Ekonomi Indonesia menunjukkan kinerja impresif pada kuartal keempat 2025, mencatat pertumbuhan sebesar 5,39% secara tahunan. Angka ini menandai pertumbuhan kuartalan tertinggi dalam tiga tahun terakhir, utamanya didorong oleh lonjakan aktivitas belanja masyarakat di penghujung tahun. Konsumsi rumah tangga, sebagai penyumbang terbesar lebih dari separuh pertumbuhan ekonomi, melonjak 5,11% secara tahunan pada tiga bulan terakhir 2025. Capaian ini melampaui pertumbuhan pada kuartal sebelumnya sebesar 4,89% dan kuartal keempat 2024 yang tercatat 4,98% secara tahunan.
Pencapaian kuat pada konsumsi rumah tangga ini tidak lepas dari upaya kolaboratif pemerintah dan ratusan peritel dalam menggelar program diskon akhir tahun. Berbagai mal turut meramaikan dengan menawarkan potongan harga hingga 80% pada bulan terakhir 2025, semakin memicu gairah belanja masyarakat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa pendorong utama pertumbuhan ekonomi ini adalah aktivitas domestik yang bergeliat.
Kenaikan signifikan pada konsumsi rumah tangga di pengujung tahun tersebut jelas tercermin dari pertumbuhan pesat di berbagai lapangan usaha. Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum misalnya, tumbuh 7,15% secara tahunan, menggambarkan ramainya kegiatan makan di luar rumah dan menginap di hotel yang dilakukan masyarakat. Tak hanya itu, BPS juga mencatat sektor jasa lainnya, yang meliputi aktivitas rekreasi, mengalami peningkatan 8,71% secara tahunan dalam periode tiga bulan terakhir 2025.
Namun, sektor yang mencatatkan kenaikan tertinggi pada kuartal keempat 2025 adalah transportasi dan pergudangan, dengan pertumbuhan mencapai 8,95% secara tahunan. Lonjakan ini didukung oleh mobilitas masyarakat yang tinggi selama momentum libur Natal dan Tahun Baru, diperkuat dengan adanya diskon tarif pesawat dari pemerintah. Secara geografis, pertumbuhan ekonomi yang solid ini turut ditopang oleh kontribusi signifikan dari wilayah Jawa, serta Bali dan Nusa Tenggara.
Belanja Masyarakat Bawah hingga Atas Terdongkrak
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyatakan bahwa data pertumbuhan ekonomi yang dirilis BPS tersebut tidak mengejutkan. Berdasarkan data internal BCA, belanja konsumen di akhir tahun lalu sangat kuat, meliputi kelompok masyarakat berpendapatan rendah maupun tinggi. Menurut David, masyarakat berpendapatan rendah terbantu oleh penyaluran bantuan sosial, sementara kelompok atas memiliki daya beli yang kuat berkat hasil investasi yang cemerlang. “Obligasi dan pasar saham sedang bagus sehingga mereka merasa kaya dan belanja lebih besar,” ujarnya, sembari menyoroti kenaikan IHSG sebesar 22% sepanjang tahun 2025, meskipun kini menghadapi gejolak. Kinerja ekspor juga mencatat capaian tinggi karena antisipasi pengusaha terhadap kebijakan tarif Amerika Serikat, meski diperkirakan melemah pada kuartal pertama tahun ini.
Sementara itu, Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman menilai realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal keempat ini melampaui analisis banyak ekonom. Ia menambahkan, konsumsi yang kuat memang tercermin dari transaksi daring melalui e-retail dan marketplace, serta penyaluran bantuan sosial tunai yang efektif. Faisal juga mencatat adanya peningkatan konsumsi lembaga nirlaba yang melayani rumah tangga (NPISH), seiring dengan meningkatnya aktivitas berbagai organisasi sosial dalam penanggulangan bencana di Sumatera.
Namun, dalam riset laporan kuartal I 2026, LPEM FEB Universitas Indonesia menawarkan perspektif yang lebih hati-hati. Mereka menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 secara fundamental masih rapuh. Kinerja ekonomi tahun lalu, menurut mereka, lebih banyak terdorong oleh paket stimulus pemerintah dan faktor musiman yang terjadi pada akhir tahun, mengindikasikan perlunya fondasi yang lebih kokoh di masa mendatang.