Nama mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menjadi pusat perhatian publik internasional. Hal ini menyusul rilis jutaan dokumen yang terkait dengan mendiang pelaku kejahatan seksual terkemuka, Jeffrey Epstein, sebuah pengungkapan yang mengguncang dunia.
Arsip masif ini, yang dikumpulkan selama bertahun-tahun penyelidikan intensif oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ), kembali memicu perdebatan luas. Sejak kematian Epstein pada tahun 2019, rilis dokumen ini secara efektif membuka kembali pembahasan mengenai jaringan sosial Epstein yang mencakup berbagai tokoh berpengaruh, termasuk nama besar seperti Donald Trump.
Penyebutan Nama Trump dalam Dokumen Epstein
Penelusuran mendalam terhadap dokumen Epstein mengungkapkan bahwa nama Donald Trump muncul secara masif. Berdasarkan pencarian awal, nama Trump disebutkan lebih dari 1.800 kali. Sementara itu, investigasi lebih luas yang dilakukan The New York Times mengidentifikasi lebih dari 5.300 berkas yang mereferensikan Trump beserta istilah terkait lainnya. Lebih jauh, secara keseluruhan, ditemukan lebih dari 38.000 referensi yang tidak hanya mencakup Trump, tetapi juga istrinya, klub mewah Mar-a-Lago di Florida, serta berbagai frasa dan kata kunci yang relevan. Referensi ini tersebar dalam beragam format, mulai dari email, dokumen pemerintah, rekaman video, hingga catatan penyelidikan lain.
Volume arsip ini sangatlah monumental, mencakup sekitar tiga juta halaman yang dikumpulkan oleh DOJ. Skala rilis yang sedemikian besar secara inheren menjadikan pemahaman penuh atas isi dokumen mustahil dalam waktu singkat. Otoritas Amerika Serikat sendiri mengakui bahwa proses penelaahan arsip memerlukan durasi yang panjang, mengingat keragaman jenis dokumen yang dirilis. Ini termasuk laporan FBI, transkrip wawancara, dan materi publik yang telah dikoleksi Epstein selama bertahun-tahun.
Menariknya, sebagian besar berkas yang memuat nama Donald Trump bersumber dari artikel berita dan materi publik yang masuk ke kotak masuk email Epstein. Dokumen-dokumen ini didominasi dari awal tahun 2000-an, periode ketika Trump dan Epstein masih aktif dalam lingkaran sosial yang sama. Pada masa itu, Epstein dikenal giat membangun dan memelihara relasi dengan kalangan elite politik, bisnis, dan selebritas di New York serta Florida, termasuk dengan rajin mengumpulkan kliping berita dan referensi tentang tokoh-tokoh berpengaruh.
Rilis terbaru ini juga semakin memperkuat laporan-laporan sebelumnya mengenai kedekatan sosial antara Trump dan Epstein di masa lalu. Arsip tersebut menyajikan gambaran tentang bagaimana Epstein menyimpan foto-foto bersama tokoh-tokoh penting yang terpajang di kediaman mewahnya di Manhattan. Selain itu, dokumen ini mencakup catatan wawancara yang dilakukan penyelidik federal dengan para korban Jeffrey Epstein. Sebuah catatan tulisan tangan dari September 2019, misalnya, menyebutkan seorang korban mengingat pernah dibawa ke klub Mar-a-Lago untuk bertemu Donald Trump. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa catatan tersebut tidak memuat tuduhan pelanggaran hukum dan tidak menunjukkan adanya tindakan melanggar hukum oleh Trump. Informasi ini disusun berdasarkan ingatan pribadi korban dan tidak pernah berkembang menjadi dakwaan atau proses hukum lanjutan.
Waktu rilis dokumen ini juga menjadi sorotan, karena terjadi kurang dari 48 jam sebelum Wakil Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, menyampaikan pernyataan resmi terkait penyelidikan dugaan pelanggaran seksual yang menyeret nama Donald Trump. Dalam wawancara pada Minggu, 1 Februari 2026, Blanche secara tegas menyatakan bahwa Departemen Kehakiman tidak menemukan informasi kredibel yang dapat dijadikan dasar untuk penyelidikan lebih lanjut terhadap Trump. Menurutnya, semua tuduhan yang telah diperiksa tidak memenuhi ambang bukti yang diperlukan untuk ditindaklanjuti secara hukum.
Kontroversi seputar kasus Jeffrey Epstein memang terus membayangi Donald Trump sepanjang tahun terakhir, terutama setelah janji kampanye sekutu Trump dalam pemilu 2024 untuk membuka keseluruhan berkas Epstein tidak sepenuhnya terwujud. Kondisi ini memicu spekulasi publik yang luas bahwa dokumen-dokumen tersebut menyimpan informasi sensitif yang berpotensi merugikan Trump atau lingkaran politiknya. Pengungkapan arsip ini juga menjadi pengingat signifikan bahwa Trump sempat menolak rilis penuh berkas Epstein sebelum Kongres akhirnya mengesahkan undang-undang yang mewajibkan DOJ untuk membuka seluruh arsip tersebut kepada publik.
Donald Trump Tegas Membantah Seluruh Tuduhan
Menyikapi kembali sorotan tajam terhadap namanya, Donald Trump dengan tegas membantah seluruh tuduhan yang muncul. Dalam sebuah pernyataan kepada wartawan, Trump bahkan menegaskan bahwa dokumen-dokumen yang baru dirilis tersebut justru membebaskannya dari berbagai spekulasi negatif yang beredar. Ia mengklaim bahwa arsip tersebut mengonfirmasi tidak adanya keterlibatannya dalam pelanggaran hukum yang dilakukan Epstein.
Seorang juru bicara Gedung Putih menolak untuk memberikan komentar tambahan mengenai masalah ini, merujuk langsung pada pernyataan yang telah disampaikan oleh Trump. Hingga saat ini, tidak ada bukti baru yang kredibel dan kuat yang menunjukkan bahwa Donald Trump telah melakukan pelanggaran hukum dalam kaitannya dengan kasus Jeffrey Epstein.