Bos Google, Amazon, Facebook beli mansion di Miami, disebut bunker miliarder

Pantai Barat Amerika Serikat kini tak lagi menjadi satu-satunya magnet bagi para taipan teknologi. Mark Zuckerberg, CEO Meta, dan Sergey Brin, salah satu pendiri Google, baru-baru ini memperpanjang daftar panjang elit teknologi yang memilih untuk beralih domisili ke Florida Selatan. Keputusan strategis ini, yang ditandai dengan pembelian mansion mewah di Miami, disebut-sebut tak lepas dari isu wacana pengenaan pajak kekayaan yang lebih tinggi di California.

Advertisements

Menurut Chris Wands dari Douglas Elliman, perusahaan pialang real estat terbesar di Amerika Serikat, properti yang diincar oleh para petinggi perusahaan teknologi ini memiliki pola serupa. “Mereka selalu memprioritaskan keselamatan, keamanan, dan kedekatan,” jelas Wands, seperti dikutip dari Fox News Digital pada Senin (9/3).

Wands menambahkan, preferensi pembeli kelas atas ini condong pada properti tepi laut yang berlokasi di lingkungan dengan tingkat keamanan tinggi. Kemudahan akses menuju bandara pribadi, koridor bisnis, serta deretan restoran ternama di Miami menjadi faktor penentu lainnya, mencerminkan kebutuhan akan privasi dan efisiensi mobilitas.

Tak heran, dalam radius sekitar 20 mil di Miami, kini terkumpul empat dari orang terkaya di dunia. Selain Mark Zuckerberg dan Sergey Brin, di sana juga bersemayam pendiri Amazon, Jeff Bezos, serta pendiri Google lainnya, Larry Page. Keempatnya memiliki properti hunian mewah yang mencerminkan konsentrasi kekayaan dan kekuasaan di kawasan tersebut.

Advertisements

Mark Zuckerberg Beli Mansion Senilai Rp 2,87 Triliun

Salah satu akuisisi paling mencolok adalah Mark Zuckerberg yang membeli properti di Indian Creek Island. Transaksi senilai US$ 170 juta, setara dengan sekitar Rp 2,87 triliun (kurs Rp 16.890 per US$), menjadikannya salah satu penjualan hunian termahal yang tercatat dalam sejarah Miami-Dade County.

CEO Meta yang juga pemilik WhatsApp ini, bersama istrinya Priscilla Chan, berhasil mengakuisisi lahan tepi laut seluas 1,84 hektare tersebut. Harga pembelian mereka sedikit di bawah penawaran awal sebesar US$ 200 juta atau Rp 3,38 triliun, menunjukkan negosiasi yang cermat dalam pasar properti ultra-mewah.

Mansion megah yang kelak berdiri di atas lahan ini, yang masih dalam pembangunan, dirancang untuk menjadi surga pribadi. Fasilitasnya mencakup sembilan kamar tidur, 11,5 kamar mandi, lorong perpustakaan ‘rahasia’, pusat kebugaran mutakhir, salon dan ruang pijat kelas profesional, akuarium utama berkapasitas fantastis 1.500 galon, ruang jazz, hingga kolam renang sepanjang 60 kaki, serta beragam kemewahan lainnya.

Berlokasi hanya tiga pintu dari properti Jeff Bezos—yang dijuluki ‘Bunker Miliarder’—kediaman Zuckerberg ini masih dalam tahap pembangunan. Desainnya dipercayakan kepada arsitek Kanada ternama, Ferris Rafauli, yang reputasinya melambung berkat karyanya pada rumah mewah ‘Embassy’ milik rapper Drake di Toronto.

Deskripsi dari iklan penjualan properti ini memancarkan kemegahan: “Mulai dari fasad batu kapur dan proporsi arsitektur yang megah hingga interior yang ditata dengan cermat, setiap detailnya menampilkan seni modern dan keahlian luar biasa.” Dijelaskan pula bahwa “kediaman yang terinspirasi gaya klasik ini menawarkan pemandangan tanpa batas, pengalaman hidup yang menyatukan area dalam dan luar ruangan, serta jaminan privasi dan kemewahan tingkat tertinggi.”

Florida Selatan memang telah menjadi primadona baru bagi kalangan super kaya dalam beberapa tahun terakhir. Dina Goldentayer, agen terkemuka di Douglas Elliman, menegaskan bahwa “rasa takut ketinggalan (FOMO) dalam berinvestasi di properti ultra-mewah sangatlah nyata,” menggarisbawahi persaingan ketat di pasar ini.

Rumah Mewah Pendiri Google di Miami

Berbeda dengan euforia di Indian Creek, Sergey Brin memilih suasana yang lebih tenang namun tetap eksklusif. Ia mengakuisisi properti senilai US$ 51 juta atau sekitar Rp 861 miliar di 6569 Allison Road, Allison Island, bagian utara Miami Beach. Transaksi ini, yang dilakukan secara di luar pasar, dilaporkan melalui entitas Lagoon LLC yang berbasis di Nevada, sebuah perusahaan yang telah lama dikaitkan dengan perwakilan hukumnya.

Kediaman bergaya modern yang sebelumnya dimiliki oleh CEO LVMH Americas, Michael Burke, ini menonjol dengan dinding kaca luas yang membentang sekitar 10.000 kaki persegi, menawarkan kesan lapang dan terbuka.

Desain interiornya mencakup tujuh kamar tidur dan 8,5 kamar mandi, semuanya dilengkapi dengan pemandangan Teluk Biscayne yang memukau. Uniknya, elemen arsitektur properti ini kabarnya terinspirasi dari gaya khas Museum Guggenheim, menambahkan sentuhan artistik yang istimewa.

Keselamatan dan privasi menjadi prioritas utama di kedua lingkungan tempat tinggal Zuckerberg dan Brin. Keduanya dijaga ketat oleh unit polisi swasta yang bertugas mencatat setiap tamu yang datang dan pergi, memastikan keamanan maksimal bagi para penghuninya.

Eddy Martinez dari ONE Sotheby’s International Realty menegaskan bahwa keamanan adalah faktor tak ternegosiasikan bagi kaum ultra-kaya. “Mereka semua akan selalu memiliki pengawal pribadi 24/7,” ujar Martinez. Ia menambahkan, pilihan lokasi seperti Indian Creek, Coconut Grove, atau Allison Island lebih banyak didikte oleh preferensi gaya hidup pribadi masing-masing individu.

Sebelum Zuckerberg dan Brin, para pakar properti menunjuk Larry Page, rekan Brin di Google, sebagai salah satu pelopor gelombang migrasi ini. Page dikabarkan telah lebih dulu “membunyikan alarm” dengan mengakuisisi dua properti terpisah di Coconut Grove senilai US$ 173 juta atau sekitar Rp 2,92 triliun pada akhir 2025.

Migrasi massal para miliarder ini terjadi bersamaan dengan munculnya proposal kontroversial di California. Proposal tersebut mengusulkan pengenaan pajak kekayaan sebesar 5% secara satu kali (one-time wealth tax) atas kekayaan bersih penduduk California yang memiliki aset melampaui US$ 1 miliar, sebuah langkah yang jelas-jelas kurang populer di kalangan super kaya.

“Kami percaya bahwa katalisator utama migrasi miliarder dari California ke Florida Selatan lebih terkait erat dengan wacana pengenaan pajak miliarder yang tinggi, bukan semata-mata karena FOMO properti,” pungkas Martinez, menegaskan bahwa insentif fiskal memainkan peran krusial dalam pergeseran demografi kekayaan ini.

Advertisements