Danantara yakin PT Timas (TINS) bisa berbenah tanpa suntikan dana

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyampaikan pandangan tegas bahwa PT Timah Tbk (TINS) memiliki kapasitas untuk melakukan pembenahan internal tanpa perlu injeksi modal langsung, berbeda dengan pendekatan yang diterapkan pada dua emiten BUMN lain, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Febriany Eddy, Managing Director Business 3 Danantara Indonesia, yang akrab disapa Feby, menegaskan bahwa TINS masih memiliki ruang luas untuk restrukturisasi secara mandiri, atau melalui dukungan kuat dari induk holding-nya, MIND ID. Baginya, penyertaan modal tidak selalu harus berasal dari Danantara.

Advertisements

Pernyataan tersebut disampaikan Feby dalam acara bertajuk “Danantara dan Transformasi BUMN Menuju Korporasi Kelas Dunia” di Jakarta, Rabu (14/1). Feby menjelaskan filosofi di balik pendekatan ini: “Kalau perusahaan itu mampu, silakan berbenah secara mandiri. Kalau tidak, masih ada holding.” Ia menekankan bahwa PT Timah, sebagai bagian dari klaster pertambangan, berada di bawah kendali penuh MIND ID. Oleh karena itu, evaluasi utama terkait kebutuhan pendanaan TINS seharusnya dilakukan di tingkat holding. “Apakah dari Danantara langsung? Saat ini, belum, karena kemungkinan dia masih sanggup sendiri dan juga sanggup dari sisi holding,” lanjut Feby, menggarisbawahi bahwa BPI Danantara akan menjadi opsi terakhir.

Meski demikian, Feby tidak menampik adanya berbagai tantangan signifikan yang tengah membebani TINS, termasuk maraknya praktik penambangan ilegal dan permasalahan perizinan yang tumpang tindih, yang secara langsung menekan kinerja perusahaan. Isu-isu ini bahkan telah menarik perhatian serius Presiden Prabowo Subianto. Feby menyuarakan optimisme, “Sekarang mau dirapikan, dibersihkan, dan dikonsolidasikan. Saya rasa, masa depannya sangat positif. PT Timah itu berperan besar terhadap suplai timah dunia.” Visi pembenahan ini diharapkan akan mengembalikan TINS pada jalur yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Menguatkan kembali posisinya, Feby menegaskan bahwa Danantara berfungsi sebagai “solusi terakhir” atau last resort dalam skema pembiayaan. Bantuan tersebut hanya akan dipertimbangkan jika TINS benar-benar tidak lagi mampu melakukan pembenahan baik secara internal maupun dengan dukungan MIND ID. Namun, Feby juga membuka pintu, menyatakan bahwa jika unit Danantara Investment Management mengidentifikasi adanya peluang komersial yang menjanjikan dalam bisnis PT Timah, maka potensi investasi dari Danantara tetap terbuka lebar.

Advertisements

Di sisi lain, TINS sendiri telah bergerak proaktif dengan menyiapkan proposal bisnis untuk mengajukan suntikan dana kepada Danantara. Proposal ini secara spesifik ditujukan untuk mendukung anak usahanya di sektor hilirisasi timah, PT Timah Industri. Berdasarkan paparan publik yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen TINS memang mengakui belum ada pernyataan resmi dari Danantara mengenai investasi khusus untuk hilirisasi timah. Namun, mereka mengungkap adanya komitmen kuat dari Danantara untuk mendukung proses hilirisasi, yang disampaikan dalam beberapa pertemuan guna memperkuat sektor hulu bisnis timah. “Saya sempat mendengar langsung dalam beberapa rapat dengan Rosan,” ujar manajemen TINS dalam keterbukeran informasi yang dikutip pada November 2025. “Oleh karena itu, kami menyiapkan proposal bisnis dari PT Timah Industri agar dapat dipertimbangkan untuk memperoleh suntikan investasi dari Danantara.”

Manajemen TINS lebih lanjut menjelaskan bahwa upaya strategis hilirisasi timah bukanlah hal baru, melainkan telah bergulir sejak tahun 1975. Langkah ini semakin diperkuat pada tahun 1998 dengan pembentukan PT Timah Industri sebagai entitas khusus hilirisasi, yang berlokasi strategis di Cilegon. Ini menunjukkan komitmen jangka panjang PT Timah dalam mengembangkan nilai tambah produk timah.

Advertisements