Dunia kehilangan produksi minyak Rp 860 T akibat perang, efeknya bertahun-tahun

Konflik berkepanjangan di Iran telah memicu guncangan serius di pasar energi global, menyebabkan kerugian produksi minyak mentah dunia yang diperkirakan melampaui US$ 50 miliar atau setara Rp 860 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.188 per dolar AS) dalam kurun waktu kurang dari 50 hari. Para analis pasar dan perhitungan Reuters secara konsisten memproyeksikan bahwa dampak destruktif dari krisis ini tidak akan mereda dalam waktu singkat, melainkan akan terus terasa hingga berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun ke depan.

Advertisements

Puncak ketegangan terjadi pada Sabtu (18/4) ketika Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara mengejutkan kembali menutup Selat Hormuz, mengumumkan bahwa setiap kapal yang berani melintasi jalur perairan strategis tersebut akan dianggap sebagai target. Keputusan drastis ini datang kurang dari 24 jam setelah jalur pelayaran vital itu sempat dibuka, menimbulkan kekhawatiran global. IRGC menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz akan tetap diberlakukan hingga Amerika Serikat mencabut blokade angkatan laut yang diberlakukan terhadap kapal dan pelabuhan Iran, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap perjanjian gencatan senjata yang berlaku dalam konflik AS-Israel-Iran.

Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari, pasar global telah kehilangan lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat, menandai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern, demikian data dari Kpler. Angka yang fantastis ini menggambarkan skala krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut Iain Mowat, analis utama di Wood Mackenzie, jumlah 500 juta barel minyak yang lenyap dari pasaran ini memiliki implikasi yang sangat luas: setara dengan kebutuhan bahan bakar untuk seluruh penerbangan global selama 10 pekan, menghentikan seluruh perjalanan darat kendaraan di seluruh dunia selama 11 hari, atau melumpuhkan pasokan minyak untuk perekonomian global selama lima hari penuh. Lebih jauh lagi, perkiraan Reuters menunjukkan bahwa volume ini setara dengan hampir satu bulan konsumsi minyak di Amerika Serikat, atau bahkan lebih dari satu bulan untuk seluruh Eropa. Dampaknya semakin terasa ketika disetarakan dengan konsumsi bahan bakar militer AS selama enam tahun, atau cukup untuk mengoperasikan industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.

Apa yang terjadi?

Advertisements

Krisis ini secara langsung menghantam negara-negara Teluk Arab, di mana mereka mengalami kerugian produksi minyak mentah sekitar 8 juta barel per hari sepanjang Maret. Angka ini setara dengan gabungan total produksi dari dua raksasa minyak dunia, Exxon Mobil (XOM.N) dan Chevron (CVX.N), menunjukkan betapa parahnya dampak langsung pada kapasitas produksi regional. Penurunan tajam juga terlihat pada ekspor bahan bakar jet dari negara-negara kunci seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman. Volume ekspor anjlok dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi hanya 4,1 juta barel untuk Maret dan April, menurut data Kpler. Kerugian ekspor yang signifikan ini diperkirakan cukup untuk menggerakkan sekitar 20.000 penerbangan pulang pergi antara bandara JFK New York dan London Heathrow. Johannes Rauball, analis minyak mentah senior di Kpler, menggarisbawahi bahwa volume yang hilang tersebut secara kumulatif merepresentasikan kerugian pendapatan sekitar US$ 50 miliar, dengan asumsi harga minyak mentah rata-rata sekitar US$ 100 per barel sejak dimulainya konflik. Angka ini bukanlah jumlah yang kecil; setara dengan pengurangan 1% dalam produk domestik bruto tahunan Jerman, atau bahkan keseluruhan PDB negara-negara berukuran kecil seperti Latvia atau Estonia.

Pemulihan Butuh Bertahun-tahun

Meskipun ada pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran Araqchi bahwa Selat Hormuz telah dibuka kembali, harapan akan pemulihan cepat dalam produksi dan aliran minyak nampaknya masih jauh dari kenyataan. Proses pemulihan diperkirakan akan berjalan sangat lambat. Data menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah darat global telah menyusut sekitar 45 juta barel selama April. Sejak akhir Maret, gangguan produksi secara kumulatif telah mencapai sekitar 12 juta barel per hari, memperparah defisit pasokan yang ada.

Prospek pemulihan di sektor hulu pun tidak kalah menantang. Ladang minyak mentah di Kuwait dan Irak diperkirakan membutuhkan waktu antara empat hingga lima bulan untuk kembali beroperasi pada tingkat normal, sebuah realitas yang menurut Rauball akan memperpanjang kondisi kekurangan stok hingga musim panas mendatang. Tak hanya itu, kerusakan parah pada kapasitas penyulingan dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar semakin menambah kompleksitas produksi minyak di kawasan tersebut. Perbaikan infrastruktur vital ini diperkirakan akan memakan waktu hingga bertahun-tahun, mengindikasikan bahwa krisis energi ini akan berdampak jangka panjang dan mendalam.

Advertisements