
Dietplastik Indonesia sekali lagi melayangkan desakan kepada pemerintah, khususnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, agar segera menerapkan cukai biji plastik. Kebijakan ini dinilai krusial untuk memastikan bahwa beban dampak plastik tidak semata-mata ditanggung masyarakat sebagai konsumen, melainkan juga dipikul oleh industri hulu sebagai produsen utama.
Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira, dalam keterangan tertulisnya pada Selasa (30/9), menegaskan urgensi langkah ini. “Sama seperti minuman berperisa yang telah terbukti berdampak pada kesehatan, plastik juga menimbulkan beban kesehatan dan ekonomi yang sangat nyata,” ujar Tiza. Pernyataan ini menggarisbawahi parahnya dampak polusi plastik yang kerap diabaikan.
Menurut Tiza, penerapan cukai biji plastik bukan hanya berfungsi sebagai instrumen fiskal, melainkan juga sebagai alat ganda yang strategis. Pertama, untuk menekan laju produksi plastik virgin atau plastik baru. Kedua, untuk secara signifikan mengurangi risiko gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh polusi plastik yang masif.
Dengan perencanaan yang matang, lanjut Tiza, penerimaan dari cukai ini dapat dialokasikan kembali untuk mendukung berbagai program kesehatan publik yang vital. Selain itu, dana tersebut berpotensi menggerakkan inovasi dalam pengelolaan sampah rendah emisi, sehingga manfaatnya secara langsung dapat dirasakan kembali oleh masyarakat luas.
Baca juga:
- Indonesia Minta ASEAN Dukung Kesepakatan Global Atasi Polusi Plastik
Desakan yang Berulang
Upaya Dietplastik Indonesia dalam mendorong kebijakan cukai plastik bukanlah hal baru. Organisasi ini telah menggagas petisi serupa sejak 2018, yang kala itu berhasil mengumpulkan dukungan dari hampir 1,2 juta penandatangan. Respons positif mulai terlihat pada 2019 ketika Kementerian Keuangan menunjukkan rencana untuk memberlakukan cukai pada kantong plastik.
Namun, implementasi kebijakan cukai kantong plastik tersebut harus tertunda akibat Pandemi Covid-19. Tragisnya, rencana itu akhirnya resmi dihentikan pada Januari 2025, dengan alasan dianggap telah cukup ditangani oleh kebijakan non-fiskal berupa pelarangan kantong plastik di beberapa daerah. Hal ini tentu menjadi kemunduran dalam upaya pengendalian sampah plastik.
Menanggapi situasi ini, Nadya Mulya, penggagas petisi, menegaskan, “Sudah saatnya produsen lebih bertanggung jawab dalam proses produksinya, berinovasi mencari alternatif berkelanjutan, dan patuh pada prinsip extended producer responsibility (tanggung jawab produsen yang diperluas).” Desakan ini mencerminkan harapan agar industri mengambil peran aktif dalam mengatasi krisis plastik.
Dampak Nyata bagi Kesehatan Manusia
Laporan Lancet Countdown on Health and Plastic menyajikan data yang mengkhawatirkan: polusi plastik bertanggung jawab atas ratusan ribu kematian setiap tahunnya. Selain itu, dampak ekonomi dari beban penyakit yang ditimbulkan mencapai kerugian fantastis, yakni US$1,5 juta atau setara Rp25 miliar (dengan kurs Rp16.690/US$). Angka ini menunjukkan betapa besarnya biaya yang harus ditanggung akibat masalah plastik.
Bahaya plastik tidak hanya terbatas pada penumpukan di tempat sampah. Mikroplastik dan bahan kimia berbahaya yang dilepaskan oleh produk plastik memiliki kemampuan untuk meresap ke dalam udara yang kita hirup, mencemari air yang kita minum, bahkan masuk dan terakumulasi di dalam tubuh manusia. Ancaman ini bersifat global dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan.
Laporan yang sama dengan jelas menguraikan bahwa intervensi pada sektor hulu, yaitu pada tahap produksi dan desain produk, merupakan strategi paling efektif untuk meredakan krisis plastik yang semakin parah. Fokus pada pengurangan produksi biji plastik dan inovasi bahan berkelanjutan adalah kunci utama.
Dengan menerapkan rekomendasi kebijakan cukai biji plastik ini, Dietplastik Indonesia percaya bahwa Indonesia memiliki peluang emas untuk menunjukkan kepemimpinan global yang kuat dalam penanganan polusi plastik. Langkah ini tidak hanya akan berkontribusi pada perlindungan lingkungan, tetapi yang lebih penting, akan safeguard kesehatan seluruh warga negara.
Ringkasan
Dietplastik Indonesia mendesak Menteri Keuangan untuk menerapkan cukai biji plastik guna mengurangi dampak negatif plastik terhadap kesehatan dan ekonomi. Direktur Eksekutif Dietplastik Indonesia, Tiza Mafira, menekankan bahwa plastik menimbulkan beban kesehatan dan ekonomi yang nyata, sama seperti minuman berperisa. Cukai ini diharapkan dapat menekan produksi plastik virgin dan mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat polusi plastik.
Penerapan cukai biji plastik diharapkan dapat mendukung program kesehatan publik dan mendorong inovasi dalam pengelolaan sampah rendah emisi. Dietplastik Indonesia telah mengadvokasi kebijakan ini sejak 2018, namun implementasi cukai kantong plastik tertunda dan akhirnya dihentikan. Mereka berpendapat bahwa produsen harus bertanggung jawab dalam proses produksi dan mencari alternatif berkelanjutan, mengingat polusi plastik bertanggung jawab atas ratusan ribu kematian dan kerugian ekonomi yang signifikan.