
Pemerintah China kini memperketat pengawasan terhadap investasi saham luar negeri menyusul lonjakan arus modal keluar ilegal yang signifikan. Otoritas Beijing mulai membidik platform perdagangan saham asing yang ditengarai membantu investor domestik melanggar aturan kontrol modal ketat yang selama ini berlaku di negara tersebut.
Langkah tegas ini diambil setelah volume hot money atau dana gelap yang keluar melalui jalur tidak resmi diperkirakan menyentuh angka fantastis sebesar USD 1,04 triliun sepanjang tahun lalu. Berdasarkan data Bloomberg Intelligence, angka ini merupakan rekor tertinggi sejak pengumpulan data dimulai pada tahun 2006. Pemerintah China menganggap praktik investasi lintas batas yang ilegal ini dapat mengancam stabilitas keuangan nasional serta melemahkan kendali terhadap nilai tukar mata uang yuan.
Sebagai wujud penindakan nyata, delapan lembaga pemerintah China meluncurkan operasi gabungan pada 22 Mei lalu. Operasi ini secara khusus menyasar broker asing yang beroperasi di daratan China tanpa memiliki izin resmi. Langkah ini menjadi peringatan keras bagi para penyedia layanan keuangan internasional yang masih mencoba menjangkau pasar domestik China secara ilegal.
“Otoritas melarang perusahaan-perusahaan tersebut melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan nasabah domestik, mulai dari kegiatan pemasaran, penyediaan layanan teknis, layanan pelanggan (customer service), hingga proses penyelesaian transaksi dana,” sebagaimana dilaporkan oleh Bloomberg pada Selasa (26/5).

Regulator Sekuritas China (CSRC) memimpin jalannya operasi besar ini dengan dukungan penuh dari Bank Sentral China (PBOC), regulator perbankan, serta otoritas internet dan teknologi informasi. Pemerintah tidak segan-segan mengancam akan memberikan hukuman berat bagi perusahaan yang terbukti masih melayani investor asal China melalui jalur ilegal.
Tiga broker besar yang menjadi sasaran langsung dalam kebijakan ini adalah Futu Holdings Ltd., Long Bridge Securities Ltd., dan Tiger Brokers. Ketiganya dijatuhi denda gabungan sebesar USD 330 juta karena kedapatan beroperasi tanpa lisensi resmi di wilayah China. Selain denda administratif, regulator juga menegaskan bahwa seluruh keuntungan yang diperoleh dari aktivitas ilegal tersebut akan disita oleh negara.
Kebijakan baru ini berdampak langsung pada nasabah yang sudah ada. Investor di China daratan yang telah memiliki akun di platform tersebut kini hanya diizinkan untuk melakukan penjualan aset dan penarikan dana. Mereka secara resmi dilarang membeli saham baru atau melakukan penyetoran dana tambahan. Lebih jauh lagi, pemerintah telah menginstruksikan agar seluruh situs web, aplikasi, dan server yang melayani investor China ditutup secara permanen dalam jangka waktu dua tahun ke depan.
Selama beberapa dekade, China memang dikenal menerapkan kontrol modal yang sangat ketat untuk menjaga cadangan devisa. Setiap individu hanya diperbolehkan membeli valuta asing maksimal USD 50.000 per tahun, dan dana tersebut secara hukum hanya diperuntukkan bagi keperluan non-investasi, seperti biaya pendidikan atau perjalanan ke luar negeri.
Untuk saluran investasi saham luar negeri yang sah, pemerintah China hanya menyediakan mekanisme resmi melalui program-program tertentu, seperti Southbound Stock Connect, Wealth Connect, dan Qualified Domestic Institutional Investor (QDII).
Modus yang Digunakan
Meskipun aturan sudah sangat ketat, para investor sering kali menemukan celah untuk memindahkan dana ke luar negeri. Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah dengan menyalahgunakan kuota pembelian valas tahunan untuk membeli saham asing melalui aplikasi perdagangan offshore. Selain itu, penggunaan jaringan bank bawah tanah juga marak terjadi, di mana transaksi dilakukan dengan mempertemukan pihak yang membutuhkan yuan di dalam negeri dengan pemilik dana valas di luar negeri, sehingga transaksi tersebut tidak terdeteksi oleh sistem perbankan resmi.
Metode lain yang kerap dipraktikkan adalah dengan membeli produk asuransi di Hong Kong menggunakan mata uang yuan. Setelah polis aktif, investor akan membatalkan polis tersebut untuk mendapatkan pengembalian dana (refund) dalam bentuk mata uang asing. Otoritas China menilai praktik-praktik ini tidak hanya menyulitkan pengawasan transaksi lintas batas, tetapi juga meningkatkan risiko pencucian uang dan penipuan investasi.
Pengetatan regulasi ini pun langsung memicu guncangan hebat di pasar modal. Saham Futu Holdings Ltd. dilaporkan anjlok hingga 28 persen di bursa New York sesaat setelah pengumuman kebijakan. Kondisi serupa dialami oleh induk Tiger Brokers yang nilainya merosot lebih dari seperempat. Berdasarkan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan pribadi pendiri Futu, Leaf Li, bahkan menguap sebesar USD 1,7 miliar hanya dalam waktu satu hari.
Tekanan jual juga merembet ke saham-saham perusahaan China yang melantai di Amerika Serikat melalui skema American Depositary Receipts (ADR). Emiten yang belum memiliki pencatatan saham ganda (dual-listing) di bursa Hong Kong dianggap sebagai pihak yang paling rentan, mengingat selama ini banyak investor China yang mengakses saham-saham tersebut melalui jalur ilegal yang kini mulai ditutup rapat oleh pemerintah.
Ringkasan
Pemerintah China memperketat pengawasan investasi saham luar negeri guna menekan arus modal keluar ilegal yang mencapai rekor USD 1,04 triliun pada tahun lalu. Delapan lembaga negara, termasuk bank sentral dan regulator sekuritas, meluncurkan operasi gabungan untuk menindak broker asing yang beroperasi tanpa izin resmi di daratan China. Langkah tegas ini diambil untuk menjaga stabilitas keuangan nasional serta memperkuat kendali terhadap nilai tukar mata uang yuan.
Broker besar seperti Futu Holdings dan Tiger Brokers telah dijatuhi denda ratusan juta dolar serta dilarang menerima setoran dana atau pembelian saham baru dari nasabah domestik. Investor yang sudah ada kini hanya diizinkan untuk melakukan penjualan aset dan penarikan dana melalui platform tersebut. Pemerintah juga menginstruksikan penutupan seluruh situs web dan aplikasi broker ilegal dalam jangka waktu dua tahun ke depan secara permanen.