Bos BTN (BBTN) blakblakan, incar KPR tumbuh 10% hingga bangun 240 ribu rumah

Emiten perbankan pelat merah PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menargetkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) di kisaran 7–10% pada 2026. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu juga membidik penyaluran KPR bisa mencapai 240.950 unit pada 2026 sejalan dengan komitmen mendukung program perumahan nasional.

Advertisements

Secara historis, Nixon mengatakan BTN telah menyalurkan 6 juta unit KPR sejak 1976 hingga awal April 2026 total Rp 530 triliun. Nixon menegaskan BTN akan terus memperkuat transformasi menuju konsep beyond mortgage. 

Hal itu dengan memperluas layanan tidak hanya pada pembiayaan rumah, tetapi mencakup kebutuhan keuangan keluarga secara menyeluruh, mulai dari transaksi, usaha, hingga perencanaan jangka panjang masyarakat.

“Kami juga menghadirkan inovasi pembiayaan melalui bundling KPR dengan kebutuhan isi rumah,” ujar Nixon pada saat media briefing di Bandung, Kamis (9/4).

Advertisements

Seiring dengan itu Direktur Consumer Banking BTN, Hirwandi Gafar menambahkan torehan itu didorong oleh konsistensi BTN dalam menjaga kinerja penyaluran serta memperluas akses pembiayaan di berbagai wilayah. 

Apalagi permintaan terhadap hunian layak dan terjangkau terus meningkat, sementara tantangan di sektor perumahan saat ini lebih banyak berasal dari sisi supply, seperti ketersediaan lahan dan perizinan.

Masyarakat Berpenghasilan Rendah Dominasi KPR Subsidi

Dari sisi profil debitur, Hirwandi mengatakan mayoritas pengajuan KPR subsidi berasal dari segmen masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dengan rata-rata penghasilan sekitar Rp 4,9 juta per bulan. 

Tak hanya KPR Subsidi itu didominasi oleh pekerja di sektor informal seperti pedagang kecil, pekerja lepas, dan pelaku usaha mikro, dan sektor formal seperti aparatur sipil negara, karyawan swasta, dan pegawai kontrak. Ia mengatakan hal ini menunjukkan akses pembiayaan perumahan BTN menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya memiliki keterbatasan untuk memperoleh hunian layak.

Selain melalui penyaluran KPR, BTN juga berkontribusi dalam memperkuat ekosistem perumahan melalui Kredit Program Perumahan (KPP). Hingga Maret 2026, Hirwandi mengatakan BTN mencatatkan realisasi penyaluran KPP dengan total plafon sekitar Rp 2,17 triliun kepada lebih dari 3.291 debitur. 

Secara rinci, penyaluran KPP dari sisi supply mencapai sekitar Rp 1,47 triliun kepada 399 debitur yang fokusnya pada pembiayaan pengembang, kontraktor, dan penyedia bahan bangunan. Sementara dari sisi permintaan, BTN menyalurkan sekitar Rp 700 miliar kepada 2.892 debitur yang dimanfaatkan untuk pembelian, pembangunan, hingga renovasi rumah. 

“Skema ini memperkuat keterhubungan antara sisi pasokan dan permintaan dalam ekosistem perumahan,” ucap Hirwandi.

Di luar sektor perumahan, hingga Maret 2026, penyaluran KUR BTN mencapai sekitar Rp 2,72 triliun. Secara rinci komposisi KUR kecil sebesar Rp 2,04 triliun atau sebanyak 75% dan KUR mikro sebesar Rpc687 miliar atau 25%. 

Penyaluran KUR didominasi sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 59,22%. Diikuti sektor akomodasi dan makanan minuman sebesar 12,36%, serta konstruksi sebesar 10,08%. 

BTN juga mencatat peningkatan kapasitas usaha debitur melalui program KUR naik kelas sebanyak 4.719 debitur. Termasuk peralihan dari KUR mikro ke KUR kecil serta peningkatan plafon pembiayaan.

Seiring dengan transformasi bisnis, BTN kini juga memperluas perannya melalui pendekatan beyond mortgage. Salah satu inisiatif utama yang dikembangkan adalah platform digital Bale Properti, yang menghadirkan layanan terintegrasi mulai dari pencarian hunian hingga proses pembiayaan secara end-to-end.

Melalui Bale Properti, BTN telah memfasilitasi lebih dari 521 listing properti, dengan jumlah pengajuan KPR secara online yang mencapai rata-rata 780 aplikasi per bulan.

Tak hanya itu BTN juga telah menjalin kerja sama dengan 426 mitra pengembang dan agen properti. Selain itu, BTN juga menghadirkan berbagai inovasi berbasis keberlanjutan, salah satunya melalui program pembayaran angsuran KPR berbasis pengelolaan sampah. 

Program ini memungkinkan nasabah untuk tetap menjaga kelancaran kewajiban pembayaran sekaligus berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan.

Di sisi lain, BTN juga mengembangkan program BTN Housingpreneur sebagai bagian dari penguatan ekosistem dari sisi supply, dengan mendorong kapasitas dan kapabilitas pengembang perumahan, khususnya skala kecil dan menengah. Program ini bertujuan menciptakan ekosistem perumahan yang lebih sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Advertisements