Erdogan Serukan Persatuan Islam di Tengah Perang Iran Baik Syiah dan Sunni

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengajak umat Islam bersatu dan mempererat hubungan antar negara di kawasan Timur Tengah. Pernyataan Erdogan itu juga tanggapan atas perang yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Advertisements

Turki memandang masyarakat di kawasan sebagai bagian dari komunitas yang sama tanpa membedakan latar belakang ras, agama, bahasa, maupun asal-usul.

“Kami menolak pembedaan berdasarkan ras, sekte, agama, bahasa, atau asal-usul. Kami tidak memiliki agama yang disebut ‘Islam Sunni’ atau ‘Islam Syiah.’ Kami hanya memiliki satu agama, yaitu Islam,” kata Erdogan, sebagaimana diberitakan oleh Kantor Berita Pemerintah Turki, Anadolu, pada Rabu (11/3).

Dalam pidatonya, Erdogan juga menyinggung sejumlah tokoh penting dalam sejarah Islam yang ia sebut sebagai warisan bersama umat. Ia menggarisbawahi bahwa figur-figur tersebut tidak boleh dipersempit dalam batas identitas tertentu. Erdogan menyebut nama Ali bin Abi Talib, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan sebagai tokoh yang menjadi milik seluruh umat Islam.

Advertisements

Menurutnya, ketiga sahabat Nabi tersebut merupakan bagian dari sejarah bersama yang harus dihormati oleh seluruh komunitas Muslim. Ia juga menyebut cucu Nabi Muhammad, Hasan bin Ali dan Husain bin Ali, serta istri Nabi Aisyah binti Abu Bakar dan Zainab binti Ali, sebagai tokoh yang dihormati bersama oleh umat Islam tanpa memandang perbedaan aliran.

Waki Kota Istanbul 1994-1998 itu mengatakan bahwa Turki berada di pihak perdamaian dalam menyikapi krisis Iran. Ia menguraikan sikap Tukri selalu menempuh jalur damai dibandingkan konflik dalam menghadapi ketegangan di kawasan.

“Turki berdiri untuk diplomasi, bukan konflik. Turki berpihak pada perdamaian dan stabilitas, bukan kekacauan dan gejolak. Kami mengedepankan rekonsiliasi, bukan permusuhan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah Turki tengah melakukan berbagai upaya diplomatik untuk mendorong gencatan senjata dalam Perang Iran. Erdogan sebelumnya juga telah melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada awal pekan ini. Keduanya membahas perkembangan terbaru di kawasan, termasuk insiden pencegatan rudal yang mengarah ke wilayah Turki.

Dalam percakapan tersebut, Erdogan menyampaikan adanya pelanggaran wilayah udara di kedaulatan Turki. Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki menyatakan, percakapan telepon itu berlangsung atas permintaan Pezeshkan di tengah meningkatnya ketegangan regional.

Pembicaraan tersebut terjadi setelah Kementerian Pertahanan Turki menyampaikan sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari Iran dan memasuki wilayah udara Turki. Rudal itu dapat dicegat oleh sistem pertahanan udara dan rudal milik NATO yang dikerahkan di kawasan Mediterania Timur. 

Advertisements