Emiten Boy Thohir (AADI) bakal buyback saham, siapkan kocek Rp 5 triliun

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), entitas yang terafiliasi dengan konglomerat terkemuka Garibaldi Thohir atau Boy Thohir, tengah merencanakan aksi korporasi strategis berupa pembelian kembali saham (buyback). Untuk memuluskan langkah ini, perseroan telah menyiapkan alokasi dana yang tidak kurang dari Rp 5 triliun.

Advertisements

Manajemen AADI secara detail menjelaskan bahwa total nilai nominal seluruh saham yang akan dibeli kembali tidak akan melampaui 10% dari jumlah modal ditempatkan. Selain itu, aksi ini dipastikan tidak akan mengurangi kekayaan bersih perseroan hingga menjadi lebih kecil dari total modal ditempatkan ditambah dengan cadangan wajib yang telah disisihkan, memastikan stabilitas finansial perusahaan tetap terjaga.

Rencana buyback ini dijadwalkan akan dimulai pada 23 Mei 2026 dan dapat berlangsung secara bertahap dalam jangka waktu maksimal 12 bulan. Manajemen AADI mengonfirmasi, “Pembelian kembali saham perseroan akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) secara bertahap dalam jangka waktu paling lama 12 bulan sejak diperolehnya persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS),” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi yang dikutip pada Kamis (16/4).

Langkah ambisius ini diharapkan manajemen dapat membawa dampak positif. Mereka memproyeksikan aksi buyback akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham AADI di bursa, sekaligus mencerminkan nilai fundamental perseroan dengan lebih akurat di mata pasar. Tidak hanya itu, perseroan juga berharap langkah ini akan memberikan tingkat pengembalian yang lebih baik bagi para pemegang saham serta memperkuat tingkat kepercayaan investor terhadap kinerja dan prospek perusahaan.

Advertisements

Dengan asumsi alokasi dana buyback sebesar Rp 5 triliun, yang sudah termasuk biaya transaksi namun belum termasuk komisi perantara pedagang efek dan biaya terkait lainnya, laba per saham (earning per share/EPS) AADI diproyeksikan akan meningkat dari US$ 0,09 menjadi US$ 0,1.

AADI Lego Aset Batu Bara Kokas

Bersamaan dengan rencana buyback, AADI juga terlibat dalam transaksi signifikan lainnya. Sekretaris AADI, Ray Aryaputra, mengungkapkan bahwa Yancoal Australia Ltd. berencana mengakuisisi 100% saham Kestrel Coal Group. Dalam skema transaksi ini, AADI berpotensi menerima dana dalam dua tahap pembayaran yang substansial.

Tahap pertama adalah pembayaran tunai di muka (upfront cash consideration) senilai US$ 1,85 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 31,6 triliun, dengan asumsi kurs Rp 17.100 per dolar AS. Ray menambahkan bahwa ada potensi pembayaran tambahan bersyarat (contingent cash consideration) hingga US$ 550 juta, atau sekitar Rp 9,4 triliun, yang akan dibayarkan dalam kurun waktu lima tahun. Namun, pembayaran tambahan ini hanya akan terealisasi jika rata-rata harga harian indeks Platts Premium Low Vol Hard Coking Coal FOB Australia melampaui US$ 225 per ton.

“Tujuan rencana transaksi untuk mendukung pelaksanaan strategi bisnis dan investasi AADI,” demikian penjelasan Ray dalam keterbukaan informasi di BEI pada Rabu (15/4).

Menanggapi transaksi ini, Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto, menilai bahwa total potensi nilai transaksi keseluruhan bisa mencapai sekitar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 41 triliun. Namun, ia menekankan bahwa potensi ini sangat bergantung pada pergerakan harga batu bara kokas global dalam beberapa tahun mendatang.

“Dengan memperhitungkan porsi kepemilikan 47,99% saham di Kestrel Coal Group, transaksi ini mengimplikasikan bahwa AADI akan mendapatkan dana hingga US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 20,5 triliun,” demikian rilis Stockbit Sekuritas pada Rabu (15/4).

Advertisements