BREN-ADMR belum free float 15%, cek peluang cuan koleksi saham LQ45

Babaumma – , JAKARTA — Indeks LQ45, yang menjadi barometer bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi, tengah menghadapi sorotan tajam. Sebanyak enam saham unggulan di dalamnya dilaporkan belum memenuhi ketentuan free float sebesar 15%. Kondisi ini tentu memicu pertanyaan di kalangan investor: seberapa menarik peluang untuk mengoleksi saham-saham ini ke dalam portofolio investasi?

Advertisements

Abida Massi Armand, seorang Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa saat ini, saham-saham LQ45 yang dimaksud adalah BREN, NCKL, UNVR, ADMR, PGEO, dan SCMA. Keenam emiten ini masih memiliki persentase free float di bawah ambang batas yang ditetapkan. Meskipun demikian, Abida menegaskan bahwa status mereka sebagai konstituen LQ45 tetap berlaku. “Saham-saham ini masih layak dipertimbangkan untuk portofolio, dengan catatan investor perlu memperhatikan likuiditasnya secara cermat,” ujar Abida pada Senin (23/2/2026), memberikan panduan penting bagi para pelaku pasar.

: Free Float RAJA Risiko Susut ke 23,38% Usai Buyback Rp250 Miliar

Lebih lanjut, Abida menyoroti bahwa potensi penguatan indeks LQ45 secara umum sangat bergantung pada fundamental saham-saham penyusunnya serta sentimen pasar yang berkembang. Sebagai indeks yang dihuni oleh saham-saham berkapitalisasi besar dan sangat likuid, LQ45 memiliki karakteristik yang relatif lebih stabil dalam menghadapi fluktuasi pasar jangka pendek, menjadikannya pilihan investasi yang menarik bagi banyak pihak.

Advertisements

: : Deretan Panjang Saham dengan Free Float di Bawah 15%, Bakal Dapat Notasi Khusus

Prospek pasar modal juga akan semakin cerah jika reformasi terkait free float dan transparansi dapat berjalan dengan baik. Abida optimistis bahwa langkah-langkah ini berpotensi besar untuk meningkatkan kepercayaan investor dalam jangka menengah, yang pada gilirannya akan mendukung pergerakan indeks ke depan. Ini adalah kabar baik bagi pertumbuhan pasar modal Indonesia secara berkelanjutan.

Pemerintah melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak tinggal diam. Mereka telah merencanakan penerapan batas minimal free float secara bertahap. Emiten yang belum memenuhi syarat tersebut kemungkinan besar akan melakukan aksi korporasi strategis, seperti rights issue atau penerbitan saham baru, untuk meningkatkan persentase free float mereka. Regulasi baru juga akan memperkenalkan penanda khusus, yang akan membantu investor menilai likuiditas dan risiko suatu saham dengan lebih transparan.

: : Manuver OJK-BEI Demi ‘MSCI Approved’: Rombak Free Float hingga Buat Satgas

Dalam kondisi sentimen pasar yang dinamis ini, saham-saham LQ45 yang paling menarik menurut Abida adalah emiten yang menunjukkan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan prospek pertumbuhan bisnis yang jelas. Selain saham-saham dengan free float rendah seperti BREN dan NCKL, sektor perbankan, konsumer besar, dan teknologi tetap menjadi fokus utama. Hal ini karena bisnis di sektor-sektor tersebut cenderung bersifat defensif atau stabil, menawarkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi.

Kendati demikian, investor tetap harus mewaspadai potensi volatilitas pada saham-saham dengan free float rendah. Meskipun ada risiko jangka pendek, prospek investasi untuk saham-saham ini masih dinilai positif dalam jangka menengah hingga panjang, asalkan didukung oleh fundamental yang kokoh dan strategi investasi yang terencana.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements