Bonus demografi tak lagi cukup, AI bisa jadi kunci lompatan ekonomi RI

Indonesia tengah berpacu dengan waktu. Untuk keluar dari ancaman jebakan negara kelas menengah atau middle income trap, pertumbuhan ekonomi yang tinggi mutlak dibutuhkan. Dalam konteks ini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) muncul sebagai instrumen krusial, yang diyakini mampu mendongkrak produktivitas dan mendorong ekonomi Indonesia tumbuh melampaui angka 5%.

Advertisements

Antonius Santoso, Associate Partner McKinsey & Company, menjelaskan bahwa rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia selama dua dekade terakhir berada di kisaran 4,9% per tahun. Angka ini memang melampaui rata-rata global, namun masih belum memadai untuk mengantarkan Indonesia menuju status negara berpendapatan tinggi. “Untuk mencapai status itu, diperlukan lonjakan pertumbuhan yang lebih tinggi dan AI dapat menjadi salah satu alat utama untuk mencapai hal tersebut,” tegas Antonius dalam IDE Katadata Feature Forum 2026 di Jakarta, Rabu (15/4).

Selama ini, motor pertumbuhan ekonomi nasional banyak ditopang oleh bonus demografi. Namun, Antonius mengingatkan bahwa ketergantungan pada bonus demografi tidak dapat diandalkan secara berkelanjutan di masa depan. Indonesia membutuhkan lompatan produktivitas yang substansial, dan implementasi AI menawarkan jalan nyata untuk merealisasikannya.

Penggunaan kecerdasan buatan, menurut Antonius, merupakan keniscayaan yang tak terhindarkan, terutama dalam lanskap korporasi. Era mendatang akan menjadi milik perusahaan-perusahaan yang cakap dalam memanfaatkan AI, sementara mereka yang mengabaikannya berisiko tertinggal. “Bukan AI yang menggantikan manusia, melainkan manusia yang menggunakan AI akan menggantikan yang tidak, sehingga penting untuk segera mengadopsi AI secara aktif,” paparnya, menggarisbawahi urgensi transformasi digital bagi keberlangsungan bisnis.

Advertisements

Optimisme terhadap adopsi AI di Indonesia juga diungkapkan Catherine Lian, General Manager and Technology Leader IBM ASEAN. Ia mencatat peningkatan pesat dalam adopsi AI di berbagai organisasi Indonesia sejak 2021, pasca-pandemi COVID-19. Sektor jasa keuangan memimpin tren ini dengan kecepatan adopsi tertinggi, diikuti oleh telekomunikasi, pemerintahan, dan manufaktur.

Kendati demikian, Catherine menyoroti adanya kesenjangan antara ketertarikan perusahaan untuk mengadopsi AI dengan realisasi implementasinya. Menurutnya, ada tiga fase utama dalam adopsi AI. Pertama, identifikasi use case atau contoh penerapan AI yang relevan dengan bisnis, didukung penuh oleh sponsor eksekutif dan tim proyek yang solid. Kedua, proses penerapan atau implementasi dari hasil uji coba (pilot project) tersebut. Ketiga, tahap produksi, di mana AI telah sepenuhnya terintegrasi dan digunakan dalam operasional bisnis sehari-hari.

Ironisnya, banyak perusahaan seringkali terhenti di tahap kedua, belum siap melangkah ke fase produksi. Padahal, nilai nyata dari investasi AI baru akan muncul ketika AI telah masuk tahap produksi dan mampu menghasilkan monetisasi yang signifikan. Catherine mencontohkan, dari 197 proyek AI di Indonesia, hanya lima yang berhasil diimplementasikan atau digunakan secara penuh dalam operasional bisnis.

Oleh karena itu, kunci keberhasilan AI tetap berawal dari pemilihan use case yang tepat. Setiap jenis perusahaan, mulai dari startup, UKM, hingga perusahaan multinasional dan konglomerasi, memerlukan pendekatan yang berbeda dan strategis dalam menavigasi perjalanan adopsi kecerdasan buatan ini.

Advertisements