
Danantara, sebagai inisiator proyek pengelolaan sampah yang ambisius, menargetkan percepatan pembangunan empat fasilitas Waste to Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Pembangunan proyek-proyek vital ini direncanakan akan dimulai paling lambat pada Juli 2026, berlokasi di empat daerah strategis: Bekasi, Denpasar, Yogyakarta, dan Bogor. Inisiatif ini merupakan langkah konkret dalam menjawab tantangan pengelolaan limbah perkotaan sekaligus mendukung kebutuhan energi bersih nasional.
Sejauh ini, Danantara telah berhasil menunjuk operator untuk dua proyek WtE yang paling awal. Melalui proses lelang yang kompetitif, Wangneng Environment Co., Ltd. ditetapkan sebagai operator untuk proyek WtE di Bekasi, sementara Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. akan menggarap proyek serupa di Denpasar. Kedua perusahaan ini merupakan entitas global yang dikenal dengan keahliannya dalam bidang teknologi lingkungan dan energi.
Sebagai bagian dari struktur kemitraan, Danantara dikabarkan akan segera mendirikan perusahaan patungan bersama pemerintah daerah setempat dan operator yang telah ditunjuk. Dalam skema kepemilikan saham, Danantara bersama pemerintah daerah akan memiliki 30 persen saham, sementara operator proyek akan memegang mayoritas dengan 70 persen saham. Model kolaborasi ini dirancang untuk memastikan integrasi yang kuat antara kepentingan publik dan keahlian swasta.
Menariknya, baik Wangneng Environment, pemenang tender WtE Bekasi, maupun Zhejiang Weiming Environment, pemenang tender WtE Denpasar, adalah perusahaan yang tercatat di bursa saham Tiongkok. Dari perspektif kekuatan finansial, Zhejiang Weiming Environment menunjukkan aset yang substansial, mencapai hampir 30 miliar yuan atau setara dengan sekitar Rp 66 triliun. Angka ini lebih besar dibandingkan dengan aset Wangneng Environment yang sebesar 14,3 miliar yuan, atau sekitar Rp 31,4 triliun, menyoroti kapasitas finansial yang signifikan dari kedua mitra strategis ini.
Lantas, bagaimana profil dan pengalaman bisnis dari kedua perusahaan operator WtE yang akan berkontribusi pada solusi energi dan lingkungan di Indonesia ini?
Profil Pemenang Proyek WtE di Bekasi dan Bali
1. Operator WtE Bekasi: Wangneng Environment Co., Ltd.
Berdiri sejak tahun 2012 dengan kantor pusat di Huzhou, Zhejiang, Wangneng Environment Co., Ltd. merupakan perusahaan yang memiliki spektrum bisnis luas. Layanan mereka mencakup pemanfaatan limbah dapur, pengolahan air limbah, pengolahan lumpur, hingga daur ulang karet. Perusahaan ini mengelola 98 entitas, termasuk lima anak perusahaan yang beroperasi di kancah internasional, tersebar di Thailand, Kamboja, Australia, dan Singapura, menunjukkan jejak global yang kuat dalam sektor lingkungan.
Dalam segmen Waste to Energy (WtE), Wangneng Environment memiliki spesialisasi dalam mengonversi limbah, terutama limbah padat, menjadi energi listrik atau panas. Konversi ini dilakukan melalui berbagai proses mutakhir seperti pembakaran, gasifikasi, atau bioteknologi. Pengalaman perusahaan dalam proyek WtE melibatkan pembangunan dan instalasi pabrik pengolahan limbah yang efisien.
Wangneng mengklaim kapasitas produksi 3,04 miliar kWh listrik bersih setiap tahunnya. Output energi yang masif ini, jika dibandingkan dengan rata-rata konsumsi listrik rumah tangga kecil dan menengah di Indonesia, mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 2,5 juta rumah per tahun, menggarisbawahi potensi kontribusi mereka terhadap kemandirian energi dan lingkungan yang lebih bersih.
Pasca-kemenangan tender di Bekasi, perusahaan ini mengumumkan rencana untuk membangun fasilitas pembangkit listrik pembakaran limbah. Fasilitas tersebut akan dilengkapi dengan tungku kisi modern yang dirancang untuk mengolah sekitar 1.500 ton sampah setiap hari. Proyek ini diperkirakan akan menempuh masa konstruksi selama dua tahun, dengan masa operasional yang direncanakan mencapai 30 tahun, menandakan komitmen jangka panjang dalam pengelolaan limbah.
Untuk pelaksanaan proyek ini, Wangneng telah membentuk sebuah konsorsium bernama Wangneng Adyawinsa Energy. Konsorsium ini merupakan hasil kemitraan strategis dengan perusahaan lokal terkemuka, PT Adyawinsa Electrical and Power, yang membawa pengalaman dan pemahaman pasar domestik.
2. Operator WtE Denpasar: Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd.
Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. bukanlah nama baru dalam lanskap industri Indonesia. Anak usahanya, Weiming Equipment, sebelumnya telah menandatangani kontrak penyediaan peralatan insinerator WtE dengan perusahaan Indonesia, Shanghai Dingxin Investment/Qingshan Park, menandai kolaborasi penting dalam ekspor teknologi lingkungan.
Sebagai salah satu pemain utama dalam teknologi dan operasi WtE di Tiongkok, Weiming Environment menawarkan solusi yang terintegrasi. Bisnis WtE mereka mencakup seluruh spektrum, mulai dari desain, investasi, pembangunan, dan operasi fasilitas WtE, hingga manufaktur dan pemasangan peralatan insinerator dan tenaga WtE. Mereka juga ahli dalam pengolahan sampah padat perkotaan yang menghasilkan listrik.
Pada tahun 2023, operasi Weiming Environment berhasil menghasilkan total sekitar 3,85 miliar kWh listrik, mayoritas berasal dari pembangkit WtE mereka. Perusahaan ini juga menunjukkan minat serius terhadap pasar Indonesia, terbukti dengan tawaran kerja sama investasi senilai sekitar US$225 juta atau setara Rp 3,78 triliun kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk pengelolaan sampah dan proyek BOO (Build, Own, Operate) WtE. Selain itu, mereka pernah menjajaki penggunaan teknologi insinerasi di calon Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Cirebon Raya, mengindikasikan prospek kerja sama yang lebih luas.
Pasca-kemenangan tender di Denpasar, Zhejiang Weiming Environment menyatakan komitmennya untuk membangun fasilitas pembangkit listrik pembakaran limbah yang akan menggunakan tungku kisi. Fasilitas ini dirancang untuk memiliki kapasitas pengolahan sekitar 1.500 ton sampah per hari. Untuk memastikan kelancaran proyek, perusahaan telah membentuk konsorsium dengan mitra lokal bernama Konsorsium Weiming Nusantara Energy Alliance, memperkuat kapabilitas dan adaptasi terhadap kondisi pasar domestik.