025 secara bulanan mengalami peningkatan sebesar 0,70% (Month-to-Month/MtM), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 0,40% (MtM).
Secara tahunan, inflasi Provinsi Bali juga mengalami peningkatan menjadi 2,91% (Year-on-Year/YoY) dari 2,51% (YoY) pada November 2025. Meskipun demikian, inflasi Bali pada Desember 2025 tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5% ± 1% dan bahkan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,92% (YoY). Capaian inflasi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2025 yang diperkirakan berada pada batas atas kisaran 5,0-5,8% (YoY). Secara spasial, seluruh Kabupaten/Kota di Bali mengalami inflasi bulanan pada Desember 2025.
Denpasar mencatatkan inflasi tertinggi sebesar 0,38% (MtM) atau inflasi tahunan 3,45% (YoY), diikuti oleh Tabanan sebesar 1,02% (MtM) atau 2,70% (YoY). Selanjutnya, Singaraja mengalami inflasi bulanan sebesar 0,69% (MtM) atau inflasi tahunan 2,51% (YoY). Sementara itu, Badung mencatat inflasi bulanan sebesar 1,12% (MtM) atau 2,37% (YoY). Inflasi di seluruh wilayah ini sebagian besar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, seiring dengan keterbatasan pasokan akibat curah hujan tinggi di daerah sentra penghasil Bali.
Berdasarkan komoditas, secara bulanan inflasi Desember 2025 terutama bersumber dari kenaikan harga cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan biaya pemeliharaan/service. Namun, tekanan inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh penurunan harga canang sari, kangkung, cabai merah, beras, dan tongkol diawetkan, menunjukkan dinamika harga yang kompleks di pasar lokal.